To Learn and Inspiring

Pengunjung

Ketika Penipuan via SMS Belum Berakhir

Gambar: DuitPintar Blog
Kabar seputar penipuan yang terjadi lewat short message service (SMS) sejatinya bukanlah kabar baru.  Sayangnya, masih saja terus ada korban baru yang terus berjatuhan akibat aksi pelaku kriminal yang hanya menggunakan SMS sebagai saluran mereka menjalankan aksi penipuan.

Beberapa tahun lalu, seorang anak tetangga malah nekat berutang ke kios penjualan pulsa dekat rumahnya karena modus pelaku kriminal penipuan tersebut. Anak ini berpikir, dengan hadiah yang ditawarkan, tak hanya dia dapat dengan mudah membayar utang pulsa yang dikirimkan ke pelaku penipuan, tapi juga ia sudah membayangkan akan dapat memberikan surprise kepada orangtuanya.

Anak tetangga ini memang sudah memasuki usia remaja, namun kurangnya informasi tentang modus penipuan sehingga terkecoh dan lantas menjadi korban. Sayangnya lagi, akhirnya utang pulsa yang diyakini remaja tersebut dapat dibayar dengan “uang hadiah”, justru menjadi beban orangtuanya, dengan nominal nyaris 2,5 juta.

Gelagat tidak beres itu sendiri baru tercium setelah kecurigaan penjual pulsa tersebut memuncak. “Ada apa kok anak ini memesan pulsa terlalu banyak?” hingga meminta dibayar saat itu juga untuk menguji tujuan pengiriman pulsa dilakukannya. Selain, pemilik kios pulsa itu pun menghubungi orangtua anak ini, dan menceritakan yang terjadi.

Dari sanalah diketahui, anak tersebut tergiur karena di-SMS akan mendapatkan hadiah senilai 50 juta karena adanya undian dan nomor selulernya terpilih sebagai pemenang. Orangtua tercekat, penjual kios melongo, dan cerita utang yang hanya bisa dibayar dalam waktu lama pun terjadi.

Maklum, orangtua anak tersebut berprofesi sebagai pedagang kaki lima dengan keuntungan terbilang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Itu hanya salah satu kasus dari kasus lain yang dapat dipastikan mencapai ribuan, lantaran mengingat bahwa pengguna seluler di Indonesia pun makin meningkat pesat. Pesatnya pertumbuhan pengguna telepon genggam itulah, tampaknya tercium para pelaku kriminal sebagai peluang untuk mencari korban.

Para pelaku itu terlihat memahami sekali bahwa tidak semua pengguna telepon seluler adalah dari kalangan masyarakat yang paham tentang modus penipuan. Apalagi iming-iming hadiah menggiurkan, kerap kali membuat masyarakat latah sehingga lupa menalar, ini benar atau penipuan. Iming-iming itu jauh lebih menggoda dibandingkan berpayah-payah mengkritisi ulang; apa iya saya mendapatkan hadiah besar dan tiba-tiba seperti ini?

Kabar baiknya, belakangan terlihat pemerintah kian getol turun tangan untuk menanggapi kasus demi kasus mirip itu. Jika biasanya hanya mengandalkan aparat kepolisian, itupun banyak kasus yang tak dilaporkan karena lebih dulu terbawa purbasangka negatif, kini lembaga Otoritas Jasa Keuangan pun mulai turun tangan.

Di akun Twitter @OjkIndonesia, mereka memberikan kabar bahwa kasus tersebut sudah mendapatkan perhatian ekstra dari pihak mereka yang notabene terlibat dalam berbagai hal berhubungan dengan transaksi keuangan.

Pihak OJK mengimbau agar publik dapat melaporkan kasus tersebut untuk mereka tindaklanjuti. Mereka memberikan nomor layanan konsumen OJK di 1-500-655, dengan cara meng-screen capture atau tangkap layar nomor rekening di SMS tersebut ke email konsumen@ojk.go.id.

Dari sini jelas terlihat bahwa pihak OJK sudah mengendus bahwa lewat nama pemilik rekening yang kerap dibagi para pelaku penipuan tersebut, maka siapa di balik operasi penipuan ini lebih mudah terdeteksi.


Tentu saja, ini menjadi imbauan positif yang memang sangat layak didukung. Setidaknya membantu agar tak makin banyak korban berjatuhan. Selain, agar para pelaku penipuan pun dapat berpikir seribu kali untuk melanjutkan pekerjaan yang telah merugikan banyak orang tersebut.*
Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?