To Learn and Inspiring

Pengunjung

Martin Siregar: Pahlawan dalam Pelarian Widji Thukul


Penampilannya santai, dan sekilas asal-asalan. Jika hanya melihat dari penampilan saja, orang takkan mengira jika orang Batak satu ini--ia bisa menyebut dirinya begitu--punya pengalaman panjang di dunia pergerakan hingga menjadi figur tak terpisahkan dari sosok Widji Thukul yang pernah jadi ikon perlawanan di masa Orde Baru. Sahabatnya itu bernama Martin Siregar.

Saya sendiri mengenalnya sejak masih di Aceh. Apalagi, sosok yang acap saya sapa Bang Martin ini memang tak berbeda halnya dengan Widji Thukul, bisa berada di mana saja. Bagi dia, Nusantara ini adalah tanahnya dan dia bisa dengan mudah mendapatkan kawan di mana saja.

Ya, itu memang tak lepas dari sikap kesehariannya. Karakternya yang ceplas-ceplos, pembawaannya yang tenang, menjadi magnet tersendiri dari sosok asal Sumatra Utara itu. Terlebih dia bisa diajak berbicara dengan gaya apa saja, bisa sangat serius tapi jika bisa kocak dengan sempurna.

Wawasan bapak satu anak ini jangan ditanya lagi. Dia "pemakan" buku yang rajin. Prinsip dia, urusan kekayaan, satu sepeda dan satu rumah dengan satu istri dan satu anak, telah menjadi satu kekayaan sangat besar baginya. Tapi dalam urusan buku, dia tak pernah cukup dengan satu-dua buku.

Tak ayal, jika menanyakan kepada anak-anak yang pernah jadi asuhannya, di Medan misalnya, apa yang paling mereka ingat dari sosok Martin, maka mereka akan selalu teringat dua hal; buku dan sepeda. Cuma itu.

Eko Manurung, salah satunya. Pria bujang yang sangat getol dengan pemikiran Friedrich Nietsche dan menjadi salah satu pegiat kemanusiaan di Medan, juga paling hafal perangai Martin yang sangat berambisi untuk "mengunyah" hampir semua buku.

"Kubilang, Bang, hampir tak ada buku yang tak dikenalnya," ucap Eko, sekali waktu, berkisah tentang Martin. "Dia juga memaksa awak untuk banyak-banyak makan buku. Itu yang bikin dia itu terasa sebagai guru bagi awak."

Nyaris semua buku dilahapnya. Buku-buku bertopik filsafat dan politik memang menjadi buku paling merangsang sosok ini, dan obrolannya seputar dua topik itu bisa tak putus-putusnya meluncur dari mulutnya--ya, jika dia sedang mood berbicara.

Kemampuannya dalam bergaul dengan lintas-profesi, agama, dan usia, membuat dirinya menjadi figur yang menyenangkan. Selain juga, kesetiakawanan dimilikinya pun sangat tinggi dan itu diakui hampir semua sahabatnya dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan yang kini jadi tempatnya berdiam.

Tampaknya, itu juga saat Widji Thukul dalam pelarian, ketika dia merasa tak banyak orang dapat dipercaya untuk berlindung, dia justru mempercayakan dirinya kepada Martin. Dan, Martin pun menunjukkan jiwa Batak-nya yang terkenal setiakawan dan rela berkorban dengan sahabatnya.

Martin menanggung risiko. Dia memilih untuk bersiap jika karena kesediaannya menampung Widji Thukul bisa membuat dia sendiri turut jadi mangsa sebuah rezim yang siap melenyapkannya kapan saja.

Dalam sebuah obrolan, Martin menanggapi itu dengan enteng, "Terbukti, hingga kini awak makin gemuk, kok," kelakar khasnya.

Dan, saat belakangan dunia film Nusantara dihebohkan dengan film Istirahatlah Kata-kata, lagi-lagi Martin jadi "buruan", terutama dari para pemeran di film tersebut.

Maklum, dalam pelarian Widji Thukul, sosok Martin telah menjadi figur sentral karena keberaniannya menampung tokoh buruan aparat di era Soeharto tersebut.

Sebut saja Eduwart Boang Manalu,  di film Istirahatlah Kata-Kata berperan sebagai Martin. Untuk mendalami karakternya itu, dia bahkan memilih menemui Martin ke Pontianak. Praktis, dia pun jadi mengenal pembawaan khas Martin yang bersahaja.

"Dia tipe yang asik," kata Edo--sapaan Eduwart.
Melanie Subono yang berperan sebagai istri saat menemui Martin Siregar - Gbr: Ida

Sementara pertemuan Martin sendiri dengan Thukul berlangsung pada Agustus 1996, saat penyair yang menjadi simbol perlawanan itu merambah Kalimantan Barat dengan menggunakan nama samaran Paul.

Pun, Thukul saat itu tak langsung bertemu Martin, melainkan lebih dulu bersua sahabat mereka lainnya, sebut saja Djuweng dan Darlip. Belakangan barulah "Paul" berdiam di rumah Martin.

Apakah Martin tidak ketakutan akan turut jadi buruan? Jawaban khasnya akan keluar seketika, "Orang Batak mana kenal takut?" begitulah Martin akan menjawab dengan bahasa kelakarnya.

Tapi di banyak kesempatan dia juga berterus terang bahwa ada hal yang mengalahkan ketakutan pada apa pun, dan itu adalah perasaan sayang kepada teman, kepada sesama manusia. "Berani menolong Paul cuma karena aku terpanggil jiwa solidaritas. Apalagi ini berhubungan dengan nyawa manusia," katanya, dan hingga besok Anda tanyakan alasan di balik keberaniannya itu, dia pasti akan menjawab lagi dengan jawaban tersebut.

Patut dicatat, kedekatan Martin dengan Paul alias Thukul bukanlah cerita baru. Di kalangan aktivis, nama Martin telah menjadi buah bibir, karena kebesaran jiwa dimilikinya. Bahkan Majalah Tempo pernah menurunkan berita khusus seputar perjalanan Thukul di pelarian, dan mengupas secara mendalam seperti apa perjalanan penyair itu dan kebersamaannya dengan Martin.

Mungkin Paul alias Thukul betul-betul sudah pergi ke Tuhan yang mengirimnya ke dunia ini. Tapi, Martin pun menjadi kiriman Tuhan tak kalah mulia. Darinya, saya pribadi yang berasal dari daerah tetangga dengan asal Martin, Aceh, banyak belajar darinya; keberanian manusia membantu manusia adalah bukti sejauh mana kualitas seorang manusia.*





Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?