To Learn and Inspiring

Pengunjung

Taufik, Penulis yang Lahir dalam Konflik





















Saat Aceh masih didera konflik, terutama ketika status Daerah Operasi Militer (DOM) masih belum dicabut, Taufik Al Mubarak masih  bocah. Sejak masih di madrasah (sekolah dasar), ia sudah mulai mencium hingga melihat mayat yang menjadi korban dari sebuah perang yang dihalusnamakan dengan operasi militer.

Saat Taufik beranjak remaja pun, perang masih berlangsung di sana.Di tengah situasi itulah satu kegemaran tumbuh pada dirinya,  penasaran pada buku-buku, keranjingan membaca "bacaan dewasa", hingga tertarik untuk menulis.

Bacaan dewasa yang dikunyah olehnya itu adalah buku-buku seputar sastra hingga politik, tak terkecuali agama. Topik-topik berat yang konon hanya layak dibaca oleh kalangan dewasa, dikunyah olehnya begitu saja. Baginya, tak ada alasan untuk membatasi diri pada apa saja yang dirasa menantang olehnya.

Penasaran. Itulah yang diakuinya sangat melekat dengan kepribadiannya. Maka itu saat salah satu gurunya tercium olehnya mengoleksi banyak media-media nasional seperti Tempo, dia pun menjadi pelanggan tetap dalam arti kerap memelototi majalah itu, walaupun  topik-topik di sana terbilang berat untuk seorang anak yang baru beranjak remaja.

"Saya penasaran dengan hal-hal baru," katanya, saat menceritakan karakternya sendiri. "Menulis pun karena rasa penasaran. Awalnya  cuma terpikir, tulisan orang kok dimuat di koran?"

Ya itulah yang berkelebat di benak seorang bocah, sehingga sejak Tsanawiyah (SMP) dia sudah mulai menekuni kegiatan menulis. Dari hanya untuk dibaca sendiri setelah ditulis di kertas folio, sampai kemudian memberanikan diri menulis ke surat kabar.

Taufik (kiri) saat sedang bersama salah satu teman aktivisnya di Aceh - Gbr: Andi Firdaus
Serambi Indonesia di Aceh dan Harian Waspada di Sumatra Utara, menjadi dua media yang menjadi tempat baginya menyalurkan kegemaran baru; menulis! Layaknya anak-anak Aceh lainnya, dua media itu memang paling akrab dengan mereka, terlebih di era 1990-an banyak
berisikan kartun Gam Cantoi yang diasuh M. Sampe Edward, hingga Apiet Awee, selain kartun-kartun rutin mingguan.

Jika remaja lainnya hanya menjadi penikmat, Taufik justru menjadikan media sebagai tempatnya untuk menyalurkan bakat yang telah diasah olehnya diam-diam. Berawal dari menulis surat pembaca di Serambi Indonesia, hingga akhirnya menulis cerita pendek.

"Tapi, cerita pendek itu kali pertama dimuat, ya di Harian Waspada," kenangnya.

Potret Tua, itulah cerpen pertama yang dimuat di surat kabar Waspada. Berisikan kisah yang sejatinya diambil dari realita yang dilihat olehnya sebagai seorang anak, yang gelisah kenapa harus ada perang, kenapa ada kematian yang mengerikan, hingga diolah olehnya hingga menjadi cerita fiksi.

Belakangan, kegelisahan itu membawanya ke dunia aktivis, setelah dia beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa di UIN Ar-Raniry (saat itu IAIN).

Bahkan seorang sahabatnya tewas mengenaskan, dengan bola mata yang hilang, dan tubuh rusak bekas tusukan. Itu menjadi pengalaman kelam lainnya yang mengisi lembaran perjalanannya.

Tapi, pengalaman itulah yang tampaknya kian mengasahnya, membuatnya lebih peka dengan keadaan, dan nalurinya pun menjadi lebih tajam.

Itu juga yang kemudian mengalir selayaknya air deras dalam tulisan-tulisannya yang mengisi berbagai media massa. Terlebih saat dia masih berusia 20-an tahun, sudah menjadi pemimpin redaksi di media ternama Aceh di awal 2000-an, Harian Aceh.

Tulisan-tulisan itu belakangan lahir menjadi sebuah buku yang kontroversial dari judul hingga isinya--yang berisikan satire atas realita di sekelilingnya. Buku itu bertitel "Aceh Pungo" yang sama artinya dengan "Aceh Gila", yang justru laris di pasaran bak kacang goreng hingga masuk daftar best seller.

Tampaknya warna tulisannya memang sangat dipengaruhi sekali oleh penulis nasional yang digemarinya, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Goenawan Mohamad, Mohd Sobary, Mahbub Djunaidi. Tak terkecuali dalam hal berpikir kritis, dia pun tak jauh-jauh dari tokoh-tokoh tersebut terlepas Taufik lebih gandrung menyorot hal terdekat dengannya, Aceh.

Ya, bagi dia Aceh tak lagi sekadar tempat kelahiran. Di sana dia merasa itulah tempat pengabdiannya.

Taufik dalam salah satu lawatannya ke luar negeri - Gbr: Ist
Pernah di masa konflik, ketika dia dikejar-kejar aparat keamanan karena dicurigai memiliki kedekatan dengan Gerakan Aceh Merdeka, dia hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun.

Tapi betapa menggodanya Jakarta, tak benar-benar mampu membuatnya tergoda sepenuhnya.

Aceh seperti memanggilnya, hingga memutuskan untuk pulang, hingga menikah, dan memiliki dua orang anak lelaki yang mirip persis dengan wajahnya sendiri.

Liku-liku perjalanannya, dan berbagai kesulitan mengadangnya termasuk yang mengancam nyawanya, tak membuatnya berhenti.

Dia terus  bergerak, dan bahkan berlari makin kencang bersama penanya. Jari-jemarinya masih aktif menulis, terbanyak tetap yang bertemakan ke-Aceh-an. Karena Aceh-lah yang selama ini benar-benar mampu membuatnya jatuh cinta.

Maka itu jangan heran jika ditanyakan kepadanya, siapa yang menjadi tokoh panutannya? Dia takkan sungkan menjawab, Daud Beureueh dan Hasan Tiro, dua figur yang memang selayaknya guru dengan murid.

Seragam khas Aceh yang jadi kebanggaan Taufik
Yang satu, Beureueh, adalah ulama sehingga menggerakkan perlawanan lewat DI/TII di bawah S.M Kartosuwiryo. Yang satu lagi, Tiro, cenderung lebih luwes dan akrab dengan pemikiran barat dan hafal Zarathustra-nya Friedrich Nietzsche, namun keduanya sama-sama aktif dengan pergerakan yang mampu membuat pemerintah menguras pikiran dan tenaga tak sedikit untuk meredam perlawanan mereka.

Bukan karena ingin perang. Taufik hanya menyukai kemampuan pidato Beureueh yang dinilainya sangat mampu menghipnotis banyak orang.  Sementara Tiro, menurutnya, mampu menarasikan sejarah masa lalu Aceh. Itulah yang membuatnya menggandrungi kedua figur itu dan acap menulis tentang mereka.

Maka itu, Taufik sendiri memilih jalan kepenulisan, meski dia pernah gonta-ganti profesi, namun tak pernah berhenti menulis.Bahkan dia tetap ngeblog di jumpueng.blogspot.co.id.

Baginya, semangat menulis itu penting dijaga. Blog menjadi salah satu saluran yang dapat dimanfaatkan kapan saja, selain tetap menulis untuk media mainstream.

"Jangan mudah terlena dan tergoda untuk kepentingan jangka pendek," katanya kepada tul@rin. "Terus asah kemampuan menulis itu. Jangan mudah puas dengan kemampuan yang sudah dimiliki. Dunia kepenulisan dan medium penyampaian pesan  terus berubah. Kita harus siap."*



  
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?