dunia lain untuk bicara

19 Januari 2012

Indonesia dan "Warna" Tionghoa

Daripada diwarnai, pilihan untuk mewarnai cenderung lebih elegan terasa. Hal demikian, menurut saya, tidak sekadar kata-kata saja. Malah, kalau harus menunjuk, dari sekian banyak etnis yang ada di bumi Indonesia, Tionghoa bisa ditunjuk sebagai salah satu yang berada di jajaran etnis yang punya  kemampuan mewarnai cukup kuat.

Ini bukan soal warna merah yang kerap diidentikkan sebagai ‘warna cina’. Tetapi memang lebih tertuju pada banyak sisi lain (baca: pengaruh). Mulai dari ranah bisnis, siapa yang akan menampik bahwa masyarakat Tionghoa memiliki kuku yang cukup tajam. Untuk ini, tidak perlu menunjukkan nama berderet-deret dari mereka yang berasal dari etnis dimaksud dan sudah berhasil buktikan kekuatan kuku mereka.

Selanjutnya pada sisi animo mereka terhadap pendidikan, ini juga bisa dikatakan sebagai luar biasa, meski saya tidak suka bermain angka untuk menyebut; jumlah sekolah yang didirikan mereka, jumlah sarjana dari keturunan mereka, sampai dengan kemampuan mereka menciptakan lapangan kerja sebagai impact dari animo terhadap pendidikan tersebut.

Artinya, ada wilayah filosofis yang dalam kacamata pribadi saya, berhasil dengan apik ditunjukkan mereka. Ini jelas bukan sesuatu yang sederhana. Bukankah demikian seyogyanya harus ditunjukkan di tengah kondisi negara yang dari sejak kelahirannya pada 1945 masih tertatih-tatih sampai sekarang? Bahwa, Indonesia butuh ‘penghuni’ yang tidak hanya menguasai teori, namun punya daya untuk implementasikan dalam aksi nyata.

Hari ini, masyarakat Tionghoa nyaris merangsek segala lini. Syahdan, di segmen hukum, masyarakat Indonesia umumnya kenal dengan Award Yap Thiam Hien. Sebuah award yang muncul dari penghormatan terhadap salah seorang insan hukum kelahiran Peunayong, Aceh, yang pada masanya dikenal gigih menunjukkan,”hukum itu seperti ini.” Keberhasilan menunjukkan bahwa hukum sejatinya memang harus bisa memberi dampak, tidak dijadikan alat untuk bermain-main. Ini bagian ‘warna’ selanjutnya yang berhasil ditoreh oleh masyarakat keturunan etnis Tionghoa.

Tidak ketinggalan di dunia media. Sekaliber Kompas, P.K Ojong adalah salah satu putra Indonesia yang lahir dari etnis Tionghoa yang memegang sejarah penting media tersebut. Tidak di situ saja, media yang didirikannya tersebut menjadi salah satu media yang memiliki tempat sangat diperhitungkan, tak terkecuali dalam pengambilan berbagai kebijakan di Indonesia---sebagai referensi.
Itu semua adalah catatan secara garis besar saja, sebagai bagian tidak bisa dinafikan dari keberadaan masyarakat Tionghoa sejak ribuan tahun lalu di nusantara.

Kemudian, jika menoleh lagi pada berbagai hal; karakter, sikap hidup, disiplin. Di sisi ini, mereka dikenal sebagai masyarakat yang memiliki karakter yang lekat dengan ketegasan, keseriusan, memiliki prioritas hidup, juga kejelian. Di samping, mereka juga bisa dikatakan sebagai satu-satunya masyarakat yang nyaris bisa disebut tidak pernah terlibat dengan konflik sepanjang sejarah berdirinya Indonesia---bahkan dari sejak sebelum Indonesia lahir, masih dalam kekuasaan berbagai kerajaan.

Menjadi satu hal yang unik, pola mereka dalam mendidik bangsa besar Indonesia ini, sering ditunjukkan dengan cara yang cenderung kalem. Artinya, nilai-nilai hidup yang lekat dengan kebaikan sering kali mereka ajarkan pada lingkungannya dengan cara menunjukkan lewat sikap.
Jika belakangan kerap didengungkan, action talk louder than words (perbuatan memiliki suara lebih keras dari kata-kata), mereka membuktikan itu, memang.

Jika menanyakan indikator apa untuk mengesahkan bahwa itu memang identik dengan mereka? Sederhana saja, masyarakat Tionghoa  kerap terlihat lebih hemat dalam berkata-kata dalam pergaulan sehari-hari. Saya tidak tahu, apakah mereka sudah didikte dari bayi untuk bisa klasifikasikan antara: “bicarakan yang diinginkan,” dengan “bicara yang dibutuhkan.”

Tetapi, potret demikian, sedikitnya sudah menjelaskan seperti apa kelebihan mereka  dalam memberi warna tadi.

Persoalannya memang, masih menjadi kegandrungan umum di negeri kita, terkadang untuk menunjukkan sesuatu itu benar dan sesuatu itu keliru, dituntut untuk lebih mempergunakan kata-kata---tanpa bermaksud meremehkan khutbah di mesjid dan gereja.

Andai saja, nilai-nilai yang dimiliki, nilai yang dilakukan oleh masyarakat yang berasal dari etnis Tionghoa bisa dijadikan pelajaran buat masyarakat umum, mungkin wajah Indonesia bisa memiliki warna lebih nyaman untuk dilihat.

Jujur saja, siapa yang tidak akan menyebutnya nyaman, jika di negeri dengan kekayaan sedemikian berlimpah seperti halnya Indonesia ini; masyarakat tidak disibukkan hal-hal remeh? Lebih memilih banyak bekerja daripada banyak bicara, lebih memilih bermatematika daripada berjudi, dan lebih sejahtera sebagai imbas positif lebih lanjut.

Sayangnya, primordialisme masih kerap mencuat, bahkan hingga hari ini. Satu suku merasa tidak perlu belajar dari suku lain. Bahkan dari beberapa kasus yang bisa disimak, gencar pula diperlihatkan oleh etnis yang menyebut diri “pribumi” seolah mereka tidak butuh etnis lain di luar etnisnya. Lepas itu soal mental dasar, pengaruh kegagalan membaca pengalaman, dan lain sebagainya, namun idealnya sikap primordial itu sudah tidak sepatutnya terus menjadi bagian lakon di negeri ini.

Mencoba berandai-andai lagi, saya sering melamunkan, andai saja kemauan untuk menjadikan antar etnis sebagai sahabat belajar dan berbagi. Mungkin kondisi demikian bisa lebih membantu memoles wajah negeri yang jerawatan dan bahkan sudah bernanah ini.

Toh, sejatinya kita jamak mafhum, kecenderungannya masing-masing etnis, dari nenek moyangnya, memiliki tradisi yang diturunkan ke generasi-generasi selanjut. Itu jelas sekali merupakan pelajaran, entah dalam hidup, dalam membangun kebersamaan, sampai dengan bisa menakluki ganasnya hidup.

Tradisi demikian sepertinya akan lebih “kaya”, jika satu dengan lainnya bisa konsisten saling mengapresiasi dengan mengambil nilai-nilai, dipelajari dan diimplementasikan; saling belajar.
Tapi mengembalikan pada fakta, pada realitas, harapan demikian masih lebih sering terlihat hanya ada di buku-buku cerita pelengkap bacaan anak-anak sekolah.  Sedang yang muncul di permukaan tetap saja kebalikan dari itu. Baik nanti dari satu etnis diam-diam ‘menggunjingkan’ etnis lain, sampai dengan ‘saling bisik’ pada keturunan masing-masing bahwa etnis itu seperti ini, etnis ini seperti itu.
Gelagat menumbuhkan kebencian antar suku masih mudah diketemukan sampai sekarang, tanpa perlu menunjuk batang hidung suku mana sajakah yang melakukan hal demikian.

Tionghoa, keberadaan mereka membawa nilai-nilai dan ajakan untuk bisa melihat lebih luas; pada pluralitas, pada harmoni, pada kesediaan berbaur. Toh, Indonesia memang negeri yang memiliki keragaman suku yang cukup kaya, Tionghoa memiliki adaptasi, kemampuan berbaur yang cukup baik.
Di Sumatra Utara, masyarakat Tionghoa bisa berbaur dengan cukup baik dengan masyarakat Melayu dan Batal. Di Aceh---daerah yang pernah didatangi Laksamana Cheng Ho dan meninggalkan lonceng Cakradonya---mereka bisa menyatu dan berinteraksi leluasa dengan masyarakat Aceh yang notabene kental dengan keislaman. Jakarta, justru suku Betawi kemudian kerap disebut identik dengan Tionghoa, mungkin sebagai gambaran betapa intimnya pembauran itu.

Jelas itu sebagai ekspresi sekaligus nilai yang cukup positif di tengah gaung sila Persatuan dan Kesatuan yang diam-diam meredup. Agar, gaung itu bisa kian menggema lagi. Nah, perayaan Imlek, saya kira bisa menjadi perayaan yang bisa dirayakan oleh semua etnis yang ada di negeri ini. Dalam arti, mengtransformasikan ‘ruh’ positif yang selama ini ditebar dari “action” masyarakat Tionghoa, untuk bisa membentuk wajah baru negeri yang lebih segar dan lebih menyejukkan untuk dipandang. “Hanya rumah yang bersih dari debu yang lebih mampu memberi gairah untuk penghuninya hidup!”

Also Published in: Kompas.com
Posting Komentar
Adbox