To Learn and Inspiring

Pengunjung

Gajah Pesing: Pengagum Gus Dur yang Menggawangi Komunitas Detik



Namanya kerap membuat orang mengerutkan kening, Gajah Pesing. Nama yang sejatinya hanya menjadi semacam nama pena di dunia blogging itu belakangan justru lebih dikenal kalangan blogger dibandingkan nama aslinya, Fayyas Ahmadullah.

Berasal dari Surabaya, tak heran jika ia terkenal sebagai figur yang mudah bergaul, karena latar belakang "Arek Suroboyo" sedikitnya membentuk kepribadiannya yang cenderung terbuka.

Itu sudah terlihat sejak ia masih di bangku Sekolah Dasar, dia gemar membuat kelompok atau grup karena ingin menonjol dibandingkan teman-teman lainnya.

Di antara hal paling mengesankannya di masa kecil, kelompok belajarnya dan prakarya dihasilkan kelompoknya pernah mendapatkan nilai terbaik dari gurunya.

Siapa nyana, pengalaman di masa kecil berpengaruh besar pada karakternya saat dia memasuki usia dewasa dan berkarier. Dia kian dikenal sebagai salah satu figur yang mampu menjadi magnet dari banyak blogger. Ia mampu merangkul para blogger untuk berjejaring, terutama yang menjadi pengguna blog di lingkungan tempat dia bekerja, Blogdetik.

Bagi dia, komunitas itu memiliki kekuatan, dan keyakinan itu telah menjadi pegangannya sejak kecil dan dibuktikan ketika ia  memasuki dunia pekerjaan yang lagi-lagi tak lepas dari dunia komunitas.

Bahkan, di masa kecilnya, lewat komunitas juga dia pernah melakukan hal-hal mengesankan. Salah satu di antaranya ketika di masa  ia masih SMP (di SMPN 12 Surabaya), kelasnya 1-2G pernah jadi sorotan dan dicap negatif karena dinilai paling badung.

"Kelas kami yang (katanya) terkenal badung dan punya predikat paling ramai saat itu (ada 12 kelas), malah menjadi juara  pertama dalam lomba wajib Pasukan Baris Berbaris (PBB)," dia mengenang masa remajanya. "Prestasi tersebut berlanjut lagi,  kelas kami dinyatakan juara lomba paduan suara satu sekolahan."

Tampaknya itulah yang mengilhami dirinya, sehingga nyaris tak pernah melepaskan diri dari kehidupan organisasi dan komunitas.

"Prestasi itulah yang memacu semangat kekompakan kami," Fayyas berterus terang. "Bahkan, sampai sekarang kami tetap kompak  dalam berkreasi walau sudah terpisah dari berbagai domisili (ada yang sudah stay di luar negeri). Semuanya hanya terkoneksi  dengan grup chatting WhatsApp."

Tak cukup di situ, hampir semua komunitas yang tahu selalu diikutinya.

"Mulai dari komunitas blogger, motor, mobil, hijacking, fotografi, radio komunikasi, mirc, programer, plurk, jual-beli,  fotografi, videografi, internet marketing, dan masih banyak lainnya.Jika disebutkan satu per satu, hingga subuh hari ke-32  belum kelar-kelar," ceritanya seraya terkekeh.

Hal menarik, dia berterus terang tidak suka jika hanya menjadi anggota pasif saja dari komunitas digelutinya. Dia ingin bisa  mewarnai, maka itu, dapat dikatakan dia selalu menjadi pengurus di semua komunitas tersebut.

"Saya selalu terlibat menjadi pengurus. Mulai jadi founder, ketua, wakil, bendahara, manager kopdar dan apa pun itu sebutannya," ujarnya lagi.

Saat ditemukan apa yang menjadi hal paling memotivasinya dalam berkomunitas, Fayyas berterus terang, bahwa yang paling membuatnya termotivasi adalah semangat persaudaraan.

Dari semangat persaudaraan dari komunitas-komunitas itu juga, tak jarang kemudian berdampak jauh, telah ada sejak 2009 dan masih bertahan hingga kini. Namun dia menolak menyebut komunitas tersebut lantaran ada brand dalam nama komunitas tersebut, dan komunitas itu sendiri menjadi perwakilan Asia di dunia otomotif.

Dia meyakini bahwa kegiatan berbau komunitas itu memiliki banyak keuntungan dan efek positif, entah untuk pengembangan diri hingga membuka wawasan. Maka itu, meski telah bergaul dan berkutat di banyak komunitas tak kunjung membuatnya jenus.

"Percaya sama saya! Komunitas itu gak ada matinya! Hampir tiap detik, akan selalu bertumbuh komunitas-komunitas yang baru," ucapnya yakin, menunjukkan alasan kenapa dia bersikeras beraktivitas tak jauh dari dunia komunitas.

Jika sebagian orang acap mengeluhkan berbagai dinamika dan kekurangan dari pribadi ke pribadi dalam komunitas, Fayyas menegaskan dirinya lebih mengarahkan pikirannya pada hal-hal positif saja alih-alih melihat kekurangan dan kelemahan teman-teman komunitasnya.

Maka itu saat ditanyakan apa yang menjadi tantangan terberat sepanjang dia berkutat di dunia komunitas, dia tegas-tegas menjawab tak ada yang membuatnya terbeban atau merasa berat. "Tak ada! Karena saya menyukai komunitas dan enjoy di dalamnya," ucapnya.

Sementara soal apakah tidak sulit bergelut dengan banyak komunitas, dia mengaku itu pun tak membebaninya.


"Jika orang bisa memposisikan mana waktu untuk kerja dan mana waktu untuk keluarga, artinya saya juga bisa seperti itu," dia menjawab dengan memberikan analogi untuk menunjukkan bahwa ada prioritas yang tetap jadi pegangannya.

Sekarang pengagum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut masih menggeluti dunia komunitas. Bahkan di Blogdetik yang berada di bawah PT Trans Corporation, dia dipercayakan menangani Community Development. Selain, dia pun masih meneruskan pendidikan Ilmu  Komputer di Universitas Islam Attahiriyah, Jakarta.

Dengan beban besar di pundaknya, dia lagi-lagi menegaskan tak ingin melihat itu sebagai beban karena dia menikmati pekerjaan sebagai salah satu admin di blog detik. Sementara dalam hal merawat komunitas yang dibangun dan yang sedang digelutinya, dia pun memberikan resep penting, "Saya selalu menganggap mereka sebagai teman dan saudara," dia memberikan pesan. Selain, di komunitas dia memilih melihat dirinya setara dengan anggota lainnya.

Sekarang, dengan perkembangan komunitas, terutama di ranah dunia maya, Fayyas mengaku memiliki impian agar ke depan lebih banyak gerakan sosial yang terbangun hingga dapat membawa manfaat bagi siapa saja.*
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?