dunia lain untuk bicara

02 Januari 2017

Musmarwan Jadi Penulis Lewat Buku Terlarang hingga Melawan Perang


Dia membicarakan cinta dan perang, namun mampu membuat pikiran dan hati pembacanya lebih tertuju pada indahnya kehidupan berbalut cinta; pada Tuhan dan sesama manusia. Lewat pena, dia merangkul semua kalangan, untuk lebih mengisi diri dengan cinta dan kedamaian, dan perlahan melupakan perang dan hal-hal yang memicu peperangan.

Musmarwan Abdullah tak memiliki satu hal terlalu besar menjadi impiannya di awal dia memutuskan untuk menjadi penulis. Hanya menulis, menyalurkan kegemaran, dan menulis saja. Tak ada yang muluk-muluk. Tapi semua berbeda setelah lewat pilihan yang identik dengan dunia literasi itu kian menyatu dengannya; jadi lebih peka, nuraninya lebih terasah. Tak terkecuali saat Aceh dilanda konflik dan nyawa bisa terenggut kapan saja, dia berani bertaruh nyawa untuk pilihannya itu.

Bagaimana tidak, di era konflik di Aceh saat itu, berani berbicara realita kemanusiaan yang ada di sana; pembunuhan semena-mena dan penghinaan atas kemanusiaan, maka keberanian itu harus dibayar dengan keberanian untuk kehilangan nyawa sewaktu-waktu.

Musmarwan tetap menulis. Dia tetap mencubit, sesekali menjewer lewat tangannya yang dialirkan dalam tulisan-tulisannya. Dia mencubit parapihak yang bertikai, Gerakan Aceh Merdeka dengan impian mereka untuk merdeka sebagai alasan perang, dan aparat militer negara (TNI/Polri) yang dibenarkan negara untuk menindak mereka yang diposisikan sebagai musuh negara.

Mus, penulis yang juga mengakrabi rimba Aceh
Tak hanya satu pihak. Dia menjewer dan mencubit kedua pihak. Sangat halus, dan tanpa kepekaan dan insting membaca pesan tersirat, takkan ada yang mampu mengambil pesan dari tulisannya. Mungkin sebagian hanya melihat tulisannya sebagai guyon, kelakar, karena gaya satire yang kerap menghiasi penulisannya betul-betul memaksa otak dan hati harus bekerja sama secara seimbang meraba ke mana dia ingin membawa pembacanya.

Keberanian penulis kelahiran 1967 tersebut tak luruh oleh asap mesiu atau kegarangan mereka yang berperang dengan berbagai senjata. Musmarwan tetap setia dengan senjatanya yang sekilas hanya dapat mencubit dan menjewer, dan itu dipertahankannya; tanpa peluru, tanpa bau mesiu.

Begitulah cara dia menyampaikan pesan-pesannya, lewat tembakan dengan senapan pena. Dia kirimkan ke media-media terdekat dengannya; Aceh dan Sumatra Utara. Tema diangkat pun tidaklah berat, awal-awalnya, kecuali hanya realita keseharian seperti cerpen perdananya dimuat di Serambi Indonesia, Sang Induk Semang, yang hanya berkisah tentang konflik kecil sebuah kontrakan.

Tapi akhirnya dia merasa tak lagi menyukai hal-hal yang dirasakan olehnya sebagai hal terlalu biasa. Apalagi dalam berita-berita di koran pun dirasakannya sudah penuh dengan hal-hal yang dinilai biasa; keadaan jalan-jalan di kampung yang sering rusak meski jarang dilintasi kendaraan, dan semisalnya.

Dia merasakan ada semacam dorongan untuk membicarakan hal yang tak terlalu berani dituliskan orang. Itulah yang melecutnya hingga menyorot perihal konflik.


Kemampuan seninya pun tak lepas dari musik
Ada beberapa kali dia mendapatkan teguran dari teman-teman dekatnya saat mengangkat topik konflik di tengah ketidakpastian keselamatan. Tapi menurut dia, jika dia memilih mundur, siapa lagi yang bisa menyorot kezaliman agar surut dan berhenti. Walhasil dia tetap menulis itu.

Saat koran-koran yang menjadi tempat dia kerap menulis beberapa kali mengalami teror dari mereka yang terlibat perang hingga ancaman penutupan, Mus sama sekali tak mengalami itu. Padahal jika disimak isi dari tulisan-tulisannya, jelas mengusik mereka yang bersenjata produksi Amerika Serikat hingga Rusia.

Tak heran jika dia terkadang dinilai mirip Nasruddin Hoja dan Abu Nawas, tokoh dongeng Timur Tengah, yang digambarkan hampir selalu selamat dari kesialan karena kecerdikannya. Begitulah Musmarwan.

Terbukti ketika para aktivis yang menentang konflik ada yang terbunuh dengan mengerikan; mata tercongkel hingga lidah terpotong, atau kemaluan hilang, Musmarwan selamat sekalipun kritikannya tak kalah tajam.

Tentang bagaimana dia dapat merawat keberanian itu dan kesetiaannya pada dunia penulisan, sebagai sosok berlatar belakang santri, maka pesan dalam Al Quran menjadi pegangannya.

Terutama salah satu surat di kitab suci umat Islam tersebut, Al-A'raf: 24: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” 

"Jadi saya tidak terganggu dengan konflik apa pun di dunia ini," katanya dengan gamblang. "Bagi saya dunia dan kehidupan ini hanyalan sepucuk revolver, setangkai bunga, dan sebuah ending dalam lambaian terakhir."

Lalu, kenapa dia bisa begitu mencintai dunia kepenulisan? "Berawal dari suka membaca, akhirnya saya iri, ingin agar tulisan saya dibaca juga."

Salah satu buku hasil karyanya
Apa yang ditulisnya di buku dan artikel-artikelnya yang dimuat di berbagai suratkabar? Biasanya memang berbentuk cerita pendek, atau kumpulan cerita pendek--seperti Dijamin Bukan Mimpi, atau jauh sebelumnya terdapat Pada Tikungan Berikutnya dan Melalui Ilusi Waktu.

Uhm, bukan cerita yang betul-betul pendek, sebetulnya. Sebab, meski dia menulis dengan kata-kata yang dengan mudah dihitung selayaknya sebuah cerpen, tapi isi dari cerita pendeknya itu adalah sesuatu yang sangat panjang.

Di cerita-cerita itu, akan ditemukan berbagai hal seputar agama, seputar kemanusiaan, atau isu-isu sosial terutama yang terjadi di sekitarnya; di Aceh. Apa yang menarik? Ya, cara dia bertutur.

Cara dia dalam menggambarkan sebuah persoalan, mengupasnya, dan mengajak pembaca mengkhayalkannya. Tak berlebihan jika Anda berada di Papua sekalipun, saat membaca tulisannya akan bikin Anda merasa itu adalah realita di dekat Anda sendiri. Inilah salah satu kelebihannya.

Bagaimana dia melakukan itu?

Ya, ada cerita yang sangat panjang terkait perjalanan kepenulisannya itu. Apalagi dia mengasah kemampuan itu saat teknologi tidak sedahsyat sekarang. Hanya lewat Sahabat Pena--juga sebuah nama majalah populer di masa itu. Berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya, dan dari sana dia jatuh cinta pada penulisan, dan cintanya itu sama sekali tak terlihat luntur sekalipun majalah yang tenar di kalangan remaja 1980-1990-an entah masih masih terbit atau tidak.

"Masa itu, 1980-an, untuk membuat kami tersambung dengan orang luar adalah Sahabat Pena. Melalui surat-menyurat itulah akhirnya menulis menjadi kebiasaan," dia menuturkan latar belakang kepenulisannya. Tapi keputusannya untuk memilih jalan kepenulisan sebagai jalannya meski dirinya telah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil selama lebih dari dua dekade, lebih dulu diawali banyak hal yang dilaluinya.

Berstatus sebagai santri, di masa kecil hingga remajanya membuat dia akrab dengan literatur Timur Tengah. Tapi ia tak berhenti di sana, karena ia memutuskan tetap membuka diri hingga dia juga akrab dengan bacaan-bacaan berbau Eropa.

Kedekatannya dengan buku-buku Eropa itu awalnya tidak sengaja. Dia berada di rumah salah satu sahabatnya, dan mendapati sebuah peti berdebu berisikan buku-buku.

Dia pun membukanya, dan mendapati seabrek buku-buku filsafat Jerman. Masih berejaan lama.

Muncul perasaan antara kasihan pada buku-buku yang terbiarkan dalam peti tanpa terbaca, dan rasa penasarannya sendiri, Mus meminta izin kepada sahabatnya tersebut.

"Bagaimana kalo buku-buku ini kauberikan untukku saja?"

Temannya mengiyakan. Buku itu pun beralih ke tangannya. Ia melahap semua buku itu, dan perlahan memengaruhi alam pikirannya. Latar belakangnya yang akrab dengan budaya Timur Tengah dan literatur dari benua kental Arab, terimbangi dengan pengetahuan yang berlatar belakang Eropa.

Mulai akrab dengan buku terlarang
Terlebih saat kemudian dia mengecap bangku kuliah di Medan, Sumatra Utara. Di sana dia merasa lebih mendapatkan kesempatan untuk memburu lebih banyak buku. Di antara yang paling mengesankannya, adalah buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Dia memburu buku-buku Pram saat Orde Baru sedang kokoh-kokohnya menanamkan cakar di mana-mana.

Bahkan sempat ada cerita ketika dia mencari buku Pram di Medan, penjualnya sempat memastikan dulu kepadanya bahwa dia yakin membeli buku tersebut.

"Anda harus menandatangani perjanjian dulu, setelah Anda beli buku ini tidak akan bikin masalah pada toko buku kami?" Saking susahnya mendapatkan buku Pram di masa Orba yang sedang sangat perkasa dalam menancapkan kuku kekuasaannya.

Ya, Musmarwan mengangguk mantap. Dia mendapatkan buku tersebut.

Saat itu dia sendiri tak begitu memahami, kenapa Pram bisa dikekang begitu rupa? Kenapa untuk mendapatkan buku penulis yang dipenjara pemerintah Orba itu begitu susah?

Mus masygul sendiri, namun terus menikmati buku-buku penulis nasional yang beberapa kali dinominasikan untuk mendapatkan Nobel--meski selalu berujung kegagalan.

Itupun, dia baru tahu bahwa buku-buku Pram terlarang justru setelah berurusan dengan aparat kepolisian karena tidak memiliki Surat Izin Mengemudi.

Di kantor polisi, dia melihat poster bertuliskan buku-buku yang dilarang pemerintah; dan buku-buku tersebut justru ada di antara buku-buku dimilikinya.

Buku Bumi Manusia (salah satu dari Tetralogi Pulau Buru) didapatkannya di Beureunuen seharga Rp 7 ribu, dan Anak Semua Bangsa seharga Rp 24 ribu. Dan, buku terakhir setelah Jejak Langkah ditemukannya adalah Rumah Kaca

Buku-buku terlarang itu tak membuatnya melarang diri untuk membaca.

Begitulah sosok Mus. Dan, itu tak hanya dari buku-buku Pram. "Sejak SMP, saya sudah membaca nyaris semua Sastra Melayu Lama, seperti  karya G Francis, Gouw Peng Liang, H.F.R Kommer, R.M. Tirto Adhi Soerjo, F.D.J. Pangemanan, F. Wiggers, Thio Tjin Boen, Hadji Moekti," dia berkisah.

"Dan lucunya, hingga hari ini belum membaca satu pun karya Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru, padahal yang terakhir, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sangat direkomendasikan oleh guru-guru SMA kami. Karya Angkatan 1945, 1950-1960-an, 1966-1970-an sudah banyak yang saya baca."

Belakangan, kata dia, bacaan-bacaannya itu memang memengaruhi cara dia menulis.

"Yang paling saya suka adalah novel-novel terjemahan karya penulis Eropa, Arab, Cina, Amerika, Amerika Latin, Turki dan lain-lain," dia bertutur seputar buku-buku yang membantunya memperkaya tulisannya. "Membaca mereka, saya seperti hadir di sana."

Tapi antara buku-buku dari Barat (Eropa) dengan Timur, masing-masing membawa porsi berbeda dari sisi pengaruh kepadanya.

"Saya sepertinya sangat dipengaruhi oleh sastra Barat dalam menulis cerpen, dan sangat dipengaruhi Timur Tengah ketika menulis humor dan satire." Ini tak mengada-ada, tentu saja. Jika Anda sempat melongok status-status Facebook-nya saja, pengakuannya sudah terbukti, apalagi jika Anda menemukan tulisan-tulisannya dalam bentuk buku dan cerpen.

Terkait cara penyampaian dan isi cerita yang terbilang nakal, khas kalangan sufi, dia berterus terang sama sekali tidak mengikuti tarikat atau suluk, yang menjadi kekhasan pelaku sufistik. Dia hanya memelajarinya saja.

"Saya berada di dayah (sebutan Aceh untuk pesantren) sepanjang masa SMP dan SMA—seangkatan Nurdin F. Joes, penulis Aceh lainnya," kisahnya.  "Dia kakak angkatan, kami sedayah dan sesekolah. Jadi saya tidak mengikuti tarikat, suluk dan semacamnya. Cuma lewat kajian di dayah dan juga suka membaca buku-buku ajaran Budha, Hindu dan tasawuf, baik yang ditulis sarjana Eropa maupun muslim."

Tak heran jika mereka yang pernah membaca tulisan-tulisannya, lha kok bisa di tengah budaya Aceh yang kerap terkesan "angker" bagi sementara kalangan di luar Aceh, akan terkaget-kaget dengan warna tulisannya. Walaupun kelihaiannya itu tak lepas dari berbagai cara untuk dia menyegarkan ide-ide yang dapat dituangkan dalam tulisan.

Dalam proses pencarian ide-ide baru, agar tulisan yang ditulis selalu berisi, Mus mengakui ada semacam ritual yang dilakukannya.

"Saya suka ke gunung sekaligus menginap di pedalaman rimba—terutama di hari libur kerja, dan suka berjalan kaki sendirian sepanjang pantai (dekat kampung), dan suka duduk di warung kopi yang letaknya di tepian areal persawahan," dia menunjukkan kebiasaannya.


Salah satu kegemarannya, menikmati udara alam terbuka
Menurut dia, kebiasaan-kebiasaan itu membantunya untuk menyegarkan pikiran, dan melahirkan ide-ide yang berbeda.

"Saat sedang berada di tiga tempat itu, saya tidak memikirkan apa pun, hanya membiarkan diri menyatu dengan alam," tuturnya lagi. "Dan, biasanya, tidak ada ide apa pun di tiga tempat itu. Hanya membiarkan otak kosong (bebas) dari segala pikiran dan asumsi tentang dunia dan kehidupan."

Menurutnya lagi, kenapa dia memilih pikirannya lepas saat berada di tempat-tempat itu, karena ada alasan bahwa ada momen dia benar-benar harus menyatu dengan diri sendiri, dan ada momen di mana dia harus menyesuaikan dengan realitas ketika terjun lagi dalam dinamika keseharian.

Di tengah kehidupan biasa, kata dia, otak tidak mungkin kosong. "Orang yang lewat di depan mata pun memancing pikiran dan asumsi, begitu juga televisi, gadget, koran dan percakapan-percakapan di sekeliling," katanya lebih jauh.

Kalau orang mengatakan, ada yang ke pantai atau ke gunung untuk mencari ide, menurutnya itu keliru.

"Minimal sebagaimana yang saya rasakan. Yang benar—sekali lagi, sebagaimana yang saya rasakan—di pantai, di gunung dan di tepian sawah, otak saya dikosongkan (bebas) sekaligus diistirahatkan untuk kemudian bisa kembali bekerja dengan penuh gairah saat berada di tengah-tengah keramaian," dia menambahkan.

Jadi, saat berada di tempat itu, dia memang membebaskan dirinya dari semuanya. Dia tidak mencari ide di sana, melainkan membebaskan diri dari semua ide atau asumsi. Justru, menurut dia, ide-ide untuk tulisannya justru acap muncul di tengah kegalauan ketika dia berkutat dengan seabrek masalah, dari pribadi hingga apa yang ada di sekelilingnya.

"Kebanyakan ide tulisan saya justru muncul di tengah-tengah kekalutan kehidupan sehari-hari," tuturnya. "Jadi, bukan di gunung atau di pantai."

Ya, ada kemiripan cara ditempuhnya dari proses menyegarkan ide dengan membebaskan diri itu dengan lelaku yang dilakukan seorang penyair legendaris nasional, WS Rendra. Bisa dipahami, sosok Mus, selain mengagumi Pram, dia pun pengagum Rendra. Maka itu saat ditanyakan siapa penulis nasional paling memengaruhinya, dia takkan segan-segan mengaku," Pram dan Rendra!"

Berbagai hal yang melingkarinya kesehariannya, dan perjalanannya, memang tak lepas dari bagaimana dia melihat hidup.

Menurutnya, orang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mencari makan, berarti dia binatang. Jika dalam satu hari ia sempat menghabiskan waktu 5 menit untuk membaca, berarti sehari-semalam dia hanya menjadi manusia selama 5 menit.

Nabi Muhammad SAW, katanya lagi, tidak membaca, tapi itu lantaran beliau adalah manusia utama di mana batin dan segenap olah pikirnya sudah sepenuhnya dizakatkan untuk kemaslahatan dan memanusiakan hidup orang lain.

Penasaran, saya pribadi menanyakan kepadanya bagaimana latar belakang di masa kecil, apakah berpengaruh kepada kepribadiannya hingga terejawantahkan dalam karyanya?

"Saya satu-satunya anak lelaki dalam keluarga," dia bercerita. "Sangat dimanjakan oleh kedua orangtua dan kedua orang kakak. Ini memberi saya kesempatan seluas-luasnya untuk bermain. Bebas bermain bersama teman-teman sekampung tanpa dipanggil-panggil untuk pulang, untuk makan, untuk mandi, untuk ganti baju, untuk ini dan harus itu, membuat saya—mungkin—tumbuh menjadi orang bebas dan sekaligus berpikir bebas—mungkin."

Namun yang jelas, katanya lagi, bebas dari segala intervensi keluarga di masa-masa kanak-kanak, itu sangat mengesankan baginya. Dia mengaku teringat sekali dengan sebuah pengalaman, betapa beberapa temannya terkadang tidak bisa ke mana-mana lantaran harus menjaga jemuran gabah padi agar tidak diserbu ayam.

Kewajiban di tengah keluarga seperti itu memang biasa terjadi pada remaja di masa kecilnya, "Dan, saat-saat seperti itu kami biasanya akan bermain-main di tempat ia menjaga padinya, agar ia pun bisa bermain," kisahnya lagi, menggambarkan adanya perbedaan kebebasan didapatkannya dibandingkan rekan-rekan kecilnya.

"Begitu juga beberapa teman lain yang ketika menjelang sore, dia harus segera mengakhiri keasyikannya bersama kami untuk pulang ke rumah buat menyulang umpan kerbau peliharaan keluarganya."

Kepekaan yang sudah terlatih sejak kecil itulah membawa warna sendiri ketika dia terjun dalam dunia kepenulisan. Kata demi kata dialirkannya, nyaris tak ada yang luput dari "rasa bahasa" yang kuat.

Walaupun, iya, dia juga mengakui ada juga berbagai pertimbangan lain menjelang dirinya melempar sebuah tulisan ke publik, entah lewat suratkabar atau sekadar status Facebook.

"Setiap usai menulis saya selalu memikirkan baik-baik terlebih dulu, siapa kira-kira yang akan merasa paling tak enak dengan tulisan ini?" katanya. "Jika itu umum, yah, tidak apa-apa, langsung posting (untuk status di media sosial), atau langsung kirim ke redaksi media massa. Jika itu pribadi publik figur, misalnya, dinetralisir sedikit, atau dipoles dalam bentuk humor, agar pribadi tersebut tidak terlalu sakit, atau malah ikut tertawa juga. Jika itu menyentuh kelompok tertentu, ya, begitu juga, dilucu-lucui agar sakitnya tidak terlalu terasa."

Salah satu satire khas di akun facebook Musmarwan
PNS Merangkap Jurnalis
Di luar ceritanya dengan kebiasaannya menulis, pernah membuatnya terjun ke dunia media. Dia pernah bergabung dengan Tabloid Aceh Kita saat dipimpin Otto Syamsuddin Ishak tahun 2008, bergabung dengan Koran Harian Aceh Independen, 2009. Setelahnya dia pun pernah bersama Harian Aceh, 2010 hingga 2012.

"Setelah itu nonaktif di jurnalistik dan kembali disiplin masuk kantor sebagai PNS di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pidie," tutur dia lebih jauh. "Tapi di ketiga media cetak itu saya hanya menulis feature, tidak diwajibkan menulis berita harian."

Itulah yang merefleksikan penulis dari ujung Sumatra yang lahir dari pasangan Abdullah dan Fatimah. Seorang kakek dari satu cucu dari anak pertamanya yang juga berstatus PNS, namun masih mampu selalu menyajikan hal-hal segar lewat gayanya bertutur lewat berbagai tulisan. Ia masih sebagai sosok penuh warna, yang hangat kepada siapa saja--entah kepada yang paling liberal atau kepada yang paling fanatik sekalipun--dia mampu menjadi sahabat.

Tampaknya itu juga yang membuat tulisannya terasa sangat kaya, dan bisa diterima semua kalangan. Kini penulis itu masih berkarier sebagai abdi negara, yang mendapatkan kepercayaan sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Etika dan Budaya Politik, di Badan Kesbangpol Kabupaten Pidie, Aceh.

Terakhir, apa yang membuatnya bisa menjadi pribadi yang terkesan tenang di tengah berbagai dinamika yang ruwet?

Tak lepas dari pengalaman masa kecilnya sendiri ketika, misalnya, di-bully teman-teman sepermainannya, orangtua memberikan pesan penting yang sangat dihafal olehnya; "O hana peu. Na droe jih ngon Tuhan (tidak apa-apa, Tuhan yang akan membalas dia)." Ketenangan dan ajakan untuk tenang itulah, membuat tulisan-tulisannya bak air jernih, yang tak hanya membuat mata siapa saja dapat menemukan keindahan di dalamnya, tapi juga bisa menghapus dahaga siapa saja.*


Posting Komentar
Adbox