dunia lain untuk bicara

17 Desember 2012

Membaca Filosofi Messi


SEORANG perempuan bisa melahirkan seorang bayi, tetapi alam melahirkan manusia. Kalimat itu sempat saya jadikan kicauan di akun Twitter pribadi saya. Sebuah kesimpulan dari renungan kecil tentang dinamika di dunia bola dan bahkan kehidupan di luarnya. Belakangan, setiap mendengar nama Lionel Messi, ingatan saya kerap terbawa pada kalimat itu. Betapa, ia sudah menjadi kupu-kupu yang berhasil mengoyak kepompong. Satu keberhasilan, setelah melewati perjalanan panjang, untuk melepaskan diri dari sekadar hanya “seekor ulat”.


Ya, semua pesepak bola pasti berkeringat. Artinya, semua pesepak bola bekerja keras. Dikaitkan dengan sosok eks La Masia itu, dipastikan ada sesuatu yang lebih dari sekadar keringat yang sudah ia berikan. Logikanya, jika ada hal biasa didapatkan seseorang, maka itu seimbang dengan hal biasa saja yang ia lakukan. Sedang untuk yang luar biasa, tentu tidak memadai jika hanya mengandalkan sesuatu yang biasa saja. Apalagi, jamak diketahui, terdapat sederet nama lain yang muncul ke permukaan, namun belum benar-benar berada di atas dirinya---untuk saat ini. 



Bahkan, dibanding sosok sekaliber Maradona, masih terdapat keunggulan Messi. Bukan soal kemampuan dribbling, finishing, keseimbangan, yang sudah jamak dikenal. Tidak juga soal positioning, kemampuan passing dan ia sebagai pemain yang memiliki visi. Lebih dari itu, ia memiliki personality yang kuat. Nyaris tanpa cacat. Ini menjadi model, tidak sekadar di dalam lapangan, tetapi juga di luar lapangan. 



Di dalam lapangan, ia sudah kerap menuai pujian. Bahkan, Pep Guardiola, bekas entrenador Barcelona pernah berujar, “Hanya Messi yang mampu berlari lebih cepat bersama bola, dibanding dengan ia berlari tanpa bola.” Sedangkan Maradona, mengakui, “Saya mengenal banyak pemain hebat, tapi dalam hal kemampuan menguasai bola, hanya saya temukan pada diri Messi.” Layak ditelusuri, bagaimana itu terbentuk?



Filosofi Sejarah
Messi mengakui, dunia sepak bola justru ia kenal hanya berawal dari jalanan. Ia katakan sendiri, cara bermain pertama kali yang ia tahu tidak lebih dari berlari dan berlari mengejar bola. Sulit membayangkan kemudian hari ia justru bisa mengasah kemampuan di tempat bergengsi, La Masia. Nyaris mustahil meramalkan ia bisa menjadi seperti sekarang. 



Ia menjadi pemain termuda di La Liga yang mencetak 150 gol. Pencetak gol terbanyak dalam sejarah Barcelona, 265 gol. Selain itu, ia juga tiga kali meraih Ballon d’Or secara beruntun (sumber: Topskor, 31/10/2012). Tidak ketinggalan, ia juga meraih penghargaan FIFA World Player of The Year, 2009. Saat itu, ia mendapat nilai sebanyak 1.073, jauh meninggalkan Cristiano Ronaldo yang hanya mendapat nilai tidak lebih dari 352. Itu sebagian dari pencapaian besarnya.



Jika beranjak dari filsafat bahwa yang “terlihat” dipengaruhi yang “tak terlihat”, maka yang tak terlihat itu yang layak untuk ditelusuri. Di sini, yang tak terlihat tersebut lebih pada bagaimana seorang Messi berpikir? Bagaimana ia mengolah pengalaman? Bagaimana pengaruh kecinta anya pada bidang yang ditekuninya? Ringkasnya, di sana terdapat “pikiran” dan di sisi lain juga “perasaan”, dua hal yang tegas-tegas tidak bisa dilihat. 



Dalam filsafat, dikenal istilah “Cognoscere”, kata dari bahasa Latin yang merujuk pada “Kognisi” —belakangan juga dikupas di ranah Psikologi. Ini merupakan kepercayaan atau keyakinan yang tumbuh dalam kepribadian seseorang. Keyakinan itu sendiri diperoleh dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Ia lebih menunjuk pada proses mental dan memang tidak bisa diamati secara langsung, tidak bisa diukur secara serta-merta. Namun hal itu bisa dicermati lewat perilaku yang dimunculkan.



Bagi kalangan filsuf, istilah kognisi itu ditujukan untuk mendapatkan pemahaman pada bagaimana seorang manusia berpikir. Dalam kaitan dengan Messi, Messi mengawali mengakrabi bola ketika ia berusia lima tahun. Sedangkan yang menjadi pelatih pertama kali justru ayahnya sendiri, Jorge Horacio Messi. Di sana, ia berhubungan dengan Jorge sebagai ayah, tetapi juga sekaligus sebagai pelatih. 



Sebagai ayah, Jorge potensial menyiram cinta, juga berbagai hal berkait dengan emosional. Sedang sebagai pelatih, Jorge terbuka untuk menyiram dengan banyak hal berkaitan dengan logika. Menilik lagi dari latar belakang keluarga Messi. Ayahnya, seorang pekerja pabrik. Ibunya  merupakan petugas kebersihan. Sedikitnya ini memengaruhi alam pikiran Messi kecil. Hal itu menjadi stimulan yang memacunya menjadi pribadi lebih dari sekadar “biasa”. 



Terdapat hal-hal sederhana dan bahkan bisa dikatakan sangat terbatas, suatu kondisi yang mengitari perjalanannya dari kecil. Tetapi, kesederhanaan bukan masalah, sedangkan keterbatasan bukanlah suatu problem. Walaupun, saat ia ditemukan oleh Carles Rexach, ia juga mendapatkan kontrak yang hanya ditulis sangat sederhana, di atas serbet. Ia tinggalkan Newell’s Old Boys, setelah lima tahun digodok di sana. 



“Am esforc i sacrifici, tambe podreu arribar. Feu-ho. Val la pena” (dengan usaha dan pengorbanan, kau juga dapat melakukannya. Lakukan itu, kau akan dapatkan hasilnya). Selarik kalimat ini, pernah beberapa tahun terpajang bersama foto Josep Guardiola, Josep Mussons, Albert Ferrer, dan Guillermo Amor di ruang makan La Masia. Itu menjadi filosofi yang kini belum pernah mati. Kalimat itu, hari ini sudah berhasil diterjemahkan Messi dalam sederet pencapaiannya. (FOLLOW: @zoelfick)

ALSO PUBLISHED IN: topskor.co.id
Posting Komentar
Adbox