dunia lain untuk bicara

19 Januari 2017

Anton Charliyan: Pasang Badan Hadapi FPI


"Silakan saya diusulkan mau dicopot juga tidak masalah. Saya ke sini (Jawa Barat) bukan mencari jabatan, tapi saya ke sini untuk membuat masyarakat Jawa Barat aman," menjadi kalimat yang menunjukkan ketegasan sosok Inspektur Jenderal Pol. Dr. Drs. H. Anton Charliyan,  Kapolda Jawa Barat.

Pernyataan itu tak lepas dari sikap Imam Besar Front Pembela Islam yang acap dikenal sebagai FPI, Rizieq Shihab, yang terkesan mengompori massa untuk menentang aparat kepolisian.

Bahkan belakangan, Rizieq Shihab benar-benar melaksanakan ancamannya, memobilisasi massa dengan ekspektasi agar Polri melakukan pencopotan Anton dari jabatan tersebut.

Alih-alih mencemaskan efek aksi itu, Anton memperlihatkan sikapnya akan tetap bekerja sebagai aparat negara, sebagai anggota bhayangkara untuk mengusut dan mendudukkan yang bersalah tetap sebagai tersalah. Tidak menjadikan alasan kesamaan agama lalu membenarkan segalanya.

Nama Anton mencuat karena dia dinilai terlalu terbuka menunjukkan ketegasan di depan figur sekelas Rizieq Shihab yang terkenal lihai mengompori massa, dan bahkan konon ditakuti banyak aparat pemerintah dari militer hingga sipil.

Alih-alih memusingkan pamor Rizieq Shihab, Anton lagi-lagi memilih tetap berdiri sebagai abdi negara yang harus menempatkan rakyat secara sejajar, tak melebihkan satu figur dan satu golongan di atas figur dan golongan lainnya. Tak pelak, Rizieq yang terbiasa dielu-elukan pengikutnya merasa dilecehkan dengan pendirian jenderal polisi tersebut, hingga membuatnya mengagitasi jamaahnya dan melakukan demontrasi.

Tapi, sikap Anton pun dinilai banyak kalangan sebagai ekspresi objektivitasnya sebagai seorang petinggi Polri yang membawa  kepolisian se-Jawa Barat. Dia mencium aroma yang menjurus pada penghasutan yang terlihat sedang diembuskan secara massif oleh Rizieq.

Maka itu, alih-alih mencemaskan soal jabatan yang diembannya, Anton mengeluarkan peringatan balik, bahwa jika Rizieq bisa  mengancam dengan menggiring massa, maka dia akan bekerja selayaknya aparat negara yang menjalankan tugas yang telah diatur negara.

"Demi bangsa dan negara, jangankan pangkat dan jabatan, nyawa saya juga diserahkan," Anton menegaskan sikapnya di sela-sela kunjungannya ke kediaman tokoh Jawa Barat Solihin GP, Selasa (17/1), seperti dilansir Tribunnews.

Seperti diketahui, Anton sendiri terkenal pernah menimba ilmu keislaman dan mendalami tarikat di pesantren Suryalaya, seperti halnya Solihin GP. Terlebih pesantren itu sejak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menguasai sebagian Jawa Barat pun, mereka teguh dengan prinsip dan berani menghadapi gerombolan DI/TII.

Tentu saja, sejarah DI/TII sendiri tak lepas dari pengetahuan sosok Anton. Apalagi jenderal bintang dua ini memang dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang notabene memiliki memori tersendiri atas aksi DI/TII yang pernah digerakkan Sekarmaji Maridjan Kartosoewirdjo.

Ya, di tanah kelahirannya, Tasikmalaya, Kartosoewirdjo pernah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia dan memiliki kekuatan sangat berat. Sementara Pesantren Suryalaya yang didirikan Syaikh Abdullah Mubarok (Abah Sepuh), yang menjadi tempat Anton pernah belajar tarikat, terkenal sebagai pesantren yang anti-pengkhianatan dan sempat dimusuhi DI/TII karena ketegasan mereka tetap setia pada negara yang baru lahir saat itu, Indonesia.
Gbr: Kompas.Com

Maka itu, latar belakang dirinya sebagai penganut tarikat dan pernah mendalami sufistik di pesantren yang menganut tarikat Qadiriyah Naqshabandiyah yang terkenal setia kepada NKRI, sedikitnya turut memengaruhi keberanian dan ketegasan Anton dalam melihat FPI yang notabene sebagai organisasi garis keras.

Maka itu ia terlihat tak gentar ketika berbagai agitasi hingga provokasi gencar dilakukan FPI. Termasuk memfitnahnya sebagai motor di balik kericuhan FPI sendiri dengan organisasi Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia yang terkenal dengan GMBI.

Namun belakangan terbukti, fitnah FPI hanya sekadar agitasi dan provokasi agar masyarakat muslim awam terkecoh dan memusuhi Kapolda Jabar tersebut. Terlebih setelah Polri mengakui jika keberadaan Anton di GMBI dilakukan dengan sepengetahuan Kapolri, dan ditujukan hanya agar dapat mengontrol organisasi tersebut.

Itu juga diakui pengurus GMBI sendiri.

Fauzan Rachman, Ketua Umum DPP LSM GMBI, seperti dilansir Detik berterus terang jika Anton hanya menjadi pembina organisasi tersebut. "Kang Anton sejak 2009 sebagai Ketua Dewan Pembina GMBI. Waktu itu zaman Kang Anton menjabat Kapolwil Priangan. Beliau ini tujuannya sangat baik, yaitu mau mendidik kita," kata Fauzan.

Santri moderat

Meski memiliki rekam jejak santri sekaligus tarikat, namun Anton juga terkenal dengan sikap terbuka dan tak ketinggalan dalam mengikuti perkembangan zaman. Terbukti, ia juga aktif sebagai pengguna Instagram dan Twitter.

Dari jejaring sosialnya itu juga dengan mudah dapat diikuti bagaimana karakter Kapolda tersebut. Ia acap membangun keakraban dengan masyarakat lewat guyon-guyon sederhana hingga celotehan bernada canda namun mampu memberi inspirasi.

Tapi dalam sikapnya yang gemar humor, dia pun terlihat tidak main-main ketika berurusan dengan perannya sebagai abdi negara.

"Saya bukan penakut. Jabatan hanya amanah sementara. Saya ke sini bukan untuk jabatan, saya hanya ingin masyarakat aman," katanya di beberapa kesempatan bersua kalangan pers."Seandainya saya salah silakan, saya enggak perlu dicopot, (tapi) saya akan mengundurkan diri kalau memang terbukti salah."

Pernyataan sikapnya itu memang tak lepas dari aroma perang propaganda dilancarkan Rizieq Shihab dan FPI, organisasi yang selama ini kerap dinilai kebal hukum oleh banyak kalangan. Terlebih ada kabar yang menyebutkan bahwa ada petinggi negara yang menjadi pelindung organisasi itu, sehingga membuat banyak pihak ciut menghadapi mereka. Beruntung, Polri memiliki Anton Charliyan, dan ia masih berdiri dan bekerja dengan berani.*

Posting Komentar
Adbox