dunia lain untuk bicara

13 Maret 2017

Langkah Anies, Langkah Politik Kurang Mendidik

Anies Baswedan tampil di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan menyandang status sebagai bekas menteri pendidikan. Pertanyaan yang layak direnungkan lagi, apakah ada ruh pendidikan membekas pada dirinya saat ia sedang bertarung menuju satu kursi kekuasaan?

Jadi, pagi Senin tak lama sehabis salat Subuh, saya mencoba merenung-renung lagi tentang kandidat gubernur Jakarta. Melihat-lihat lagi bagaimana karakter yang mereka tampilkan.

Teringat lagi, di awal kemunculan Anies, saya sempat menjadi salah satu pemilik KTP DKI yang mengimpikan dia akan dapat menampilkan cara berpolitik yang mendidik. Apalagi, sekali lagi, dia adalah figur yang berangkat dari status sebagai mantan menteri pendidikan, yang membawa tanggung jawab besar untuk pendidikan senegara.

Sayangnya, makin digali, justru makin terlihat jika Anies hanya berhasil mendidik mulut sehingga kata-katanya terlihat terdidik, terlihat cerdas, dan seakan selalu berisi kebenaran dan hal-hal mendidik.

Tapi, mendidik mulut pun tak sepenuhnya mampu dilakukan olehnya. Simak saja bagaimana dalam kehalusan kata-katanya menyimpan begitu banyak racun, yang bisa membuat mabuk pengikutnya dan bisa "membunuh" mereka yang memilih berdiri berseberangan dengannya.

Makin hari toh makin terbukti jika Anies yang berstatus mantan menteri pendidikan itu tak punya banyak cara dan jurus politik. Ia hanya mengandalkan satu cara dan satu jurus berlabel "Halalkan segala cara".

Terbukti dari bagaimana pergerakan politik dilakukannya, bagaimana ia merangkul, hingga ia membangun jaringan.

Perhatikan saja komposisi kekuatan yang dibangunnya, apakah berasal dari kalangan yang "memperbaiki" ataukah kalangan yang "merusak"?

Dari situ saja, sejatinya akan terlihat mana yang lebih jadi prioritas sosok yang awalnya rajin membangun citra dirinya sebagai seorang tokoh pendidikan. Apakah ia menggunakan langkah politik yang mendidik?

Tidak. Anies bahkan cukup tega mengkhianati arah pendidikan agar manusia menyadari kemanusiaannya dan agar manusia lebih beradab. Dan, patut dicatat, dia melakukan pengkhianatan itu dengan tetap mengumbar senyum dan tawa tanpa perasaan berdosa.

Lihat lagi bagaimana dia memberikan respons atas kampanye yang memanfaatkan sengketa agama dan perbedaan ras. Lihat juga bagaimana dia menjawab fenomena itu.

Kasus Bu Hindun yang ditolak disalatkan di masjid setelah beliau meninggal hanya karena beliau memilih lawan Anies di Pilkada putaran pertama adalah bukti sahih, bagaimana sejatinya jurus "semua cara halal" yang diusung Anies.

Memang, belakangan pihak RT terkait dan masyarakat setempat berusaha keras memberikan penjelasan, bahwa Bu Hindun tetap disalatkan bahkan ada yang mengklaim dalam pengurusan jenazahnya pun melibatkan pengurus salah satu partai politik. Tapi, tanyakan lagi, apakah kabar dari anak dan keluarga Bu Hindun bahwa beliau ditolak itu adalah berita bohong belaka?

Jadi, ini adalah salah satu cara berpolitik yang sedang dipamerkan, dan langsung tak langsung melibatkan seorang calon gubernur yang berstatus bekas menteri pendidikan.

Kenapa Anies terlibat? Sebab "campaign" yang berisikan ancaman bahwa bagi Muslim yang memilih Basuki Tjahaja Purnama maka jika mati pun takkan disalatkan itu sudah jamak diketahui berlangsung jauh sebelum Pilgub putaran pertama berlangsung. Apakah selama itu ada pernyataan khusus atau upaya khusus dari Anies untuk membendung itu?

Tidak. Anies justru lebih terlihat meyakini dan memanfaatkan bahwa langkah beraroma teror dan intimidasi itu menguntungkannya. Sebab cara itu memang menakutkan, dan ini berpotensi memaksa calon pemilih untuk memilih dia; sebagai Muslim, calon gubernur ber-KTP Islam, dan merasa paling berhak itu dipilih.

Itu layak disebut sebagai jurus politik paling keji yang dilakukan seorang calon penguasa yang sedang mengejar posisi sebagai gubernur; sekaligus untuk membayar aibnya sendiri karena pernah dipecat akibat ketidakbecusannya membawa solusi untuk dunia pendidikan.

Ada pernyataannya soal kasus itu, tapi itu baru muncul belakangan, persis setelah kasus Bu Hindun makin viral dan menuai perhatian publik nasional. Ia datang dan lagi-lagi berlagak sebagai tokoh, agar tak ada penolakan atas jenazah untuk disalatkan.

Ya, dia datang setelah yakin bahwa teror dan intimidasinya kian jauh bekerja, mengaduk-aduk ketakutan masyarakat luas, dan ia menangguk keuntungan dari sana. Sebab ketakutan yang sukses ditanamkan dari teror itu telah memengaruhi kejernihan sebagian publik DKI untuk berpikir; apakah orang dengan kualitas seperti ini memang layak diangkat jadi pemimpin?

Ia sukses menciptakan kekeruhan di ruang berpikir masyarakat, ketika seharusnya pendidikan membuat manusia dapat berpikir jernih. Maka itu, saya merasa tak berlebihan memberi gelar untuk Anies sebagai bekas menteri pendidikan yang bahkan gagal mendidik diri sendiri, dan mustahil berharap dia dapat mendidik masyarakat dengan langkah politiknya.

Tapi, dia tetap punya kesempatan memperbaiki itu. Jika masih tetap mengandalkan langkah kotor itu, maka dia sedang membuat tong terpisah untuk menjadikan namanya kelak jadi bagian sampah sejarah di dunia politik dan pendidikan negeri ini.* (Gbr: Bangka Pos)
Posting Komentar
Adbox