To Learn and Inspiring

Pengunjung

Tuduhan Rapat PKI di Istana Negara dan Indikasi Kebangkitan DI/TII

Alfian menuding telah terjadi rapat PKI di Istana Negara. Ada apa di balik tudingan tersebut?

Sebuah tuduhan serius dilemparkan oleh seorang pemuka agama bernama Alfian Tanjung. Dalam berita yang ditayangkan detik.com per Selasa 24 Januari 2017, Alfian bahkan mengklaim jika dirinya tahu persoalan tersebut.

"Karena saya menekuni gerakan PKI sudah hampir 30 tahun," katanya, berdasarkan kabar dilansir detik.com. Dari berita itu juga disebutkan jika dalam salah satu ceramahnya dia memang mengungkapkan bahwa ada rapat PKI di Istana Negara setiap pukul 20.00 WIB.

Tak pelak, dengan "bola panas" yang dilempar pria yang mengaku telah berusia 50 tahun itu, ada banyak hal telah dilabrak dan bukan tak mungkin isu itu akan semakin membesar. Tapi yang paling disayangkan adalah penyesatan opini terhadap masyarakat yang mungkin saja meyakini apa yang diutarakannya, lantaran statusnya sebagai pemuka agama alias ustaz.

Sejatinya, tindak-tanduk sosok yang acap sesumbar sebagai pengamat gerakan komunis tersebut bukan cerita baru lagi. Per dua tahun lalu, ia  juga sempat melempar bola serupa.

Sebut saja saat dia tampil di acara Ziarah dan Doa Memperingati Hari Pengkhianatan PKI terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, 1 Oktober 2015, Alfian juga sudah menyinggung isu tersebut.

Hidayatullah.com yang terkenal acap menurunkan berita seputar dunia Islam garis keras, turut merilis pernyataan Alfian, yang tertulis pada Jumat 2 Oktober 2015.

Dalam artikel itu yang merujuk Alfian pun sudah berisikan tuduhan bahwa ada elite di pemerintahan yang terindikasi komunis.

"Ada salah satu staf kementerian saat ini yang merupakan kader Gerwani--merujuk organisasi perempuan di era PKI masih eksis, yang  mengatakan well, partai kita yang telah terkubur selama 31 tahun akan kita hidupkan kembali," katanya, seperti dikutip dari Hidayatullah.

Tak berhenti di situ, di situs Panjimas.com edisi 7 Oktober 2015 disebutkan, Alfian menuding aparat negara lainnya, Basuki Tjahaja Purnama,  gubernur DKI Jakarta (non aktif) sebagai PKI. dan, itu berlangsung di AQL Islamic Center yang berlokasi di Tebet Utara, Jakarta Selatan.

Namun sejauh ini, belum ada "perlawanan" serius dari pihak yang terkena tudingan dari sosok berstatus ustaz tersebut. Sementara dalam  sejarah, telah jelas menetapkan bahwa PKI sendiri adalah partai terlarang per 1966 atau setahun setelah peristiwa Gestapu.

Bahkan dari pihak Istana Negara, sejauh ini baru Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki yang dikabarkan telah melakukan somasi atas Alfian Tanjung. Terlebih lagi lantaran Teten sendiri menjadi salah satu sasaran tembak dari Alfian, karena menuduh dia sendiri sebagai komunis.

Menurut pengakuan Teten, somasi itu sendiri sudah dikirim sejak dua minggu lalu, dan meminta Alfian menarik ucapannya tersebut. Tapi Alfian sendiri saat dikonfirmasi belakangan justru mengaku tidak mendapatkan surat somasi.
Teten masih terkesan sangsi melaporkan tuduhan yang dilempar kepadanya - Gbr: Detik.com

Namun ada kesan, Teten sendiri masih terkesan sangsi untuk meneruskan tudingan Alfian ke aparat kepolisian. Alasan dia, lebih baik dengan somasi lebih dulu karena ada kemungkinan Alfian keliru dalam menerima informasi.

Persoalannya, apakah tudingan yang memang dapat dikatakan bola panas tersebut adalah masalah betul-betul sederhana.

Terlebih lagi jika dilihat benang merah lebih jauh. Banyak tindak-tanduk absurd yang selama ini berlangsung hanya karena isu PKI yang mereka lemparkan.

Masih segar di benak kita, bagaimana penjual kaos kaki lima di Blok M pernah jadi sasaran gara-gara dituding menjual kaos berlogo PKI. Belakangan aparat Polda Metro Jaya mengonfirmasi jika itu hanyalah logo salah satu band asal Jerman.

Di Bandung, acara diskusi pun pernah dibubarkan paksa oleh sekelompok masyarakat di bawah satu ormas. Dan, lagi-lagi motifnya adalah kecurigaan adanya aroma PKI.

Tak terkecuali Habib Rizieq Shihab yang belakangan dinobatkan sebagai Imam Besar di Indonesia oleh kalangan garis keras, termasuk yang paling rajin melempar isu PKI.

Pertanyaan sederhana, ada apa? Apakah kalangan ormas dan agamawan itu memiliki atribut intelijen lengkap? Atau memang mereka merasa leluasa mengangkangi negara yang kini tak bisa bertindak keras karena akan berhadapan dengan sorotan dunia?

Persoalannya bukan di sisi ada atau tidak PKI versi reborn. Sebab, dengan "garis" dalam berbagai aturan berkaitan dengan dasar negara hingga kesepakatan yang dikuatkan oleh payung hukum, jika organisasi itu betul-betul ada, tentu saja akan berhadapan langsung dengan aparat negara dan hukum.

Ironisnya, isu itu belakangan justru lebih banyak muncul di kalangan Islam garis keras. Atau, ini justru sebagai permainan isu akan adanya kebangkitan DI/TII versi baru, dengan menjadikan isu PKI sebagai alat untuk menghipnotis masyarakat muslim,  bahwa pemerintah saat ini adalah representasi PKI?

Jika dilihat peta masalahnya, dan bagaimana permainan skenario, jelas terlihat mulai ada figur yang dimunculkan untuk melakukan semacam pemberontakan. Tapi pelakunya dapat dipastikan bukan PKI, karena yang sedang menonjol justru kalangan yang menunjukkan tindak-tanduk beraroma DI/TII.

Kalangan tersebut terlihat mulai melakukan berbagai uji coba; sejauh mana masyarakat muslim Indonesia dapat digerakkan, hingga organisasi mana yang dinilai tepat sebagai penggerak, dan figur sentral yang diposisikan sebagai "imam".

Kecurigaan saya pribadi, kok isu PKI terasa lebih kental sebagai alat untuk menutup rencana membangkitkan kembali DI/TII ya?*

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?