dunia lain untuk bicara

20 Februari 2017

Apakah Anies Diuntungkan Kalangan Islam Garis Keras?


Sulit mengatakan Anies Baswedan tidak menjadikan sentimen antar agama sebagai senjata perangnya di Pilkada DKI Jakarta.  Keputusannya hingga meringankan langkah ke sarang Front Pembela Islam (FPI) yang acap dinilai sebagai wakil kalangan Islam radikal, cukup menjadi sinyal ia ingin menangguk keuntungan dari sana.

Tapi tunggu dulu.Terlepas saya pribadi tak menemukan alasan kuat untuk memilihnya, tetap berusaha melihat dengan kacamata positif di balik gebrakannya beberapa bulan lalu ke markas FPI. Meski sulit juga mencari-cari alasan membenarkan langkah yang telah diambilnya itu.

Begini, saya sempat terpikir, mungkin Anies ke markas FPI betul-betul ingin merangkul kalangan garis keras agar melunak, agar dapat dibimbing oleh dirinya yang berlatar belakang pendidik--setidaknya berdasarkan citra telah dibangunnya.

Sangat indah, jika saja memang Anies memiliki tekad sebaik itu, menyulap organisasi sekelas dan sekeras FPI bisa melunak, dan bisa membumi, selain juga bersedia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan warga negara Indonesia lainnya, apa pun agamanya.

Sangat luar biasa, jika Anies punya niat mulia mengajak kalangan FPI dan pendukung mereka, agar tak lagi mendudukkan diri sebagai "warga negara eksklusif" dan berada di atas warga lainnya. Menggandeng mereka, sehingga tak menjadikan klaim sebagai pemeluk agama terbaik lalu merasa berhak meremehkan dan merendahkan pemeluk agama lain.

Mengagumkan, andai Anies bisa membuat mereka betul-betul teryakinkan, bahwa semua pemeluk agama memang sama-sama meyakini bahwa agamanyalah yang terbaik. Jadi, tak perlulah satu keyakinan lantas menafikan bahwa agama lain pun adalah yang  terbaik menurut pemeluknya hingga mereka tak tertarik untuk pindah agama.

Hebat, jika Anies dapat meyakinkan lagi, bahwa karena semua agama memang yang terbaik tak perlulah saling mendesakkan harus diakui lebih baik dari yang lain. Toh, sama-sama sudah berada di titik terbaik, bagaimana berharap lebih dari itu lagi.

Terpenting bagi agama toh bukan agama itu sendiri, tapi justru manusia. Apalah arti punya agama terbaik tapi pemeluknya sama sekali tak dapat mencerminkan dirinya sebagai representasi sebuah agama terbaik? Tidak ada bukan?

Pertanyaan pentingnya adalah alih-alih membangga-banggakan diri sebagai pemeluk agama terbaik dan terbanyak di negeri ini, peran baik apa yang lebih banyak dapat kita lakukan? Apa karya kita yang mampu membawa manfaat terbesar bagi semua kalangan?

Sekadar klaim, sama sekali tak penting. Dan di situlah kefatalan dilakukan Anies, meski sekilas yang dilakukannya terkesan sekadar berkunjung. Tapi itu berdampak pada makin membesarkan keyakinan mereka, bahwa yang selama ini dilakukan kalangan garis keras itu memang sudah benar. Jika tidak benar, buat apa seorang Anies rela mengiba-iba dukungan dari mereka?

Kehadiran Anies di sana justru menguatkan mereka, ketika kalangan intelektual muslim yang berpikiran terbuka selama ini acap dianggap sebagai ancaman serius eksistensi mereka. Ingat, Anies awalnya dianggap sebagai wakil intelektual muslim yang berpikiran terbuka tadi.

Sekarang, ia sudah memilih menutup pikirannya, dan merasa cukup sekadar dukungan dari sebuah kelompok untuk mendongkrak suara yang berpotensi mengantarkannya ke kursi gubernur untuk mengobati luka dan kekecewaan setelah terdepak dari kursi menteri.


Tak cukup meyakinkan jika dorongan yang membawa Anies berada bersisian dengan Rizieq Shihab, dan berdiri di depan jamaah Rizieq, untuk mengubah budaya yang dibangun FPI dan pendukungnya sehingga lebih lunak dan lebih ramah kepada ke-Indonesia-an yang menempatkan semua pemeluk agama setara, tak melebihkan pemeluk satu agama di atas lainnya.

Anies justru lebih mengesankan jika dia turut mendukung, aksi demi aksi yang telah dijalankan dan akan dijalankan FPI yang sejalan dengan "budaya" yang mereka bangun yang identik dengan sikap-sikap frontal, agresif, eksklusif.

Tak terlihat ada perasaan bersalah di wajah Anies, bahwa ia ingin memanfaatkan mereka sebagai keran untuk mengucurkan suara sebanyak-banyaknya. Sebab ia sendiri cenderung makin kuat menunjukkan bahwa ambisinya menjadi gubernur jauh lebih penting dari  sekadar soal kebangsaan yang di sana menempatkan semua pemeluk agama dan keyakinan secara setara--sama-sama warga negara Indonesia.

Baginya, tak masalah membuat kalangan FPI dan kalangan Islam garis keras kian terbuai, kian ke awang-awang, dengan kelihaiannya dalam menata kata-kata yang santun dan berbau puisi.

Sebab--dalam banyak analogi saya gunakan--buaian itu memang sangat membantu untuk melenakan hingga membantu untuk terlelap. Sedangkan saat mereka sudah lelap, yang mereka pentingkan adalah mimpi-mimpi indah, sedangkan bagaimana realita jika kelak mereka terbangun terkesampingkan.

Hosting Unlimited Indonesia
Di sinilah peluang Anies, memanfaatkan mereka yang merindukan mimpi indah untuk melelapkan tidur, bukan membantu mereka untuk betul-betul terbangun sehingga dapat melihat realitas sejernih-jernihnya dengan mata terbuka.

Mungkin saja Anies khawatir, membuat mereka terbangun akan mengalami nasib seperti Basuki Purnama yang jadi rivalnya; dikeroyok dari segala penjuru lewat aksi demi aksi. Atau, Anies memang berani membangunkan mereka, dan menunjukkan bahwa seindah apa pun mimpi takkan mengubah apa-apa jika menutup mata pada realita? Andai saja.* (Gbr: Tempo English)

Posting Komentar
Adbox