dunia lain untuk bicara

22 Desember 2016

Yohana Yembise, Menteri Perempuan Paling Memikat dari Papua


Dari sekian nama menteri, nama Yohana Yembise dapat dikatakan sebagai salah satu menteri paling menarik. Pertama, karena dia berasal dari Papua yang notabene sebagai provinsi terjauh dari Jakarta, kedua karena dia menjadi menteri perempuan pertama dari sana.

Kenapa menarik?

Pertanyaan itu sangat pantas ditanyakan oleh siapa saja. Namun ini tentu saja bukan sesederhana menakar seberapa cantik seorang perempuan dibandingkan perempuan lainnya. Ini jauh di atas itu, karena berkaitan erat dengan seberapa berkualitas seorang perempuan dengan perempuan lainnya.

Mau tak mau harus diakui, Yohana adalah salah satu perempuan Papua yang mampu keluar dari keterbatasan. Dia mendobrak anggapan bahwa tanah kelahirannya identik dengan ketertinggalan.

Ia mampu meruntuhkan anggapan itu dengan kualitasnya, dan kepercayaan besar yang dipundakkan negara kepadanya; menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak 27 Oktober 2014.

Baca: Aiptu Sutisna dan Haji Gratis dari Pemerintah Saudi

Sejujurnya, setiap melihat wajah menteri ini, saya pribadi merasa menemukan keteduhan tatapan seorang ibu. Dari perjalanan riwayat hidupnya, saya menemukan kekuatan seorang ibu yang memiliki kekuatan "menghidupkan".

Dia bukan figur yang genit kepada media. Dia nyaris dapat dibilang jarang diekspose oleh media, kecuali jika ada kasus-kasus tertentu yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Nyaris tak ada pernyataan-pernyataan berlebihan saat menanggapi berbagai kondisi.

Dia dapat dibilang sebagai perempuan yang hemat bicara, yang terbukti sedikitnya dia tampil di depan media di luar hal-hal yang memang dirasa teramat penting untuk dibicarakan.

Di sini menunjukkan sinyal karakternya sebagai seorang perempuan yang memiliki fokus dan konsentrasi, yang tak ingin terusik dengan gonjang-ganjing kecuali mengarahkan pikiran dan tenaganya kepada tanggung jawab yang harus diemban olehnya.

Tak berlebihan jika seorang Presiden Joko Widodo alias Jokowi "jatuh cinta" kepada sosok yang juga menjadi profesor perempuan pertama dari tanah Papua.

Terpenting lagi, doktor dari Newcastle University ini ini meninggalkan inspirasi sangat besar, terutama kepada kalangan perempuan di berbagai belahan negerinya, terutama di kawasan yang acap dinilai tertinggal. Dia menunjukkan lewat sepak terjangnya, betapa, soal jenis kelamin dan dari mana berasal bukan menjadi persoalan.

Dia mewakili pepatah, bukan dari mana engkau berangkat, tapi ke mana engkau menuju. Itulah yang dengan tegas diperlihatkan oleh menteri kelahiran Manokwari, 1 Oktober 1958 ini.

Yohana tidak terpaku pada pandangan bahwa dirinya berasal dari kawasan yang tidak semaju belahan nusantara lainnya. Tidak terjebak anggapan bahwa perempuan tak dapat melakukan hal luar biasa. Dia mengarahkan pikirannya untuk membanggakan Papua, dan dia juga telah membuat Indonesia bangga.

Betapa tidak, dari perjalanannya dan pengabdiannya kepada negara, Yohana meninggalkan pesan penting sekalipun dia tak menggurui dengan kata-kata. Tindakan dan lakon hidupnya itulah yang menjadi pesan kepada perempuan Indonesia, bahwa benih baik dapat tumbuh di mana saja.

Perempuan Papua akan menjadikannya sebagai contoh, sebagai model untuk melihat bagaimana keberanian dan kekuatan perempuan dalam meraih puncak sebagai manusia sekaligus puncak pengabdian. Perempuan Indonesia umumnya pun akan terinspirasi olehnya, bahwa keterbatasan yang melingkari mereka bukan alasan untuk berhenti, kecuali melakukan apa yang mereka bisa.*



Posting Komentar
Adbox