dunia lain untuk bicara

24 Februari 2017

Indonesia Berubah Nama Menjadi Indochina


Kejadian itu bermula saat seorang warga negara kita sedang ke luar negeri. Lalu, di sana dia melihat papan penunjuk di salah satu bandara dan di sana tercantum kata “Indochina”.

Seketika, dengan semangat menggebu-gebu orang tersebut memotret papan elektronik itu dan menyebarkan lewat Twitter.

Saat menyebarkan itu, si penyebar kabar tersebut terlihat berapi-api untuk meyakinkan bahwa Indonesia betul-betul telah dikuasai China. Dengan semangat ia mengajak “untuk sadar”bahwa Indonesia dikuasai China itu bukan idapan jempol belaka.

Tak berhenti di situ, menurut penelusuran salah satu akun Twitter berlabel @IndonesianHoaxes, tak kurang dari 6 pengguna Twitter pun turut men-share kabar itu lewat retweet.

Bagi Anda yang masih kuat ingatan tentang pelajaran Geografi, setidaknya pernah belajar Geografi mungkin tertawa.

Atau setidaknya Anda pernah belajar sejarah negara-negara Asia, tentu tak asing dengan negara-negara yang berada di antara China dan India, sehingga negara-negara itu diberi gelar Indochina.

Terlebih dalam pelajaran Sejarah, penyebutan Indochina memang dipandang lazim, sebab di Eropa terutama negara-negara yang pernab berebut tempat di kawasan itu lebih akrab dengan istilah Indochina.

Pertanyaannya, kok bisa pengguna internet, melek jejaring sosial, tapi justru gelap mata dan bahkan buta dengan geografi?

Propaganda. Ya, ini tampaknya memang tak lepas dari propaganda yang begitu marak muncul belakangan ini lewat dunia maya.

 Lihat saja bagaimana kalangan tertentu yang memiliki kedekatan dengan partai politik tertentu dan organisasi tertentu menjadikan isu tak jauh dari fenomena yang terjadi di bandara luar negeri itu.
Terutama sejak Pilpres lalu, sentimen anti-China getol diembuskan.

Terlebih sejak Joko Widodo terpilih sebagai presiden, sentimen itu makin deras bermunculan di media sosial. Didukung lagi dengan pernyataan mantan pejabat negara dan pernah di militer, yang sempat menyebut bahwa China ingin menguasai Indonesia.

Tak cukup di situ, bahkan ada pemuka agama yang rajin berdemonstrasi dan konon memiliki pengikut jutaan orang, tak ketinggalan menjadikan isu anti-China sebagai bagian bahan pidatonya.

Agitasi dan propaganda itu sukses.
Terutama partai yang menjadi pesaing partai rezim terkini, sedikitnya tentu menangguk untung dari situ.

Apa keuntungannya? Karena ada kebencian yang menular kepada pemerintah dan itu potensial untuk menangguk suara saat kontes pemilihan eksekutif atau legislatif.

Tapi, saya pribadi tidak menyebut partai tertentu sebagai pemicu isu itu. Namun saya tak bisa menafikan jika situasi itu menguntungkan mereka.

Di sisi lain ada kerugian yang sangat parah ketika propaganda itu tak terbendung. Kerugian itu melebihi seberapa banyak satu partai di negeri ini mampu habiskan untuk “modal usaha” di kancah politik.

Ya, kerugian itu telah memangsa anak-anak negeri ini sendiri. Mereka hidup, tapi nalar mereka terbunuh.

Apa yang terjadi di bandara itu sendiri hanya potret kecil dari kematian nalar itu tadi. Sebab di luar insiden mirip anekdot itu, sejatinya telah berjuta kuburan muncul di negeri ini tempat jutaan nalar yang terbunuh oleh propaganda yang terbiarkan.

Pertanyaannya, seberapa serius pemerintah mau turun tangan?*

Posting Komentar
Adbox