To Learn and Inspiring

Pengunjung

Widya, Polwan Single Parent: Antara Dua Peran sebagai Ibu dan Abdi Negara


Saat hamil, ia menjadi korban kekerasan suaminya sendiri. Setelah bercerai, ia mampu menjalani perannya sebagai anggota Polri dan sebagai seorang ibu dengan penuh cinta. Widya namanya.

Menjadi Polisi Wanita (Polwan) tak hanya harus menghadapi latihan berat dan sangat menguras tenaga, tapi mereka juga kerap kali harus menghadapi realita hidup yang juga membutuhkan tenaga dan mental kuat.

Jika di televisi acap dimunculkan Polwan yang menghadapi kehidupan yang terlihat terlalu ideal bagi sebagian orang, tak sedikit yang harus mengemban tugas negara sembari merangkap sebagai single parent.

Widya Astuti Arsyad (27 tahun) adalah salah satu di antaranya. Berpangkat Briptu, ia sudah menghadapi berbagai tantangan berat yang hanya  mampu dihadapi dengan kekuatan mental yang luar biasa. Menikah di usia 24 tahun, namun hanya dalam dua tahun terpaksa harus berpisah.

Kini, ia juga menghidupi satu anak yang baru berusia 1,8 tahun. Kewajiban sebagai seorang ibu dan kewajiban sebagai abdi negara mengharuskannya untuk membagi waktu dengan adil. Namun dia memastikan jika kedua hal itu tak terasakan sebagai beban, karena dia menjalani semuanya dengan
kecintaan penuh.

Widya bersama rekan-rekan sesama anggota Polwan - Gbr: Widie

"Apalagi, sudah cita-cita saya sejak kecil--ingin menjadi polisi," kata Widya, saat menjelaskan bagaimana ia bisa memilah waktu untuk profesi dan waktu untuk peranannya sebagai ibu.

Dia juga berterus terang jika selama ini keluarganya pun turut membantunya sehingga ia tak merasa terbeban dengan peran ganda yang harus dijalaninya.

"Ibu dan adik-adik saya selama ini sangat membantu, termasuk menemani anak saya," kata Polwan kelahiran 8 September 1990 tersebut.

Mungkin tak banyak yang tahu, meski berlatar belakang pendidikan terbilang keras sebagai seorang anggota Polri, namun tak jarang mereka pun tetap harus menghadapi berbagai hal yang membuat mereka takluk pada naluri sebagai seorang ibu; mengandalkan kasih sayang daripada sisi keras.

Pernikahannya sendiri menjadi salah satu buktinya. Widya yang berprofesi sebagai anggota Polri pun menjadi sasaran kekerasan oleh pria yang  menjadi pilihannya sebagai pasangan hidup.

"Bahkan hingga saya hamil tujuh bulan pun, saya masih menjadi sasaran KDRT," Widya menuturkan kisahnya.

Namun sebagai abdi negara ia memilih jalur hukum alih-alih membalas kekerasan dengan kekerasan. Baginya, tak ada alasan untuk membalas kekerasan  dengan kekerasan. Nuraninya jauh lebih kuat bekerja sehingga tak merasa tergerak memanfaatkan kelebihannya sebagai anggota Polri untuk membalas kecuali lagi-lagi lewat hukum.

Maka itu, akhirnya ia dan pasangannya tersebut memutuskan untuk bercerai. Sementara anak hasil pernikahan mereka menjadi tanggung jawab Widya sendiri.

Saat membincangkan pernikahannya, Widya mengaku masalah itu sejatinya sudah ada sebelum pernikahan. Pasalnya pria tersebut telah memiliki hubungan dengan perempuan lain yang telah beranak dua.

"Hubungan mereka ternyata tetap berlanjut sekalipun kami sudah menikah," Widya bercerita. "Efeknya, mantan suami saya ini mengalami perubahan sikap, hingga melupakan tanggung jawab dan kewajiban yang semestinya dipenuhinya. Bahkan, paling menyakitkan karena ia juga melakukan kekerasan dan itu berlangsung sampai saya hamil tujuh bulan."

Terlepas beban yang dialaminya sejak hamil itu terbilang berat, namun di situ juga mentalnya sebagai seorang Polwan berperan. Dia bisa mengatasi perasaan  tertekan, mampu melawan perasaan lemah, dan tetap mampu memilih untuk tegas dan bercerai secara baik-baik.

Namun tentu saja, pemberontakan batin sebagai wanita tetap saja membalutnya, tapi dapat teratasi dengan bekal pendidikan yang didapatkannya di pendidikan  kepolisian.

Alih-alih meratapi hal menyakitkan menderanya, Widya memilih menatap ke depan, melihat bahwa anaknya adalah tanggung jawabnya, dan tugasnya sebagai abdi negara membutuhkan tenaganya. Maka itu, ia tak merasa terpuruk hingga berlarut-larut.

Padahal, katanya, jika hanya mengikuti insting sebagai wanita saja, dan memilih melemah, saat ayahnya sendiri meninggal dan mertuanya pun tak menjenguknya, itu saja sudah menjadi sebuah pukulan sangat berat. Apalagi setelah anaknya lahir, mantan suami dan mantan mertuanya baru datang menjenguk saat anak tersebut telah berusia 1,3 tahun.

Lagi-lagi, Widya tak mempersoalkan itu. Dia tetap memilih berpegang pada janji sebagai seorang Bhayangkari yang harus menghadapi segala sesuatu lewat sudut  pandang kemanusiaan."Sebab saya masuk jadi anggota Polri pun karena alasan lewat karier inilah saya dapat turut melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, selain juga menjadi bagian dari penegak hukum," katanya tegas.

Di awal karier sebagai anggota Polri, Widya sendiri sempat ditugaskan di berbagai tempat. Bahkan dia juga pernah ditugaskan di Pusjarah Polri, Korlantas Polri, dan kini di Polres Parepare.

Sejak awal karier itu juga berbagai tantangan sudah mengadangnya. "Apalagi saya juga pernah menghabiskan hingga empat tahun bertugas di Jakarta," dia menambahkan. "Di sana, saya juga pernah nyaris menjadi sasaran jambret yang merampas tas saya."

Bagi Widya, berbagai tantangan berat itu bukanlah hal yang harus diratapi. Sebagai anggota Polri, terlepas dia perempuan, namun dia juga dididik untuk menjadi perempuan yang kuat dan tangguh. Maka itu, dia menjadikan pengalaman dan latar belakangnya sebagai pelajaran juga baginya saat berperan sebagai ibu.
Widya (kedua dari kiri) saat tampil di salah satu acara televisi - Gbr: Widie

"Saya berharap agar kelak anak saya dapat menjadi lelaki yang mampu memperlakukan wanita dengan penuh kasih sayang, menghormati wanita seperti menghormati ibunya," dia menyatakan harapannya sebagai ibu. "Saya mendoakan dia menjadi anak yang saleh, membanggakan keluarga, dan bisa mengikuti jejak saya (sebagai anggota Polri)."

Namun terkait cita-cita anaknya sendiri, terlepas dia menyimpan harapan agar putranya itu juga menjadi anggota Polri, namun dia menegaskan takkan memaksakan  keinginannya. "Sebab itu nanti tergantung juga pada keinginannya sendiri sebagai seorang anak, dia ingin menjadi apa saat kelak dewasa," kata Widya bijak.

"Sebagai orangtua, saya hanya mengikuti dan mengarahkan, selain juga mendukung apa pun yang terbaik untuk masa depannya."

Terkait profesi dirinya sendiri, Widya juga berkali-kali menyatakan terima kasihnya kepada komandannya yang selama ini sangat memahami dua peran yang harus dia jalankan; sebagai ibu dan sebagai abdi negara. Sehingga, di tengah banyak tugas, namun pimpinannya tetap tidak memberikan beban terlalu berat kepadanya, dan masih memberikan keleluasaan kepadanya untuk menjalankan peranan sebagai ibu.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah karena saya diberikan komandan dan pimpinan yang sangat mengerti kondisi dan situasi saya," Widya bercerita  lebih jauh. Meski begitu, Widya juga menegaskan, keleluasaan yang diberikan atasan tak membuatnya terlena. Dia menegaskan tetap menjalankan pekerjaannya secara profesional.

Bagi anggota Polwan berusia 27 tahun ini, tak ada alasan untuk meremehkan profesinya terlepas atasan memang telah memberikan kemudahan kepadanya. "Semaksimal  mungkin saya tetap berusaha profesional dalam bekerja," katanya lagi.
Widya saat berpakaian sipil  - Gbr: Widie

Sekarang, Widya hanya menghabiskan waktu dengan putranya bernama Alif, dan merasa gembira karena dapat melihat anaknya itu berkembang dengan baik, meski hanya dirinya satu-satunya yang jadi sandaran.

"Sekarang anak saya sudah mulai bisa bicara. Dia sudah bisa menangkap apa yang saya sampaikan, misalnya, tempa susu Alif mana? Dia akan bergegas berlari dan mencari barang yang saya minta," Widya menunjukkan sisi keibuannya.

Menurutnya, meski anaknya masih terlalu kecil, tapi keadaan juga telah membentuk karakter anaknya.

Widya menilai Alif, putranya itu, sudah mulai memahami pekerjaan ibunya. "Bahkan ketika saya sedang pergi bertugas, anak saya tidak pernah rewel," katanya lagi.

Itulah yang akhirnya membuat Widya antusias dan tetap semangat menjalani peran ganda sebagai seorang perempuan yang menjalani takdir sebagai Polwan dan juga sebagai ibu muda yang harus merawat dan menghidupi anaknya sendiri. Widya mampu menjalani peran besar sebagai abdi negara dan sebagai ibu dengan jiwa besarnya.

"Kasih ibu... kepada beta... tak terhingga sepanjang masa..."*


Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?