To Learn and Inspiring

Pengunjung

Beyond Blogging: Kompasiana versus NowPublic yang Tinggal Sejarah




Ada peribahasa memikat yang sangat saya sukai, yang berbunyi; making a big life change is pretty scary. But, know whats even scarier? Regret! Jika diterjemahkan secara kasar saja, maka bisa bermakna bahwa memilih untuk melakukan perubahan besar itu terkadang menakutkan, tapi ada lagi yang lebih menakutkan dan itu adalah penyesalan.

Ya, peribahasa itu berkelebat lagi di benak saya saat sosok Iskandar Zulkarnaen yang kini dipercaya sebagai leader di media "keroyokan"--istilah populer di  kalangan penggunanya--mengumumkan  Kompasiana mengubah visinya dan terlihat dari moto yang kini dipegang. Bukan lagi "Sharing and Connecting", melainkan lebih simpel lagi. Hanya dua kata, Beyond Blogging!

Berada di media tersebut sejak 17 September 2009 dan telah menulis lebih dari 800 artikel seraya menyimak perubahan demi perubahan, mengantarkan saya  pada kesimpulan; perubahan itu sendiri telah identik dengan Kompasiana.

Ini tak hanya pergantian tongkat kepemimpinan dari Pepih Nugraha kepada Iskandar, sebab jauh sebelum itu telah banyak perubahan dilakukan media komunitas di bawah Kompas Gramedia ini. Dan, perubahan demi perubahan itu juga yang tampaknya membuat Kompasiana acap menuai pujian dan mendapatkan berbagai penghargaan.

Dari semua penghargaan itu, yang paling bergengsi dapat ditunjuk ke PAsian Digital Media Awards pada 2010, untuk kategori Best in Digital Content-User Generated Content WAN-IFRA. Ini tentu saja bukan hanya kebanggaan milik pengelola atau perusahaan yang menaungi mereka, tapi para penulis di Kompasiana ini pun turut kecipratan kebanggaan itu.

Bagaimana tidak, WAN-IFRA itu sendiri telah terkenal luas sebagai tempatnya surat kabar dan usaha penerbitan dunia bernaung. Dan, dapat ditebak, untuk dapat diganjar dengan penghargaan itu, Kompasiana harus menyisihkan media-media lain yang juga menganut platform sejenis.

Sejak penghargaan bergengsi itu diraih, Kompasiana masih terlihat rajin melakukan perubahan. Terkadang terkesan mendadak, terkadang terkesan disengaja untuk dijadikan kejutan. Tak selalu menuai apresiasi sepadan, sebab acap kali juga menuai kritikan pedas atau bahkan kejam. Tapi hal-hal seperti itu  tak membuat para pengurus Kompasiana berhenti mencari formula terbaik.

Kemunculan slogan baru "Beyond Blogging", satu sisi terkesan menepikan nilai yang pernah terbangun di lingkungan Kompasiana--terutama para penggunanya. Sekali lagi, itu hanya kesan.

Pasalnya, ada pesan penting dari slogan sebelumnya, "Sharing and Connecting" bahwa di Kompasiana siapa saja dapat berbagi; lewat pikiran, pengalaman, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan dunia blogging. Sekaligus, di sana juga memunculkan sugesti bahwa Kompasiana tidak membatasi siapa akan terhubung dengan siapa.

Ada magis dari slogan lama tersebut, dari anak remaja yang kesulitan dengan pendidikannya ada yang pernah terbantu oleh salah satu petinggi lembaga negara sekelas Dewan Perwakilan Rakyat. Ada juga komunitas-komunitas yang lahir, entah lewat kesamaan hobi seperti fotografi, film, atau bahkan buku.

Di komunitas-komunitas yang memang lahir dari para pengguna Kompasiana itu, keakraban satu sama lain jadi lebih terbangun. Tak ada sekat, tak ada diskriminasi, semua menyatu dan berbaur. 

Trio di balik Kompasiana dari awal berdirinya media tsb
Desa Rangkat, salah satunya, sekaligus menjadi komunitas paling mengesankan bagi saya. Di sana mereka saling berkreasi, memotivasi, dan membangun hubungan selayaknya keluarga. Tidak itu saja, mereka pun saling berlomba dengan karya demi karya, terutama penulisan buku.

Satu dari dua prinsip yang diwakilkan dalam slogan mereka saat itu, "Connecting" menunjukkan dampaknya.

Ada juga komunitas-komunitas lain seperti Fiksiana, yang meski telah berkali-kali berganti kepengurusan, mereka masih menunjukkan diri sebagai komunitas solid dan kuat. Walaupun, iya, ada gesekan-gesekan yang sempat terjadi namun tak membuat mereka lantas patah arang. Mereka tetap mampu melakukan konsolidasi dan semua terjadi secara alami.

Padahal jika disimak-simak, mereka di komunitas-komunitas itu tidaklah dibangun dari orang-perorang yang betul-betul saling mengenal secara dekat di  luar ranah internet, kecuali beberapa saja. Tapi justru di situ keajaiban terjadi, mereka mampu membangun kepercayaan, hingga mereka acap mampu melakukan berbagai kegiatan dan sukses.

Agil Batati yang acap disapa dengan Kong Ragile, salah satu pengguna senior Kompasiana yang juga andal di dunia teknologi informasi, dan telah lebih lima tahun berkecimpung di sana, pernah berpendapat bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di media itu pun memiliki sisi menarik tersendiri.

"Dari semua kalangan dapat berkumpul di sini, bisa menjadi saudara, dan ini sesuatu yang terbangun dari kekhasan dunia cyber, satu sisi. Tapi, justru ketika mereka bisa melakukan banyak hal begitu, di situ terlihat keberhasilan sebuah media seperti Kompasiana," katanya, dalam sebuah perbincangan di Taman Ismail Marzuki,sekali waktu.

"Tidak  masalah adanya konflik sekalipun antara sesama pengguna, atau pengguna dengan pengurus Kompasiana, tapi toh selama ini semua baik-baik saja. Dinamika seperti itu justru membantu membuat semuanya menjadi lebih dewasa dan terbiasa dengan hal-hal yang berbeda," ucap sahabat berdarah Arab tersebut.

Ya, sedikitnya itulah yang terejawantahkan dari prinsip Connecting.

Tjiptadinata Effendi, 73 tahun, yang tercatat sebagai salah satu blogger tertua sekaligus paling produktif menulis di media itu, pun pernah mengakui efek magis dari slogan lama dianut Kompasiana.

"Magnet yang sangat kuat menarik saya untuk bergabung di Kompasiana adalah motonya yang berbunyi ”Sharing and Connecting”. Mengapa? Karena dalam perjalanan hidup, falsafah yang senantiasa menjadi kompas atau penuntun arah bagi saya adalah ”life is to share”, yang artinya hidup adalah untuk berbagi," ucap sosok yang juga dinobatkan sebagai Kompasianer of the Year 2014 tersebut.

Lalu, apakah slogan baru yang digaungkan memasuki tahun 2017 adalah sebuah kekeliruan atau memang sesuatu yang betul-betul dibutuhkan?

Sebelum terlalu jauh menelisik itu, menyimak pada apa yang terjadi pada NowPublic, sebuah situs dengan platform tak jauh dari Kompasiana dan berbasis di Kanada pantas dijadikan sebagai satu acuan.

NowPublic itu bermarkas di Vancouver, Kanada. Mereka berdiri lewat trio Michael Tippet, Leonard Brody, dan Michael E. Meyers. Pendirian media itu sendiri bukan baru-baru ini, melainkan telah ada pada 2005.

Mereka sendiri juga sempat melakukan berbagai perubahan serius, tak terkecuali perubahan pada kepemilikan. Per 2009, NowPublic diakuisi oleh Clarity  Digital Group yang berada di bawah The Anschutz Company yang bermarkas di Colorado, Amerika Serikat.

Kehadiran Anschutz sebagai holding company dan telah eksis sejak 1958, tak banyak menguntungkan bagi NowPublic, terutama dalam kemampuan mereka untuk survive.

Per 27 Desember 2013, NowPublic justru gulung tikar. Menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi dunia Citizen Journalism. Pasalnya, pamor dimiliki NowPublic betul-betul mendunia. Bahkan Time pernah menobatkan mereka sebagai satu dari 50 situs terbaik pada 2007.

Bukan main, tentunya. Apalagi mereka memiliki tak kurang dari 97 ribu kontributor saat itu, dan berasal dari 140 negara, berdasarkan rilis Time per 8 Juli 2007.

Para kontributor NowPublic, berdasarkan catatan Time, pernah berperan penting mengabarkan Badai Katrina yang pernah menghantam benua Amerika, hingga kasus bersejarah di Heathrow Airport di mana mereka dapat "bekerja" di tengah ancaman teroris ketika jurnalis media mainstream hanya bisa menunggu di luar bandara.

Belakangan mereka sempat menjalin partnership dengan media sekelas Associated Press, dan lagi-lagi tak dapat mencegah mereka dari "kematian". NowPublic menjadi sejarah.

Lalu, apa korelasi dengan Kompasiana?

Lagi-lagi saya harus mengatakan, perubahan. Itu tentu saja bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat fisik, dari personil, perusahaan mana yang memayunginya, atau sekuat apa tim IT dilibatkan. Tapi juga dalam "roh" yang dibangun dan dijadikan sebagai penggerak dan tubuh Kompasiana itu sendiri.

Slogan "Beyond Blogging" satu sisi memang terasa tidak menyentuh secara langsung sisi "human" atau manusia yang berada di balik aktivitas blogging. Justru yang paling kental terasa adalah sebuah visi yang lebih memperlihatkan harapan besar menyusul berbagai perubahan, agar dapat menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada yang pernah dicapai selama ini.

Dari sisi bahasa, merujuk kamus Meriam-Webster, Beyond diterjemahkan sebagai; 1. On or to the farther side (farther), 2. In addition (besides).

Sementara, dari rasa bahasa, tentu saja itu cukup mewakili sebuah impian yang lebih baik dari yang pernah ada, atau bahkan membawa manfaat yang jauh melampaui apa yang selama ini telah digapai.

Selama ini, dampak Kompasiana tak disangsikan lagi. Dari para politisi, selebritas, hingga tokoh-tokoh lintas bidang pun, acap menjadikan media ini sebagai acuan. Bahkan ada pengakuan, dosen di beberapa kampus merekomendasikan Kompasiana sebagai salah satu referensi dalam melihat perkembangan opini publik hingga isu apa yang paling diminati masyarakat.

Dalam kemampuan "pressure" atas berbagai kebijakan pemerintah sekalipun, Kompasiana terbilang sangat diperhitungkan dan tak kalah dari media mainstream.

Itu juga yang tampaknya membuat presiden sekalipun tergerak untuk mengundang pengurus dan penulis Kompasiana ke istana, sebuah sebuah bentuk pengakuan, bahwa ini bukan media sepenuhnya media kelas dua.

Ada kekuatan di sini, terutama dalam membawa berbagai manfaat yang bisa berdampak kepada publik yang jauh lebih luas. Di sisi ini, slogan Beyond Blogging, dapat dikatakan sebagai pilihan visi yang tak berlebihan dan justru positif karena bermuatan arah ke mana media ini ingin di bawa.* (Photo: Dok. Kompasiana/Isjet)



Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?