To Learn and Inspiring

Pengunjung

Leicester Kirim Pesan untuk Dunia


Craig Shakespeare masih terbilang asing di dunia kepelatihan sepak bola di Eropa. Di Leicester City, ia baru mencicipi peran pelatih utama sejak klub itu mendepak Claudio Ranieri, 23 Februari lalu.

Sekarang, hanya dalam hitungan pekan, Shakespeare membawa The Foxes lolos ke perempat final Liga Champions.

Sebentar. Saya sedang tidak berbicara sepak bola. Itu sudah terlalu banyak dibahas di berbagai situs bola dunia dan juga di media-media dalam negeri.

Saya lebih tertarik pada gairah, filosofi, dan karakter ditampilkan Shakespeare.


Ini tentang manusia; pelatih, pemain, dan penonton. Ini tentang kita yang bisa dipastikan pernah menghadapi berbagai hal yang sekilas terasa mustahil diubah.

Bukan rahasia, meski The Foxes berstatus juara bertahan di Liga Inggris, tapi musim ini mereka nyaris terlihat sebagai bukan siapa-siapa di kompetisi terbesar Britania itu.

Rapor The Foxes sangat buruk. Nyaris tak terlihat sebagai klub juara. Hanya berada di posisi ke-15 Liga Primer, dapat dikatakan mereka masuk "lima besar" klub terburuk Inggris musim ini.

Lalu, mereka tampil di perdelapan final Liga Champions, berada di antara 16 besar klub terbesar Eropa. Mereka menjadi wakil Inggris di tengah perwakilan Spanyol, Italia, dan Jerman sebagai negara-negara sangat disegani di dunia kulit bundar.

The Foxes bukan tim favorit. Terlebih tak ada alasan kuat untuk menjagokan tim yang sedang sekarat di Liga Primer; baik dari kemampuan mereka bertahan atau menyerang.

Buktinya saat sepanjang musim telah berjalan, mereka jauh lebih sering kebobolan alih-alih mampu mencetak gol. Dengan kemampuan menciptakan gol hanya 30 kali, sebaliknya kemasukan mereka alami justru sudah 45 kali.

Tapi Wes Morgan dan Marc Albrighton bikin dunia tersentak dengan dua gol mereka ke gawang Sevilla. Bahkan wakil Spanyol itu tak mampu mencetak satu pun gol di Kings Stadium. Satu penalti yang dieksekusi Steven N'Zonzi mampu dimentahkan Kasper Schmeichel.

Sekali lagi, ini bukan tentang bola, tapi ini tentang manusia.

Shakespeare, pelatih Leicester, menegaskan kemenangan 2-0 kali ini bukanlah hasil kerjanya sendiri sebagai juru racik strategi. Ia justru mengajak melihat lagi bagaimana peran Ranieri yang sudah membuka peluang sejak Leicester tampil di markas Sevilla.

"Ini dapat kami raih tak lepas dari peran Ranieri," Shakespeare mengajak untuk tidak melupakan pendahulunya di kursi pelatih Leicester.

Shakespeare tak tergerak untuk mengklaim bahwa ini adalah hasil kerjanya sendiri, telah menyiapkan strategi terbaik menghadapi Sevilla. Meski ia tahu, kemenangan kali ini yang berujung kesuksesan timnya mendepak wakil Spanyol itu bukan pekerjaan sederhana.


Sevilla adalah klub matang dan berada di tangan pelatih yang berpengalaman menghadapi kompetisi-kompetisi besar. Datang dari Argentina, Jorge Sampaoli--pelatih Sevilla--yang baru musim ini menjajal kompetisi Eropa mampu membuat klub-klub kelas dunia di Spanyol ketar-ketir.

Di Liga Spanyol, Sampaoli sudah membuat Atletico Madrid yang dua kali ke final Liga Champions bersama Diego Simeone, tak mampu mengejar mereka di papan klasemen.

Sevilla di tangan Sampaoli juga membuat Real Madrid dan Barcelona yang menjadi pelanggan gelar domestik, Eropa, dan dunia (Piala Dunia Klub) kelabakan. Madrid bahkan sempat terkapar oleh klub tersebut.

Shakespeare pastinya memahami kelebihan lawan timnya itu. Dia pun tampaknya mampu membaca dengan jernih apa yang selama ini menjadi persoalan The Foxes yang baru dialihkan ke tangannya.

Di sinilah pesan penting dari Shakespeare. Kekuatan dan nama besar lawan, bukanlah hal yang harus ditakutkan. Justru ketakutan itu harus diganti dengan kejujuran melihat fakta, dan ditukar dengan keberanian berikut keyakinan bahwa dalam kesulitan besar juga ada peluang besar.

Di tengah segala kelebihan lawan, tak berarti harus membunuh kelebihan diri sendiri. Menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri, tak berarti harus melupakan potensi yang juga dimiliki.

Sekali lagi ini tentang manusia. Leicester yang tampil layaknya tim kecil di kompetisi Eropa, menunjukkan diri sebagai organisasi yang terdiri dari para manusia yang memiliki pikiran dan keyakinan besar.

Di situlah, The Foxes yang sempat dicibir sebagai kampiun Liga Primer yang musim lalu meraih trofi domestik karena faktor keberuntungan semata, diremehkan karena masuk dalam lima tim terburuk Inggris sejauh musim ini, berdiri dengan gagah di kompetisi elite Eropa.

Sekarang, mereka bukan lagi sekadar satu dari 16 besar klub Eropa terbaik, namun satu dari delapan klub terbaik. Saat klub sekelas Arsenal yang legendaris itu gagal mewakili Inggris setelah terkapar dengan 10 gol Bayern Muenchen, Leicester membuat Inggris dapat menegakkan dagu lagi di kompetisi di bawah UEFA itu.

Di Liga Champions, Leicester kini berada dalam kategori yang sama dengan Madrid, Barcelona, Muenchen, hingga Juventus yang terkenal sebagai raksasa di Benua Biru.

Sekali lagi, ini bukan soal bola, tapi ini manusia dalam menghadapi kesulitan besar dengan keyakinan yang jauh lebih besar, dengan pikiran besar tanpa harus berkepala besar.* (Photo: The Guardian)
   

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?