dunia lain untuk bicara

16 Februari 2017

Pesan Penting dari Pidato Terakhir Agus Yudhoyono


Di hari Pilkada 2017 serentak berlangsung, Agus Harimurti Yudhoyono memang dinyatakan memiliki suara paling sedikit dari tiga pasangan calon gubernur/wakil gubernur. Walaupun itu baru dari hasil hitung cepat. Setidaknya, dia sudah menunjukkan sebuah sikap elegan yang menuai pujian dari banyak kalangan, tak hanya pendukungnya, tapi juga yang menolaknya.

Pujian kepadanya tak lepas dari pernyataannya yang dinilai mencerminkan sikap prajurit ksatria. "Secara ksatria dan  lapang dada, saya menerima kekalahan saya," ucapnya setelah melihat hasil hitung cepat menunjukkan sinyal kuat kekalahannya.

Sontak berbagai media sosial pun melemparkan pujian dan sanjungan kepadanya. Tak terkecuali tokoh media sekelas Goenawan Mohamad pun mengakui sikap Agus yang dinilai berkelas.

Dalam cuitannya di Twitter, sosok yang acap disapa dengan GM tersebut tak dapat menutupi kekagumannya atas Agus. "Pidato Agus Yudhoyono sangat bagus: tenang, jernih, jelas, tulus, berisi. Ia sudah pantas lega. Bertanding itu memang melelahkan," tulisnya di akun Twitter-nya.

Termasuk tokoh media digital, Nukman Luthfie pun mengakui kelebihan putra Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Menurut Nukman, sikap Agus itu menjadi modal penting dalam politiknya.

"Pidato @AgusYudhoyono menerima kekalahan dan mengucapkan selamat kepada Ahok dan Anies itu menjadi bekal penting dan bagus untuk karier politiknya," kata Nukman.

GM dan Nukman cukup mewakili pandangan jernih kalangan intelektual yang saban hari berkutat dengan realitas Jakarta. Terlepas mereka cenderung ke figur tertentu di Pilkada kali ini, tapi pujian tersebut dapat dikatakan sangat tulus.

Bahkan Mohamad Guntur Romli yang notabene menjadi salah satu otak pemenangan Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat pun tak ketinggalan secara legawa mengakui kedewasaan Agus.

"Pidato @AgusYudhoyono bagus dan bagian dari tradisi politik yang baik," ucap Gun Romli, juga di Twitter-nya.

Dari kacamata personal branding tak dapat ditampik memang, yang disuguhkan Agus adalah sebuah pemandangan yang langka. Terlebih di tengah tren politik kekinian yang kental dengan tradisi curiga mencurigai.

Berkaca ke Pemilihan Presiden, misalnya, ada pihak yang secara telak kalah pun masih melakukan berbagai cara untuk menunjukkan sikap tidak terima atas kekalahan. Waktu habis percuma, tenaga terbuang, pikiran hingga uang terkuras sia-sia, hanya karena sikap yang "ogah nrimo".

Maka di sinilah Agus menunjukkan budaya baru. Tak sepenuhnya baru, tapi setidaknya jika ditilik dari budaya yang tumbuh terutama dalam tiga tahun terakhir saja, sikap Agus memang bisa dikatakan sebagai cerminan sikap ksatria di tengah kontes demokrasi yang panas.

Alih-alih menebalkan muka menolak cerminan sebuah fakta, ia memilih secara jujur melihat keadaan hingga mampu menerima kekalahan itu. Ini jelas bukan sebuah sikap yang mudah untuk dipilih, entah mantan presiden atau mantan jenderal sekalipun, untuk menerima kekalahan seperti ini mutlak hanya dapat ditampilkan oleh figur yang memiliki kemampuan membaca diri dengan jujur.

Agus memiliki kejujuran itu, terlepas sepanjang masa kampanye ada sebagian konten kampanyenya dinilai kurang membumi. Setidaknya, sikapnya setelah satu tahap Pilkada--sebelum putaran kedua--sudah memberi pelajaran dan pendidikan penting dalam berpolitik.

Tak berlebihan jika dikatakan dia memang layak menjadi pemimpin masa depan, dengan catatan ia mampu belajar dari kekalahan hari ini secara maksimal, menciptakan berbagai gagasan yang lebih realistis, dan mampu menawarkan solusi yang memang sangat dibutuhkan publik. Jika itu kelak tercapai, ditopang dengan karakter yang menunjukkan kematangan, maka peluang ia menang di kontes demokrasi masa depan terbuka lebar.

Ya, meski politik kerap diidentikkan dengan intrik, tapi semua orang suka pada kebaikan dan semua kebaikan tetap sangat berpotensi dibayar dengan harga terbaik. Agus memiliki potensi itu, meski sikap baik itu belum terbayar hari ini.*  (Sumber Foto: Rappler.com, Tempo.co)
Posting Komentar
Adbox