To Learn and Inspiring

Pengunjung

Menggali Budiono, Sosok Pendiri Detikcom


Pernah mendengar nama Budiono Darsono? Jika Anda menjadi salah satu yang acap memanfaatkan 
detik.com sebagai referensi tiap kali ingin mencari tahu berita terbaru, maka Anda "durhaka" jika tidak mengetahui nama tersebut.

Ya, dia adalah pendiri DetikCom.

Sosok yang di awal kelahirannya bernama Budiman itu, memang menjadi salah satu penggawa di balik keberadaan detik.com sebagai salah satu media online terdepan dalam menyajikan kabar-kabar teranyar. Selain, ada juga tiga sosok lain yang merupakan sahabat dekatnya, seperti Yayan Sofyan, Abdul Rahman--mantan wartawan Tempo, dan Didi Nugrahadi.

Keunikan sosok tersebut, selayaknya pekerja media, dia punya misteri tersendiri. Salah satu di antaranya, acap kali menyembunyikan  salah satu bagian identitasnya, dan itu adalah tahun kelahirannya sendiri.

Pernah di blognya, budiono.blogdetik.com, ia berujar bahwa untuk tahun kelahiran biar saja menjadi misteri. Bahkan sempat ada niatnya  untuk mengadakan semacam kuis untuk menebak tahun kelahirannya.

Tentu saja, itu hanya guyon saja, sesuai dengan kepribadiannya yang menurut beberapa kalangan dekatnya memang gemar guyon, meski juga bisa sangat serius dalam beberapa hal lain.

Tak mudah mengulitinya. Salah satu di antara alasannya, tentu saja karena lebaran haji masih jauh. Eh, maksud saya karena memang tak cukup gampang untuk mengakses ke sosok tersebut.

Ada kesan kuat, dia tak ingin menjadi bagian ingar bingar setelah perjalanan panjangnya di dunia media yang telah melewati lintas zaman, sejak Orde Baru masih kokoh-kokohnya.

Dia terlihat ingin menikmati ketenangannya di usianya yang telah beranjak 55 tahun tersebut.

Jadi, meski dia menjadi salah satu kontak saya di Facebook, tak menjadi kemudahan tersendiri bagi saya untuk mengontaknya--karena pernah saya kirim pesan inbox, tidak berbalas. Boro-boro bisa meminta izin untuk mengejarnya di mana dia sekarang, dari tempat tinggalnya, dan di mana sering dia menghabiskan waktu.

Jadilah, nekat. Internet itu menjadi ensiklopedi mahabesar--mudah-mudahan Tuhan tidak marah, seperti Dia tidak marah ada istilah mahasiswa. Jadi manfaatkanlah internet, untuk menelusuri sosok yang memang dari dulu mengundang rasa penasaran saya itu. Orang ini perlu direkam perjalanannya, setidaknya bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang perlu banyak jalan.

Sampai akhirnya bertemu dengan blognya. Di sanalah saya menggali dan menggali seperti apa sosok ini.

Satu kesan kuat, orang ini memang jenaka. Tulisan-tulisan yang dituangkannya di blog tersebut, meski ringkas, namun mampu mengundang tawa.

Dia berbagi pengalaman dan inspirasi dengan cara yang sama sekali tak tercium bau menggurui--mungkin karena bau ini tidak sekencang bau jengkol. Melainkan, dia menuangkannya dengan cara yang renyah dan sarat candaan. Tak terkecuali saat membicarakan masa kecilnya, terutama berkaitan dengan namanya.

Di artikel yang dilabeli "Lahir sebagai Budiman, Lalu Diubah Jadi Budiono" dia mengakui jika di awal kelahirannya memang sempat ditabalkan nama Budiman.Tapi kemudian, diketahuinya cuma karena ayahnya sendiri yang dipengaruhi satu mimpi.

Di mimpi itu, ayahnya didatangi seseorang berbaju putih, dengan rambut dan janggut berwarna senada.

"Gantilah nama anakmu menjadi Budiono," kata orang tua tersebut, dan diikuti begitu saja oleh ayahnya. Budiono sempat menggugatnya, kenapa namanya diubah? Jawaban ayahnya pun simpel saja, "Aku keburu terbangun sehingga tidak tahu alasannya."

Kisah lain tak kalah menarik saat dia menuangkan cerita dalam tulisan berjudul Eks Tempo, Eks Surabaya Post, dan Alumni Detik.

Di sana, dia sempat menukil pengalamannya setelah meninggalkan Majalah tempo, dan lebih menyukai sebutan "Eks Tempo" alih-alih sebagai "Alumni Tempo". Alasannya, menurut dia, yang masuk kategori eks-Tempo tersebut bukan karena "lulus" melainkan karena alasan-alasan lain; pindah kantor, pensiun, atau bahkan korban breidel--tahu sendirilah bagaimana zaman Orba.

Sedangkan Surabaya Post, lagi-lagi dia pun melabeli dengan "Eks Surabaya Post", karena keluar dari sana, tak jauh beda dengan teman-temannya. Sebagian karena keluar, pindah kerja, dan juga akibat penutupan koran itu. Budiono sendiri, katanya, termasuk eks-SurabayaPost yang pindah kerja, ke Tempo.

Kepayahan Berbahasa Inggris

Kelucuan lainnya, saat dia berkisah tentang pengalamannya di tulisan kecil berjudul "Bahasa Inggris saya setaraf Steven Gerrard". Di sana dia menulis, bagaimana di awal dia belajar bahasa Inggris pada Marty Morisson--istri mantan Dubes Australia untuk Indonesia, Bill Morrison yang belakangan
jadi Menteri Pertahanan Australia.

"I name, eh me name Budiono," katanya yang disahuti tawa teman-temannya, hingga dikoreksi Marty, "My name..."

Lantas, ketika dia ke London, sempat menonton wawancara dengan kapten Liverpool kala itu, Steven Gerrard. Dia mendengar berkali-kali Gerrard mengatakan "Me Mom", bukan "My Mom", untuk menyebut ibunya dan itu diucapkan hingga empat kali oleh legenda sepak bola Inggris itu.

Di situlah Budiono lagi-lagi menjadi sasaran ledekan temannya di London, Dalipin. "Jadi Pak Budi, bahasa Inggris-mu setarap kan dengan Gerrard?"

Walaupun temannya kemudian juga menjelaskan jika orang Inggris memahami apa yang dimaksudkan Gerrard, sehingga tak pernah mengoreksi Me Mom menjadi My Mom.

Cerita unik lain, saat dia belum membulatkan keputusan menjadi wartawan sempat terbetik keinginan ingin menjadi pemain teater. Sampai kemudian sekitar Juli 1982, dia tampil di Gedung Senisono pada festival teater antarkampus di Yogyakarta.

Di penampilannya itu, Budiono mendapatkan aplaus dari teman-temannya karena menang dan dia merasa sudah membuktikan dirinya berbakat jadi aktor. Tapi,  saat dia sedang dibalut perasaan gembira, justru dihampiri seseorang, Mahjudin Sueb, seorang penyair. "Malam ini kamu memang juara, Bud. Tapi kamu takkan  pernah sukses jadi aktor. Kamu itu wartawan. Kamu akan sukses jadi wartawan."

Wejangan itu sangat membekas di ingatannya. Sepulang ke kamar kost yang disebutnya hanya berukuran 2 x 3 meter, di Jalan Bausasran, dia memikirkan kalimat Sueb hingga selepas subuh. Merenung.

Hasilnya, dia memutuskan berhenti berteater dan memilih jadi wartawan, cita-cita yang diakuinya memang telah tertancap di benaknya sejak SMP.

Terlebih lagi, Sueb pun sempat mengeluarkan kalimat penting. "Butet (kertaredjasa), tidak akan lebih sukses jadi wartawan ketimbang kamu, Bud. Tapi kalau kamu nekat berteater, kau tidak akan pernah mengalahkan Butet. Pol mentok kamu bakal jadi anak buah Butet."

Budiono terngiang kembali perjalanan awal kariernya itu dan keputusan diambilnya kemudian, setelah 29 tahun. Dia merasa bersyukur terhindar jadi anak  buah Butet.

Titik baliknya setelah 1984 berkarier di Surabaya atau dua tahun setelah kejadian usai pementasan teaternya. Sempat ke Majalah Tempo untuk wilayah Jawa Timur (1987), hingga ke Biro Tempo Jakarta (1988).

Selepas di sana, dia sempat ke Berita Buana, hingga menjadi Redaktur Pelaksana di Tabloid Detik milik Eros Djarot, Editor Eksekutif PT Surya Citra Televisi, Redaktur Eksekutif Simponi, mendirikan PT Agrakom, menjadi Redaktur Pelajsana Detikcom, dan terakhir tercatat sebagai Direktur Utama PT Detik TV Indonesia.

Menikmati masa pensiun - Gbr: FB BDI
Saat dia memutuskan berhenti jadi CEO dan Direktur Utama Detik.com dan CNNIndonesia.com pada September 2016, salah satu yang mengaku sangat terkesan dengan sosoknya adalah Chairul Tanjung (CT), yang merupakan "Big Boss" CT Corp.

Menurut CT, BDI--sapaan khas Budiono dari teman-teman dekatnya--dikenal olehnya sebagai inisiator yang memiliki hubungan luar biasa dengan perusahaan tersebut. Meskipun kemudian perusahaan beralih kepemilikan, tetap tak berubah. "Beliau memang memiliki hubungan emosional luar biasa dengan perusahaan ini," katanya.

Seperti dilansir CNNIndonesia per 29 September lalu, CT juga yang mengambil alih Detik.com sekitar lima tahun lalu sempat meminta BDI dan Abdul Rahman agar tetap membantunya mengelola media tersebut. Belakangan Rahman mengundurkan diri hingga BDI naik jadi CEO dan Direktur Utama.

"Di bawah Pak BDI, pengembangan Detik sangat luar biasa," kata CT. "Dalam lima tahun banyak perubahan. Berkembang potal lain seperti CNNIndonesia.com karena tangan Pak BDI. Namun memang, dalam bisnis, ada keberhasilan ada kegagalan. Itu hal biasa. Bisa berhasil, bisa tidak. Karena namanya usaha tentu banyak ketidakpastian."

Ya, pria yang memiliki banyak panggilan: Bud, Budi, Budiono, dan BDI itu memang sudah mundur dari dunia media. Ia tinggal menikmati hasil perjuangannya.

Di masa lalu, pertengahan 1982, dia hanya berkutat dengan mesin ketik yang luar biasa ribut, merk Brother, di kamar kos bersekat tripleks tipis. Di sana dia  mengawali menulis hal-hal unik; profil orang-orang kecil yang menarik perhatiannya, selain juga puisi, cerpen, hingga resensi buku.

Media-media yang pernah memuat tulisannya adlaah Harian Bernas, KR, Mingguan Eksponen, Suara Merdeka (Semarang), dan Surabaya Post. Tak terkecuali, media lawas seperti Majalah Sarinah dan Zaman--media yang juga akrab dengan sastrawan Ajip Rosidi.

Budiono mengakui, puisinya di masa itu hanya dibayar Rp 250, dan dia akan senang mendapatkan Rp 750 jika ada tiga saja puisinya dimuat sekaligus. Imbalan lebih baik jika cerpennya yang dimuat, dia mendapatkan bayaran sekitar Rp 500-Rp 750, atau di Suara Merdeka mencapai Rp 1.500, Surabaya Post (Rp 2.000). Hanya di media Jakarta saja, menurut dia, yang mampu membayar hingga Rp 2.500 hingga Rp 4.000.

Saat itu, dia bisa mengumpulkan hingga Rp 17.500 per bulan dari hasil menulis. Tapi itu masih di bawah biaya kebutuhan hidup zaman itu, yang berkisar Rp 20 ribu. Masa-masa yang diistilahkan dengan "tongpes" alias kantong kempes acap menjadi bagian pengalamannya saat itu. Tak heran jika, dia mengaku di blognya, makan tempe dua, ngaku satu.

Sekarang, dari tempe itu, namanya telah diabadikan di media sekelas Detik.com. Sebuah loncatan tak sederhana, tentu saja.* (Sumber Foto: FB Budiono Darsono)



Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?