To Learn and Inspiring

Pengunjung

Kumaha Eta: Essien ke Persib karena Tidak Laku di Eropa


Kabar kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung tak hanya menjadi berita besar media-media dalam negeri. Berbagai media besar dunia pun tak ketinggalan mengekspose hijrahnya pemain yang terbiasa dengan kompetisi elite Eropa ke negeri yang masih "senen-kemis" dalam urusan sepak bola.

Daily Mail, BBC, dan berbagai media papan atas internasional menjadikan topik keputusan Essien berlabuh ke Indonesia sebagai bagian berita yang tak boleh ketinggalan.

Media-media itu relatif memberikan apresiasi memadai atas keputusan Essien. Ia dinilai bisa menjadi motor untuk membawa ruh sekaligus inspirasi untuk kehadiran sensasi sepak bola lebih bergengsi dan tidak setengah-setengah.

Persib pun dinilai cukup berani, mendatangkan pemain yang memiliki reputasi tinggi di tengah suasana persaingan sepak bola nasional yang sarat ironi.

Sikap Essien yang tak merasa rendah diri berkiprah di kompetisi yang terbilang jauh di bawah Liga Jepang dan Liga Cina, misalnya, dinilai sebagai sebuah "pengorbanan" besar. Ia diibaratkan pendekar sakti yang terbiasa bertarung di tengah pendekar pilih tanding, turun ke perguruan silat yang belum ternama.

Entah pengibaratan itu berlebihan, tapi keputusan Essien berada di salah satu klub Indonesia memang bisa mendatangkan bermacam tafsiran. Tapi berbagai media meyakini akan ada tren baru terbangun di sini dari kedatangan Essien yang pernah meraih gelar Liga Primer hingga Liga Champions--kompetisi puncak untuk klub-klub elite Eropa.

Essien bisa memunculkan perspektif baru dunia atas sepak bola Indonesia, juga sudut pandang baru publik sepak bola dalam negeri; bahwa iklim sepak bola nasional sedang di jalan menuju perkembangan yang berbeda dari sebelumnya.

Seperti diketahui, di Asia belakangan ini, klub-klub yang terbilang berani merekrut pemain kelas dunia itu berkutat di dunia negara. Jika bukan Jepang, maka Cina.

Apalagi di Asia Tenggara, label sebagai negara-negara Dunia Ketiga yang dinilai akrab dengan keterbelakangan kerap menjadi tembok penghalang tersendiri. Seorang pemain bisa merasa "turun kelas" jika berkiprah di kawasan ini, dan lebih mengenaskan karena tak banyak taipan yang berani mengucurkan uang, setidaknya untuk menggaji pemain kelas dunia.

Katakanlah sebuah klub bisa merekrut pemain berstatus bebas transfer, tapi besarnya gaji mereka yang mencapai miliaran acap membuat sebagian besar investor Asia Tenggara berpikir seribu kali.

Jangan heran jika sebagian investor, pemilik modal, di Asia Tenggara--terutama Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Indonesia--lebih memilih invest di klub liga-liga besar Eropa sekalian.

Alasannya, karena hasil dari sebuah investasi di liga-liga Eropa terasa jauh lebih meyakinkan dibandingkan di klub-klub Asia Tenggara dengan kompetisi yang ada di sini.

Jangan heran pula jika selama ini, klub-klub Asia Tenggara--terutama Indonesia--lebih sering mendatangkan pemain yang dapat dibilang tak lagi "dipake" di negara asal mereka; entah dari Amerika atau bahkan belahan Afrika.

Ada kesan, negara Asia lebih sering menampung pemain yang terbuang.

Kesan begitu terasa terlalu kasar, mungkin. Tapi jika melihat realitas, juga ada benarnya.

Berkaca ke kasus Essien, misalnya, kenapa ia akhirnya berlabuh ke Indonesia? Tak sedikit media Eropa yang secara terbuka menyebut itu keputusan yang lahir dari frustrasi pemain itu sendiri; alih-alih klub besar Eropa, klub kecil di Benua Biru saja enggan "buang-buang uang".

Bagi klub Eropa, terlepas mereka berkompetisi di ajang kelas kacangan pun, tetap ingin mendapatkan pemain yang masih mampu memberikan performa, tenaga, dan skill meyakinkan alih-alih sekadar nama besar.

Apakah itu kabar itu mengada-ada?

Mungkin saja, setidaknya kesan yang rentan terasa. Tapi pada faktanya berbagai media Eropa, di awal Maret ini saja ada yang membeberkan fakta bahwa ada tiga klub kecil Swedia yang memilih menolak merekrut Essien.

Alasan mereka, seirama disebut sebelumnya, karena mereka menginginkan pemain yang bisa "melakukan apa di lapangan pertandingan" bukan sekadar berapa besar nama pemain dan pamor dimilikinya di masa lalu.

AIK, Hammarby, IFK Goeteborg tercatat sebagai tiga klub Swedia yang memilih mencoret nama Essien dari daftar belanja pemain.

Pertanyaannya, apakah Persib keliru mendatangkan Essien?

Jika berkaca ke prinsip dipegang Eropa, maka keputusan Persib dapat dikatakan keliru. Tapi jika proporsional melihat, apakah kelas kompetisi kita di Indonesia atau bahkan Asia Tenggara dapat disetarakan yang ada di negara-negara Eropa? Itu pertanyaan lebih jauh, yang perlu juga dijawab untuk pertanyaan sebelumnya sekaligus.

Dengan kompetisi di Indonesia yang sempat mati suri, atau setidaknya sempat terkesan hidup enggan mati tak mau, maka kehadiran Essien tetap saja penting.

Ia mungkin tak mampu lagi membawa performa seperti saat ia sedang berjaya. Sebab, jika ia masih memiliki kualitas seperti itu, mungkin ia akan tetap di Chelsea, atau mungkin Real Madrid tak akan hanya menjadikannya sebagai pinjaman. Tapi, ia mampu membawa atmosfer baru dan gairah baru.

Sedikit banyak ia bisa membawa warna untuk menumbuhkan budaya baru dalam kancah sepak bola Indonesia, atau bahkan Asia Tenggara. Pengalamannya di klub-klub papan atas Eropa, dengan kompetisi sekelas Serie A, La Liga, dan Liga Primer, masih berpotensi untuk ditransformasikan lewat Persib untuk sepak bola nasional.

Jadi, jangan berharap ia bisa tampil seperti di Madrid, Chelsea, atau Milan. Tapi, sangat logis berharap dia dapat menjadi "teman belajar" bagi para pesepak bola nasional yang ada di Persib, dan klub-klub lain yang nanti akan menjajal kemampuannya.

Jepang, Cina, dan beberapa negara Timur Tengah, berani "buang uang" dalam jumlah besar membeli pemain "yang terbuang" di Eropa, memang bukan untuk mendapatkan kinerja yang sama seperti saat para pemain itu di puncak. Negara-negara itu ingin agar pengalaman para pemain yang rata-rata pernah berstatus bintang, dapat menular bagi pemain dalam negeri.

Jepang, menjadi potret riil, mampu menjadi negara Asia terdepan mengekspor pemain mereka hingga ke Liga Inggris, Italia, atau Spanyol. Menjadi indikator, bahwa upaya menularkan spirit bintang dunia mulai tertanam pada pemain mereka, hingga diakui sampai level Eropa, berkiprah di sana, dan dapat dipanggil pulang saban waktu tim nasional membutuhkan peran mereka di kompetisi internasional.

Itulah yang bisa membuat mereka dapat menegakkan kepala di tengah kancah sepak bola Asia dan bahkan dunia. Jadi, bukan mustahil jika budaya mendatangkan pemain berpengalaman level atas seperti dilakukan Persib, menjadi awal kebangkitan sepak bola Indonesia.* (Photo: Tribun-Jatim.com)
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?