dunia lain untuk bicara

27 Februari 2017

Membaca Lagi Wasiat Romo Mangun


Romo Mangun. Begitulah ia akrab disapa. Februari menjadi bulan kepergiannya, setelah puluhan tahun mewarnai dunia kepenulisan di Indonesia. Dia penulis ternama, tapi lebih menyukai untuk menyebut dirinya sebagai seorang amatir.

Ia memang terkenal sebagai figur yang tak suka hal-hal biasa-biasa saja. Salah satunya, termasuk saat banyak penulis merasa mulia karena bekerja sebagai penulis, dan tak sedikit mendudukkan diri sebagai cendekia elite, Romo Mangun memilih merendah.

Itulah kenapa di banyak kesempatan dia acap melabeli dirinya sebagai penulis amatir. Padahal hampir semua penggila baca pasti mengenalnya.

Sejak 1970-an ia sudah muncul dengan
berbagai karyanya. Roro Mendut menjadi salah satu karya fenomenal sastrawan kelahiran 6 Mei 1929 tersebut.

Tapi Roro Mendut sendiri baru muncul belakangan, karena baru sampai ke publik pada 1983.Jauh sebelumnya ia sudah muncul dengan Puntung-puntung Roro Mendut dan Burung-burung Manyar.

Tapi di era itu juga ia banyak mendapatkan penghargaan. Selain Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1983, juga Hadiah Sastra ASEAN setahun setelahnya.

Dari berbagai penghargaan pernah dia dapat, dua penghargaan itu cukup menunjukkan seperti apa pengakuan atas diri penulis berlatar belakang mahasiswa Institut Filsafat dan Teologi di Yogyakarta itu.

Tapi dia juga pernah mengaku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sebuah karya. Sebut saja Burung-burung Manyar, membutuhkan waktu hingga tujuh tahun.

Kenapa bisa begitu? "Novel yang matang dalam isi dan mantap dalam bentuk membutuhkan waktu. Sebab, novel pun tak berbeda dari segala yang manusiawi," begitu pendapatnya. "Harus hidup, karena kehidupan pula ada fase benih ke ke bunga, ke buah yang matang untuk dipetik."

Burung-burung Manyar itu, menurut pengakuannya, harus berkali-kali ia tulis, baca lagi, tulis lagi. Ia utak-atik selama bertahun-tahun.

Apa yang membuatnya membuang waktu lama untuk sebuah karya, tak lain karena tak suka jika orang yang membacanya tak menemukan dirinya di dalam karya itu melainkan orang lain.

Kemungkinan buruk itu, menurutnya, bisa terjadi jika seorang penulis gagal mengalirkan ciri khasnya. Sekalipun dari karyanya nanti ia dinilai mirip Sartre, misalnya, tetap saja itu bukan hal yang harus dibanggakan.

Ia ingin karya yang betul-betul mewakili dirinya; Y. B Mangunwijaya. Bukan orang lain.

"Saya tidak mau menerbitkan sesuatu sebelum saya sendiri yakin dan berani mempertanggungjawabkan setiap bagian novel kepada diri sendiri dan para pembaca," itulah prinsipnya, yang juga pernah ditegaskannya lagi dalam artikelnya bertajuk Pengakuan Seorang Amatir. 

Ia juga merujuk pada bagaimana seorang penerima Hadiah Nobel membuat suatu karya, sebagai acuan untuk membuat karyanya lebih khas.

Meski ia merasa bahwa berburu Hadiah Nobel terasa muluk, tapi dari sana setidaknya ia merasa dapat belajar banyak tentang bagaimana seharusnya satu karya tulis.

"Saya pernah membaca bahwa sastra yang mereka nilai menang justru adalah karya-karya yang menonjolkan kekhasan warna lokalnya," katanya. "Juga, dari filsafat dan bentuk bersastra yang berakar betul-betul dari ciri pribadi bangsa yang spesifik."

Jadi, jangan heran jika Burung-burung Manyar terasa berbau Jawa, yang di sana menurut dia tak dapat lepas dari dunia dan suasana wayang.

"Burung-burung Manyar menjadi matang, dewasa, berkat banyak kesalahan dan kekecewaan," katanya. Menjadi pesan abadi, jangan berharap sesuatu cepat jadi untuk dapat melahirkan karya tulis yang tetap hidup sekalipun penulisnya kelak mati.

Ya, catatan ini sendiri saya tuangkan juga untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa menulis bukan pekerjaan yang dapat dikerjakan setengah hati. Sebab ini juga berhubungan dengan peninggalan hingga kelak kita mati.

Romo Mangun yang mengembuskan napas terakhirnya pada 10 Februari 1999, setidaknya sudah meninggalkan pesan penting, melahirkan sesuatu yang tak lekas dimakan waktu. Bukan sekadar warisan untuk anak cucu, tapi juga kepada kemanusiaan itu sendiri.

"Sastra, tulisan, bukan hanya untuk menjadi karya demi estetika saja atau menjadi terkenal. Bukan juga untuk sekadar membagi informasi, tapi terpenting adalah transformasi," katanya lagi. "Agar manusia semakin mengenal dirinya, sekelilingnya, semesta, hingga dapat meningkatkan kemanusiaannya."* (Ilustrasi: Yussak Anugrah)

Posting Komentar
Adbox