To Learn and Inspiring

Pengunjung

Sejenak dengan Garin Nugroho: Sineas Petualang yang Bicara Pasar Tradisional



Idealis. Itulah yang melekat pada sosok Garin Nugroho. Aktor sekaligus sineas ini dikenal dengan ide-idenya yang dinilai kerap menabrak kelaziman. Ada saja yang berbeda yang ingin ditonjolkannya, entah dalam film atau bahkan kegemaran di luar ranah tersebut.
Baru-baru ini dia terlihat berada di Palmerah, Rabu 21 Desember 2016. Apakah dia sedang bikin film? Tidak.

Dia hanya sedang hadir di acara bertajuk Festival Pasar Rakyat yang dihelat Yayasan Danamon Peduli yang menggandeng Kompasiana.com.

Di acara yang berlangsung di Gedung Serba Guna Bentara Budaya Jakarta tersebut, dia dinobatkan sebagai narator yang berbicara seputar pasar. Bukan film.

Ia membalut berbagai cerita seputar roda ekonomi masyarakat nusantara yang identik dengan pasar rakyat, bersama berbagai rekaman sejarah yang diceritakan olehnya dengan bahasa berkarakter, dan kuat.

Betapa tidak. Hanya lewat gaya bertutur, sineas kelahiran 6 Juni 1961 itu mampu membawa imajinasi pendengarnya ke berbagai tempat dan lintas waktu.

Sesekali dia menggambarkan bagaimana dunia pasar rakyat di masa lalu; di era kolonial,  awal masa kemerdekaan hingga dekade-dekade setelahnya.

Kemampuannya dalam bertutur memang mampu menyihir. Tampaknya latar belakang pendidikannya dari Institut Kesenian Jakarta dan pengalamannya di dunia sineas betul-betul membuat kemampuannya "menyihir"  ala pegiat seni kawakan berpengaruh dalam cara bertuturnya.

Di Jakarta, menurutnya, berbagai pasar yang pernah ada seperti Pasar Senen tak hanya berisikan sejarah jual beli, tapi di sana juga tercipta peradaban, hingga lahirnya seniman-seniman yang kian mengangkat peradaban itu sendiri.

"Ya, Pasar Senen di masa lalu memang asalnya menjadi tempat bertemunya penjual dengan pembeli, tapi di sana juga menjadi tempat bertemunya mereka yang bergerak di ranah seni," Garin berkisah, di sela-sela alunan musik keroncong yang menjadi latar pertunjukan aksi bertuturnya.

Di sana juga lantas dia berkisah berbagai hal yang berhubungan dengan pasar di negeri kelahirannya.
Garin mampu mengulasnya dengan cantik, menciptakan slide-slide berisikan gambar dunia pasar, dalam pikiran pendengarnya meski dia sama sekali tidak menayangkan gambar pasar-pasar itu selayaknya dalam film-filmnya.

Gambar orang-orang yang bertemu di pasar, berinteraksi, melakukan tawar menawar, bertegur sapa, muncul begitu saja di benak saya sebagai salah satu pendengar aksi tuturnya. Gambar itu betul-betul hadir hanya lewat kata-kata yang dituturkan oleh pemenang anugerah Best Film di Festival Film Indonesia 1991 tersebut.

Tak heran jika dulu dalam usia 30 tahun ia telah memenangi penghargaan bergengsi untuk film debutnya sebagai sineas, Cinta dalam Sepotong Roti.

Seusai dia tampil, saya tak terlalu jauh mengikuti acara tersebut, karena pekerjaan saya di salah satu media membuat saya harus beranjak pergi.

Di sela-sela mengobrol dengan istri dan bercengkrama dengan anak yang juga saya boyong ke acara ini, menjelang pulang, saya sempatkan mencegatnya.

Di sanalah dia menuturkan harapannya, agar pasar tradisional tetap terjaga. "Karena di sinilah kita dapat menemukan wajah kita, Indonesia," katanya.*

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?