dunia lain untuk bicara

28 Februari 2012

Renungan Penumpang Bis: Pengemis di Jakarta dan Sikap Kita

Pagi-pagi buta harus berangkat meninggalkan kontrakan kecil di Palmerah, menuju halte busway Slipi Petamburan, ke UKI dan lalu Kelapa Gading. Berdesakan di bis, menghirup udara yang diam-diam sudah membaur dengan asap knalpot sekian ribu kendaraan. Kukira asap-asap itu tak hanya kotori udara kota ini, tapi juga sekian banyak otak. Mungkin pula menjadi penyebab yang hitamkan hati.

Menelusuri sekian halte busway. Di sana, tak pelak akan selalu berhadapan dengan pemandangan adanya pengemis-pengemis tua yang duduk penuh harap atas sekian recehan untuk mengganjal perutnya, dan mungkin untuk anak-anak dan istri mereka.

Tapi demikianlah, orang-orang di kota besar itu memiliki kemampuan mencari alasan yang juga besar. Itu pula sepertinya yang menyebabkan di antara sekian ribu orang berseliweran di depan pengemis, hanya sebagian kecil yang tergerak merogoh kantong dan memberi sebagian isi kantongnya untuk pengemis-pengemis itu. Selebihnya, melirik pun enggan ke arah para pengemis itu.

Sedang alasan tidak memberi sedekah untuk kalangan yang kerap disebut dhuafa itu,”hanya membuat mereka manja, dst dst.” Sebuah alasan yang teramat sangat masuk akal. Alasan yang dengan rajin diulang-ulang setiap berhadapan dengan pertanyaan kenapa memilih persetankan kepedulian untuk mereka.

Sedikit lebih berbau “pandangan jauh ke depan”, ada pula yang beralasan,”Kalo elu dan gue terus-terusan bantu para pengemis itu, cuma membuat mereka makin betah saja mengemis!” kalimat yang memang diucapkan lengkap dengan tanda seru.

“Kalo gue gak beri mereka, dan elu gak beri mereka,  pasti mereka gak akan minta-minta lagi di pinggir jalan seperti itu. Jakarta bisa bersih dari pengemis!”

Alasan lebih panjang untuk menunjukkan bahwa pilihannya untuk tidak berbagi dengan kalangan yang kebetulan bernasib buruk itu adalah suatu pilihan cerdas.

Sedang di otakku berkelebat renungan kecil saja, soal melakukan sesuatu tidak selalu harus berpatron pada: ini pilihan yang cerdas atau tidak. Sebab, tidak semua orang baik adalah orang-orang cerdas, seperti halnya tidak semua orang cerdas mampu berbuat baik.

Renungan kecil yang tidak saya keluarkan untuk mendebat rekan yang memberi argumen atas pilihan sikapnya itu. Sebab, saya yakin sekali, orang yang sedang mencari-cari alasan lebih butuh banyak waktu untuk terus bicara. Terbukti ia melanjutkan penjelasan dengan,”Elu tau gak, kekayaan mereka itu terkadang jauh lebih banyak dari elu! Mereka punya handphone yang bahkan juga lebih baik dari elu! Apalagi yang harus dibantu?”

Penjelasan yang membingungkan saya, apakah sudah pasti mereka punya kekayaan lebih dari sebuah handphone yang konon lebih mahal dari punya saya itu?

Di pikiran orang-orang pesimis seperti saya ini, menyebut mimpi yang sedikit beraroma sorga, bahwa suatu kota bisa bersih dari pengemis adalah harapan orang-orang yang belum bangun dari tidurnya. Padahal dalam mimpi pun tidak selalu disuguhkan pemandangan mimpi indah, apatah lagi jika sudah benar-benar bangun dari mimpi (baca: terjaga).
 
Akhirnya, soal pengemis itu adalah soal kita. Soal bagaimana kita bersikap, untuk lebih melihat diri sendiri saja ataukah meluangkan sedikit perhatian pada mereka. Sebab, mereka pun adalah nabi, yang dikirimkan Tuhan dengan keadaan terburuk. Untuk ajarkan kita tentang ilmu berterima kasih, bahwa kita tidak diciptakan seburuk keadaan mereka. Jika ilmu itu mahal, apakah beberapa recehan lebih mahal dari itu? (FOLLOW: @zoelfick)
Posting Komentar
Adbox