To Learn and Inspiring

Pengunjung

Tahun Baru di Aceh: Antara Petasan dan Peluru


Langit Jakarta dipenuhi beraneka ragam warna di cakrawalanya. Petasan yang dibakar mereka yang bergembira, membuat malam menjadi nyala. Nun di ujung Sumatra, tepatnya di Jeumpa, Kabupaten Bireuen dan Banda Aceh beberapa buruh meregang nyawa. Mereka ditembak, persis bersamaan dengan sekian juta petasan di seluruh nusantara ini meledak.


Lewat Twitter, saya mendapati kabar dari twit yang ditulis Thamren Ananda, di Bireuen terdapat 3 warga yang meninggal tertembak.  Sedang di Banda Aceh, masih dari kabar Thamren, 1 jiwa melayang, juga karena tembakan. Belum lagi, tidak kurang dari 6 orang harus dilarikan ke rumah sakit, karena tembakan yang juga mengenai mereka entah belum cukup kuat untuk pisahkan nyawa mereka, entahlah.

Ini tidak sekadar efek kondisi politik yang memang memanas di ujung Sumatra itu. Bukan pula sekadar karena daerah tersebut baru saja beranjak dari pertarungan besar bernama perang.
Ini  pengulangan. Manusia dengan pengulangan sepertinya memang tidak bisa dipisahkan. Tak terkecuali rutinitas yang dilakukan dalam keseharian, semua cenderung sebagai bentuk pengulangan. Entah dari sebuah masa yang sudah lama ke masa yang baru. Atau, dari sebuah masa yang memang juga baru ke masa yang lebih baru.

Baru menjadi kata kunci. Lazimnya ia bisa menjelaskan sesuatu yang lebih menyenangkan untuk dilihat. Bisa menunjukkan sesuatu yang kuasa memberi sumringah pada manusia. Seperti halnya bocah yang bergirang hati dengan sepeda baru, istri yang berbinar-binar dengan perhiasan yang baru, atau—maaf, misal—sepasang suami istri yang mendapat anak lagi (juga baru, tentunya).
Tapi tak bisa dielak, tidak semua yang baru ternyata menyenangkan bagi semua orang. Terkadang yang baru juga akhirnya tidak sedikit yang membawa penyebab tumpahnya air mata, nyawa meregang, duka tidak kepalang. Mungkin karena nafsu sudah demikian garang. Mungkin juga hati sudah menjadi karang.

Istri baru tidak selamanya menjadi sesuatu yang indah buat seorang lelaki yang pernah menduda karena sebuah perceraian. Tidak indah ketika istri baru itu kemudian hari didapati memiliki tabiat tidak jauh beda dengan istri sebelumnya---berdasar sudut pandang si  lelaki.

Mobil baru juga tidak selamanya menyenangkan, ketika ternyata yang baru ini justru memiliki mesin yang lebih buruk, terlihat nyaris seperti tidak punya bentuk, dibanding dengan mobil sebelumnya.
Di sini ada perbandingan, juga sudut pandang.

Di Aceh, pembunuhan dengan mempergunakan senjata Kalashnikov (sebutan untuk AK-47), mungkin buah perbandingan; kondisi sekarang dengan kondisi jaman perang tetap sama, mana yang lebih kuat, itu juga lagi yang akan  muncul sebagai pemenang (setidaknya kemenangan ego).
Atau, mungkin pula karena yang menjadi pembunuh---taruh misal pelaku pembunuhan adalah mantan kombatan pemberontak---merasa bahwa hanya dengan menenteng senjata laras panjang itu ia merasa lebih hidup. Sedang ketika senjata itu sudah di tangan, ia membandingkan lagi, senjata itu sama saja dengan ranting tidak berguna ketika tidak dipergunakan; terjadilah pembunuhan.

Perbandingan, terkadang membantu seseorang menjadi lebih baik. Tak jarang, perbandingan seperti permisalan di atas, nyatanya juga membuat seseorang menjadi lebih buruk. 

Sebagian orang, dengan perbandingan, ia membandingkan seberapa banyak kebaikan yang bisa dilakukan orang=-orang di sekitarnya. Selanjutnya menghitung kebaikan yang ia sendiri sudah lakukan. Efek dari sana, ia terstimulan menjadi lebih baik. Andai pun tidak jauh lebih baik dari orang-orang, setidaknya ia tidaklah sampai jauh lebih buruk. Karena, dalam proses demikian ada usaha pengejaran pada sesuatu yang lebih baik.

Sebagian lagi, memang tidak sedikit yang membuat perbandingan, berapa banyak orang-orang yang menjadi penjahat, dan malah bisa tertawa-tawa dengan hasil kejahatannya. Sebab ketika ia bandingkan lagi dengan orang-orang yang melakukan kebaikan, terlihat kebaikan yang dilakukan orang-orang terlalu berat untuk bisa ia lakukan. Yang terjadi, mengambil yang paling mungkin terjangkau, atau sesuatu yang terlihat mudah. Dan memang kejahatan cenderung lebih mudah untuk dilakukan. Dalam satu perspektif, karena kejahatan dan keburukan  mudah dilakukan maka ia menjadi tidak berharga. 

Bicara harga, acap kali mudah mengingat dan menghafal harga barang di pasar loak, tetapi teramat sulit untuk bisa selalu teringat berapa harga diri sendiri.

Di sini, luput untuk bisa selalu mengingat harga diri maka keburukan terasa ringan saja dilakukan. Saya bisa lakukan satu keburukan dengan enteng, karena mungkin ketika melakukannya saya sedang membiarkan ingatan atas harga diri menguap.

Persoalan ingatan pada harga diri, entah siapa bersedia meyakini, cenderung membawa pilihan pada yang buruk, saat ia melemah. Pula halnya cenderung membawa pada pilihan yang baik, ketika ingatan itu menguat.

Persoalan ingatan terkadang bisa juga disebut sebagai persoalan pilihan kembali. Memilih untuk tetap menjadi orang-orang yang memiliki ingatan; ingatan bahwa keburukan menyebabkan kepedihan, keburukan menyebabkan lahirnya rentetan keburukan lainnya, dlsb. Atau memilih melupakan ingatan yang dengan sendirinya membuat lupa segala-galanya. 

Saya kira, mereka yang telah menghamburkan peluru di awal tahun baru ini lupa, peluru tidak saja membuat derjat mereka terlihat sama dengan makhluk tanpa akal, tapi juga telah kian memperburuk muka Aceh.

Entahlah, semoga saja tahun baru ini bisa membantu semua kita memiliki ingatan yang baru dan lebih baik. Dengan ingatan yang lebih baik itu, setidaknya tidak membuat kita menjadi bagian orang-orang yang membawa kembali sesuatu yang lebih buruk dari yang pernah terjadi. (Sumber gambar: Kompas.com)

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?