To Learn and Inspiring

Pengunjung

Sepulang dari Perang


Kesatu-  Bendera-bendera yang dulu dinaikkan di pohon-pohon, di tiang-tiang listrik, dan hampir semua tempat yang berada di ketinggian. Hari ini, bendera nyaris dilupakan. Pada keadaan begitu pula, saat orang-orang memiliki ingatan tidak lebih panjang dari rambut mereka, beberapa orang memaksa-maksa untuk bisa menaikkannya lagi. Polisi-polisi mengernyit kening. Masyarakat kampung dimakan tanda tanya yang terkadang lebih besar dari kepala mereka; dari kesanggupan mereka mereka-reka.


“Ada apa lagi? Pue na lom?”
“Mana kita tahu itu, teungku,”
“Bakal perang lagikah?”
“Sudah kujawab tidak tahu!”

Perdebatan-perdebatan di kalangan masyarakat yang kerap disebut akar rumput itu tidak sampai memicu ledakan senjata; paling jika sedang di warung kopi, tidak akan membayar kopi lawan bicara meski ia sama sekali sedang tidak berduit.

Boleh jadi karena mereka sudah dinisbatkan dengan nama akar rumput, marah mereka pun tidak sampai setinggi pinggang rumput—andai rumput memiliki pinggang.

Beda halnya di beberapa sudut lain di negeri itu. Sesekali ada saja kabar kepala meledak, sama sekali bukan karena terlalu keras berpikir, tapi karena memang diledakkan senjata api; revolver, colt, kalashnikov, apa saja.

“Dia hanya menjadi pengganggu rencana-rencana kita! Kembalikan dia ke tanah!”

Besok, ada lagi senjata yang meledak. Lantas di warung-warung kopi masyarakat melupakan sawah, karena pikiran lebih tertarik untuk mengingat koran saja. Sekadar untuk tahu, siapa yang mati.
Begitu saja dan terus begitu.

Pikiran-pikiran yang ada pun menjadi semakin sederhana; tak ada yang perlu diseriusi dari kematian. Toh yang hidup pasti mati. Jika mati artinya memang ia sudah pernah hidup. Hal lumrah saja kematian itu. Polisi-polisi menjadi salah tingkah. Terkadang hanya bisa luapkan marah pada maling ayam. Tidak ia pikirkan, jika karena menjadi maling ayam bisa dipukul begitu hebat, maling itu akan berpikir untuk menjadi maling benda lebih mahal; kan sakitnya tidak jauh beda.

Linglung. Akhirnya di sana menyisakan orang-orang linglung. Tak terkecuali seorang lelaki muda yang baru beranjak dari seperempat abad, Sabirin namanya.

Sabirin sama sekali tidak pernah terlibat apa-apa di dalam sekian cerita di kampung ke kampung di sana. Ia mungkin ditakdirkan jadi tukang dengar. Hanya mendengar. Belum lahir apa-apa dari yang didengarnya. Pendengarannya belum bisa menyulapnya menjadi Gandhi, Mandela atau siapa saja yang pernah disebut-sebut pahlawan karena berhasil mendengar banyak. Iya, mereka menjadi pahlawan karena berhasil melakukan sesuatu setelah mendengar-dengar.

Sabirin kerap merutuk diri sendiri. Tidak bisa menjadi Gandhi. Tidak pula bisa menjadi seperti Mandela. Beberapa kali, saat sudah merasa kenyang merutuk, sekenyang ia melahap nasi dengan kuah pliek, ia arahkan rutukan pada orang-orang yang dilihatnya. Entah yang terbukti sebagai penjahat. Atau, bahkan merutuki teungku-teungku di kampungnya yang hanya mengejar syurga dengan zikir-zikirnya. (Bersambung).

Also Published in: KOMPASIANA.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?