dunia lain untuk bicara

27 Maret 2017

Pemberian Mahal dari Anak Usia 22 Bulan

Ini hari Senin. Saat sebagian besar yang bekerja menjadikannya sebagai start, berpacu dengan tenggat dan sering tercekat, hingga ada yang lebih dulu disesaki perasaan penat. Tapi, ini ada sedikit yang dapat dicatat, atau mungkin diingat. Setidaknya untuk diingat sendiri.
Status sebagai ayah memang bukan profesi. Tapi peran sebagai ayah berisikan tanggung jawab yang lebih besar dari profesi apa pun.

Mungkin tak semua setuju dengan prinsip itu. Sebab jika melihat realita, ada banyak pria yang lebih mementingkan kantor melebihi anaknya sendiri.

Ada banyak juga yang memilih membenarkan melebihkan yang lainnya daripada "sekadar" lebih serius memikirkan anak. Alasan paling sering muncul, "Tanpa uang, anak itu mau makan apa, mau pakai apa, dan mau sekolah dengan apa?"

Kesan yang muncul, jika meletakkan urusan anak di atas pekerjaan, maka otomatis pekerjaan itu berada di bawah urusan anak.

Ya, itu tentu saja hak siapa pun yang berstatus ayah. Tapi, saya pribadi tak meletakkan persoalan anak sebagai sesuatu di seberang pekerjaan.

Jadi, ketika saya menetapkan prioritas tanggung jawab anak lebih dari profesi yang saya lakoni, tak serta merta berarti saya menyepelekan pekerjaan. 

Saat anak menjadi prioritas, justru saya merasakan bahwa dorongan untuk bekerja lebih baik, membangun pola pikir lebih baik, makin giat belajar, makin memupuk diri, kian menguat.

Maka itu di desktop komputer kantor pun, saya memilih menempatkan foto anak. Jadi, begitu tiba di kantor, tetap mengawali pekerjaan dengan doa sebagai sugesti, "Saya akan mengerjakan pekerjaan saya sebaik mungkin." Tapi ritual itu berlanjut lagi dengan menatap mata anak saya, lagi-lagi bersama ikrar, "Ini yang sedang ayah kerjakan bukan untuk ayah sendiri. Ini ayah kerjakan agar bisa memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak.

Apa yang terasakan oleh saya? Jabatan naik secara drastis? Belum---setidaknya gaji telah naik beberapa kali. Terpenting adalah fokus, stamina kerja, dan semangat seketika meninggi. Itu terasakan sebagai efek dari "mantra sederhana" yang terucap setelah doa, lewat ikrar seraya menatap foto anak.

Selebihnya? 

Ya, dunia pekerjaan takkan lepas dari berbagai hal tak mengenakkan. Entah atasan yang takkan selalu bisa diajak bicara dari hati ke hati, berkarakter kasar, atau berbagai karakter lainnya. Atau, terkadang tugas yang diberikan atasan tanpa menanyakan lebih dulu, kondisimu dan kesehatanmu sedang cukup baik atau tidak. 

Atasan akan punya kecenderungan, Anda bekerja dan itu tanggung jawab Anda. Bukan rahasia jika tak sedikit dari para ayah yang bahkan dibentak, atau mungkin dimaki atasannya--syukurnya saya pribadi takkan membiarkan diri sendiri dalam situasi itu, entah dengan menegaskan diri sendiri punya harga diri, atau bahkan mencari pekerjaan lain.

Ringkasnya, berbagai kondisi tak menyenangkan di dunia pekerjaan itu nyaris dialami oleh siapa saja. Maka itu terkadang kekecewaan atau perasaan terluka pun dapat dengan mudah dialami.

Nah, di situlah sugesti, saya pikir cukup penting ditumbuhkan. Anak, di sini menjadi sugesti sangat hebat, sebagai motivasi, dan mengingatkan diri sendiri, "Aku adalah seorang ayah. Ada tanggung jawab besarku sebagai seorang ayah. Hal terbaik bisa didapatkan anakku hanya jika aku sebagai ayahnya dapat memberikan yang terbaik, entah materi atau non-materi."

Sugesti seperti itu, berdasarkan pengalaman  pribadi, cukup memberikan sugesti besar. Jika mendengar petuah motivator atau nasihat mentor, mungkin akan melewati proses penalaran untuk kembali semangat dan makin bergairah, maka sugesti yang dibangun karena kecintaan kepada anak memiliki efek yang bekerja lebih cepat dibandingkan kalimat paling bertenaga dari motivator manapun.

Menatap foto anak, menjadi obat tersendiri yang memiliki keajaiban menyembuhkan luka dengan cepat. Menatap ke dalam bening matanya memiliki kekuatan memulihkan kekecewaan yang juga cepat. Alhasil, pekerjaan rumit pun bisa dihadapi lagi dengan penuh semangat dan motivasi cukup.

Entah kekecewaan bagaimana besar pun, namun ketika menatap foto anak dengan penuh perasaan cinta dan ikrar.

"Ini kulakukan untukmu, Nak. Dulu bapakmu saat lajang sering kelaparan karena uang lebih dulu habis jauh sebelum tanggal dalam sebulan habis. Tapi aku takkan membiarkanmu sampai merasa lapar."

"Dulu, bapakmu pernah tertatih-tatih untuk sekolah, belajar, dan mencari guru, mudah-mudahan kaubisa belajar tentang hidup dari orang yang terdekat denganmu, ayahmu sendiri. Dan, saat kausekolah nanti, kau tak perlu terbeban berat terlalu cepat, karena ayahmu telah lebib dulu memberikan pundak untuk beban-beban terberat, dan kau cukup menanggung yang lebih ringan saja."

"Dulu ayahmu menenggak racun dan minuman menyehatkan hampir seimbang karena keterpaksaan, mudah-mudahan yang masuk ke tubuhmu adalah semua yang terbaik!"

Ketika kalimat-kalimat itu berkelebat di pikiran, merembes ke hati, seketika menyalakan tenaga dan semangat. Mendorong untuk bekerja lebih baik, dan lebih cepat.

Hasil lebih jauh, pekerjaan banyak dan sulit tak lagi terasakan sebagai beban atau menyusahkan, melainkan lebih terasa nikmat dan bangga. "Aku seorang ayah, aku sedang menjalankan bagian tanggung jawab demi tanggung jawab yang lebih besar, demi anakku sendiri."

Jadi, nyaris saban waktu menerima berbagai hal tak mengenakkan pun, justru terasa layaknya menenggak obat yang pahit namun tak lagi terasa pahit, melainkan justru muncul perasaan lebih kuat. 

Ya, maka itu setiap kali pulang dari kantor, lebih sering mendekati tengah malam--terlebih terkadang juga menerima pekerjaan dari luar kantor, maka yang saya tatap lama-lama adalah wajahnya. "Ayah sudah melakukan tugas hari ini di kantor, untukmu. Mudah-mudahan besok ayah bisa melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi."

Jika si kecil--sekarang menjelang 23 bulan--terkadang terbangun saat saya pulang, dia akan ikut berlari ke depan pintu menyambut. Dia bercerita dengan bahasa yang masih terbata-bata, dan memang sulit dicerna dengan bahasa yang ada di kamus, tapi cukup bisa dipahami dengan hati sebagai ayah. Bahwa dia sebagai anak sudah menunggu saya dengan kerinduannya.

Semua kata-kata yang diucapkannya dengan terbata-bata, tidak teratur, kurang jelas, tapi memberikan pesan dan motivasi sangat besar. "Yah, kau sudah bekerja demi aku. Sedangkan aku kelak akan menunjukkan, tak ada keringat dan kelelahan ayah yang sia-sia."*
Posting Komentar
Adbox