To Learn and Inspiring

Pengunjung

Nezar Patria Hadapi Tudingan Terlibat PKI dengan Somasi


Tuduhan yang diembuskan Alfian Tanjung soal adanya beberapa figur yang menjadikan Istana Negara untuk rapat Partai Komunis Indonesia (PKI) kian memanas. Terlebih lagi salah satu yang dituduh Alfian adalah anggota Dewan Pers Nezar Patria.

Senin (30/1) saya berusaha mengontak langsung Nezar Patria, meminta tanggapannya. Satu sisi ia menanggapi itu dengan tenang, karena melihat tuduhan dari Alfian tersebut sama sekali tak berdasar sekaligus absurd.

Di sisi lain ia juga tetap berusaha menjernihkan isu yang kian kencang berembus.

Walhasil Nezar pun memilih melakukan langkah awal dengan berusaha melakukan persuasi. "Kita sikapi saja dulu dengan jalan baik-baik, kecuali mereka tetap bersikeras dengan tuduhan itu barulah kita tempuh jalur hukum," katanya.

Maka itu lewat pengacara J. Kamal Farza SH dan kawan-kawan, Senin (30/1) siang, pihaknya mengirimkan teguran hukum (Somasi) kepada Alfian Tanjung.

Di antara isi somasi yang diperlihatkan kepada saya, pihaknya meminta Alfian agar berhenti menyebarkan fitnah berupa kabar bohong tentang dirinya dan mencabut seluruh pernyataan yang mengatakan dirinya sebagai kader PKI (Partai Komunis Indonesia).

Pengacaranya, Kamal Farza pun menegaskan jika ulah Alfian itu telah berdampak serius, terlebih belakangan jadi viral di media sosial.

“Kami menolak dan sangat berkeberatan dengan ucapan serta perkataan Saudara Alfian Tanjung yang saat ini beredar luas menjadi viral di media sosial,” ujar Kamal Farza, yang juga dicantumkan dalam rilis yang disampaikan ke kalangan media.

Akar persoalan
Persoalan itu sendiri sejatinya sudah lama terjadi, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 1 Oktober 2016 sekitar pukul 20.00 malam, di Mesjid Jami’ Said Tanah Abang.

Dalam ceramahnya saat itu Alfian Tanjung mengatakan: “Mereka (PKI) sudah menguasai Istana, hampir sebulan ini tak ada lagi pengamanan dari tentara--sehingga Istana diambil alih oleh mereka."

Di situlah polemik itu muncul karena Alfian justru menunjuk beberapa nama yang diyakininya sebagai kader PKI.

"Rapat-rapat di istana negara sekarang ini dipimpin oleh orang yang namanya Teten Masduki, Urip Supriyanto, Budiman Sudjatmiko, Waluyo Jati, Nezar Patria, dan sederet kader-kader PKI, yang mereka menjadikan istana tempat rapat rutin mereka tiap hari kerja di atas jam delapan malam ke atas. Keren ya, jadi istana negara sekarang jadi sarangnya PKI sejak bulan Mei 2016,” kata Alfian lagi dalam ceramah tersebut.

Nezar saat berkunjung ke Paris - Gbr: Nezar Patria

Sikap tegas
Kamal Farza yang mewakili Nezar Patria berterus terang sangat menyesalkan ucapan Alfian Tanjung yang menyebutkan nama Nezar Patria dalam  ceramahnya itu. Menurutnya hal yang dilakukan Alfian adalah fitnah yang keji.

Ungkapan dari Kamal Farza jelas sangat beralasan. Terlebih lagi, ia sendiri adalah pengacara yang berasal dari Aceh yang notabene juga daerah asal Nezar Patria. Termasuk saya sendiri sering mengikuti aktivitas Nezar bersama komunitas-komunitas Aceh.

Sejauh ini tak ada petunjuk yang cukup kuat jika menuding figur seperti Nezar terlibat organisasi yang memang telah berstatus terlarang secara hukum tsrsebut.

Itu juga yang dikukuhkan Kamal Farza bahwa tuduhan itu berlebihan dan menjurus ke fitnah.

Pertama, menurut Kamal, Nezar sendiri adalah generasi yang lahir dan besar di zaman Orde Baru. "Jelas tidak pernah menjadi anggota apalagi kader PKI," kata Kamal Farza.

Menurut pengacara asal Aceh ini,  Alfian terkesan ingin mengajak umat Islam di indonesia untuk percaya dengan analisisnya.

"Padahal itu hanya analisis ngawur yang dibuatnya," Kamal menegaskan, terlebih karena Nezar sendiri berlatar belakang Aceh yang kental dengan Islam sejak lahir, hidup di tengah kultur Islam, dan masih menjadi penganut Islam hingga detik ini.

Maka itu Kamal melihat bahwa tindakan Alfian sangat berbahaya.  "Rangkaian isi ceramahnya itu berpotensi menghadapkan klien saya seakan menjadi ancaman buat umat Islam," ujarnya lebih jauh.

"Ini menyakitkan, karena sebagai Muslim, Nezar mustahil memusuhi Islam, yang telah menjadi agama serta identitas budayanya sebagai seorang yang lahir dan besar di Aceh, sebuah daerah yang kental tradisi Islamnya di nusantara", ujar Kamal.

Bahkan Kemal juga menyebut jika tuduhan tak berdasar itu juga telah membuat marah keluarga besar serta kerabat Nezar di daerah asalnya, Aceh.

Hal lain yang juga disayangkan Kamal karena tuduhan itu juga ditambah dengan tudingan aktivitas "memimpin rapat malam di Istana".

"Selama delapan belas tahun ini Nezar berprofesi sebagai wartawan profesional, dan dia tak pernah masuk dalam arena politik apalagi menjadi pejabat di Istana," kata Kamal lebih jauh.

Kamal juga memastikan bahwa sebagai wartawan Nezar masih sangat menjunjung tinggi sikap obyektif, tak memihak, dan terbukti independen dalam melakukan tugasnya, ujar Kamal.

Nezar tak pernah rapat malam di Istana dan sampai hari ini dia tak punya hubungan kerja dan organisasi dengan Istana.

Tuduhan "rapat malam di Istana" telah merusak kredibilitasnya sebagai wartawan profesional yang seakan dia telah ikut dalam politik praktis dan menjadi bagian dari kekuasaan eksekutif.

"Apalagi itu jelas-jelas adalah hal yang bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik yang dipegang kuat oleh klien kami selaku anggota Dewan Pers", ujar Kamal.

Sementara saat saya tanyakan langsung kepada Nezar sendiri, dia juga menegaskan jika dirinya tetap berusaha menjernihkan isu tersebut dengan cara baik-baik.

"Meunyoe han, baroe geutanyoe cok cara leubeh dari nyan," katanya dalam bahasa Aceh.

Itu juga yang ditegaskan lagi oleh Kamal saat ia bersua dengan kalangan pers.

“Tetapi jika Alfian tidak menggubris somasi ini, maka kami akan melakukan tuntutan hukum,” ujar Kamal Farza.

Karena itu, Kamal dan kawan-kawan memberikan waktu selama tiga kali 24 jam terhitung sejak somasi ini diterima Alfian Tanjung, agar yang bersangkutan mencabut ucapan, perkataan, dan menghentikan penyebaran secara luas baik lewat media cetak maupun elektronik, serta membuat
pernyataan maaf di media massa nasional.

“Jika dia tidak berubah, kita akan proses hukum,” ujar Kamal Farza, memberikan wanti-wanti.*
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?