To Learn and Inspiring

Pengunjung

Matikan TV, Nyalakan yang Lain

Saya pernah dianggap aneh di masa lajang, karena sekian lama bersikeras tidak membeli televisi. Bahkan hal itu menjadi perbincangan sebagian teman di kantor.

Apalagi, saat ingin menonton sepak bola pun, saya memilih menonton di kantor saja. Alhasil, pertanyaan paling sering muncul adalah;

"Kenapa gini hari masih berpikiran begitu? Apa kamu tak merasa tertinggal informasi..."

"Coba kalau kau punya TV sendiri, kau tak perlu ke mana-mana untuk menonton. Cukup di rumah saja..."

"Dengan TV sendiri kau bisa menonton apa saja yang kausuka, dan tak akan ada yang berani mengusik kamu..."

Dan, saya jadi terlihat aneh.

Memilih hal tak lazim, setidaknya menurut pandangan umum, memang sering menjadi alasan untuk memberi cap yang terkadang zalim.

Dalam pengalaman saya, cap yang sempat muncul adalah; terlalu sayang uang, terlalu pelit, pelit pada diri sendiri....

Cap itu distempel di depan kening saya sendiri dengan kondisi mata terbuka, dan nyaris tak ada yang terlihat bersalah.

Saya sempat berharap akan ada yang mau melihat secara lebih positif atas sebuah keputusan pribadi. Tapi, seringnya saya harus menjelaskan alasan tidak bersedia membeli televisi, meski hanya penjelasan sekadarnya.

Ya, karena prinsip saya pribadi, untuk hal-hal remeh begitu--setidaknya menurut mereka--tak perlu dijelaskan terlalu panjang. Sebab penjelasan beroma "kuliah umum" pun hanya membuang waktu. Lagipula, saya termasuk orang yang gemar mengambil keputusan tanpa menunggu restu lebih dulu dari siapa-siapa.

Walaupun, iya terkadang juga saya menjelaskan alasan dan menegaskan prinsip bahwa di kamar saya cukup hanya ada buku-buku, tak perlu televisi.

Bersama buku, tak ada kebisingan. Pikiran dan hati bisa diajak bergerak ke mana-mana, hingga ke tempat yang tak pernah dijamah para pembuat sinetron atau tayangan TV apa pun.

Sedangkan TV, kita hanya dapat menyaksikan apa yang dipilih oleh orang lain; dari gaya apa yang paling bagus, sampai bagaimana seharusnya melihat sesuatu.

Di TV ada dikte yang diberikan ke kita secara terang-terangan. Dan, dikte itu yang membuat pikiran dan nalar sendiri harus menyembah pada apa yang dibingkai kotak bernama TV.

Jadi, saya lebih menikmati berjalan-jalan ke mana saja, meresapi tapak kaki menginjak tanah, menikmati angin yang menerpa tubuh, dan melihat apa saja yang tersaji di depan saya sendiri. Secara langsung, dan ini lebih memberikan sensasi dibandingkan tayangan "live" yang jadi andalan banyak TV.

Itulah kenapa saya bertahun-tahun bersikeras  hanya bersedia mengeluarkan uang untuk membeli buku daripada membeli TV.

Jika saja uang untuk membeli buku itu dijumlahkan, saya dapat pastikan itu lebih dari cukup untuk membeli TV mewah.

Tapi, lagi-lagi, saat akhirnya saya membeli TV itu pun karena ada teman yang menawarkan ke saya. Dia membeli dari temannya karena ingin pindah dari Jakarta, pulang kampung sehingga butuh uang cepat, dan di rumah teman saya ini sendiri sudah ada TV.

Teman saya ini membeli TV itu cuma karena pertimbangan ingin menolong saja, bukan karena dia ingin memiliki banyak TV

Jadilah saya beli TV tabung itu, dengan harga hanya Rp 300 ribu rupiah. TV standar untuk masyarakat yang sering dicap kelas bawah.

Kenapa? Pertama karena teman saya tadi membeli TV itu semata-mata untuk menolong orang, kedua saya membantu teman yang telah mengeluarkan uang untuk menolong orang lain. Jadi, sedikitnya saya juga menolong orang.

Jadi sejak itu adalah satu TV di kamar saya, dari sekian tahun sampai menikah hingga punya satu anak yang hampir berusia dua tahun.

Di masa lajang, TV itu lebih sering padam daripada nyala. Ia baru menyala hanya saat ada pertandingan sepak bola, jika tidak saat betul-betul sedang mengikuti satu berita tertentu yang biasanya berkaitan kasus panjang.

Setelah menikah, TV itu juga yang menemani anak dan istri. Kebetulan istri lebih akrab dengan TV karena adanya drama Korea dan Turki. Sedangkan anak, gemar dengan beberapa tayangan kartun seperti "Diva the Series" yang saya yakini sangat mengedukasi.

Saya sendiri sering hanya menonton apa yang ditonton anak dan istri, sekadar untuk menemani. Lebih sering menjauh dari TV.

Bahkan dengan anak, saya lebih suka mengajaknya berjalan-jalan. Mengunjungi taman dekat rumah, agar anak pun jadi lebih akrab dengan realita terdekat dengannya.

Hanya butuh satu sandal jepit, saya memilih mengajak anak lebih sering, dua-tiga kali sehari karena jam ke kantor pun terbilang fleksibel, sehingga leluasa bersama anak.

Meskipun saya membiarkan anak menonton acara-acara kartun kesukaannya--yang saya yakin punya muatan edukasi--tapi saya berpikir tetal harus menetralkan kesukaannya itu dengan mengajak melihat langsung apa saja yang terjadi; entah ada anak kucing liar yang menetas lagi, itik tetangga bertambah lagi, bunga-bunga yang makin banyak di taman, atau sebagian yang luruh namun tetap terlihat indah selayaknya bunga.

Dengan usia anak yang masih dua tahun, saya mengajaknya tetap mengajaknya berpikir, "Kok bisa banyak bunganya, ya?

"Tuh, itiknya kok bisa terbang, ya?

"Itu ayamnya lari-larian, kenapa, ya Nak?" dlsb.

Sedikitnya, mendekatkan realitas terdekat dengannya, tak terbius oleh sesuatu yang telah disuguhkan TV saja, menjadi cara yang saya ambil agar ia tetap memijak bumi.

Ya, sebagai ayah, saya tak harus menjelaskan berpanjang lebar, bahwa keindahan yang ditampilkan TV telah melewati proses editing, apa yang terekam di sana sudah di-setting, dlsb.

Dengan usianya yang masih batita, akal dan hatinya saya yakini akan bekerja sendiri. Realitas yang didapati dan dilihatnya langsung tanpa terhalang oleh kaca TV juga sebuah hal yang tak kalah menarik dan berharga.

Saya pikir, silakan saja perusahaan TV manapun mengeluarkan uang banyak untuk mendatangkan seleb dan membayar presenter, tapi anak saya takkan saya lepaskan pada apa yang mereka suguhkan.

Sebagai ayah, melihat anak lebih gembira dan lebih menyukai hal-hal yang dialaminya langsung, adalah sebuah kemenangan tersendiri. Setidaknya, dari kecil ia bisa membebaskan diri dari gempuran TV, yang entah karena alasan apa pun tetap lebih mementingkan sisi komersil; keuntungan mereka sebagai perusahaan, alih-alih mendidik.

Untuk mendidik anak, bukan pekerjaan stasiun TV manapun, meskipun iya ada beberapa yang mengedukasi. Sebagai ayah, saya tidak akan menyerahkan anak untuk terbius TV hingga ia kecanduan dan lupa bahwa ada banyak hal yang tak tersorot kamera dan ditayangkan layar kaca, dapat dia lihat dengan mata kepala sendiri.

Melihat bunga di taman, kupu-kupu beterbangan, kehijauan dedaunan, adalah keindahan yang tak perlu dibayar namun memberikan kesan jauh di atas TV yang tetap harus dibayar namun tak dapat menjanjikan apa-apa.

Jika masih bisa mengajak, ayolah lebih sering mengajak anak melihat realita di sekitarnya daripada sekadar menyerahkannya pada apa yang disuguhkan TV. Ia akan terbiasa mengayunkan kaki mengejar sesuatu yang riil, melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan menafsirkan dengan kemampuannya sendiri. Tidak didikte TV, agar kelak ia bisa menjadi manusia yang merdeka, bukan hasil dikte siapa-siapa.* (Gbr. Harvard.edu/Twitter @wakeuppeople
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?