dunia lain untuk bicara

26 Januari 2012

De Pe Er

Oleh: Yayak Yatmaka*
Ah, kau! Sebagai Petani dan sastrawan inkonvensional, tabah dan tegarlah, Tience say. Begini ini mestinya inspiratif untuk nulis. Nulis realitas gini, jangan mulai dari perut. Mulai lah dari pantat saja. OK, aku mulai, ntar kau teruskan: Judul "Foto Sialan". 

Sore ini, selepas kubersihkan cangkul, kekasihku yang menemaniku kerja seharian ini, serasa ada yang tak enak di badanku. Di bagian pantat. Seharian tadi, samasekali tak terasa. Barangkali aku terlalu asyik bekerja. Barangkali karena --supaya tak cepat lelah kerja- aku selalu menghitung tetes keringat yang muncrat dari kening saat mencangkul. Ada bisul? Tidak. Ada luka? Ada ular? Tidak juga. Ada apa? Kulepas segera celana kerjaku, yang kusut masai dan kotor penuh lumpur. Kutengok bagian belakang tubuhku yang bahenol itu, aku tak bisa.Tubuhku masih saja terlalu gemuk untuk bergaya lentur seperti penari balet, cita2ku saat aku kecil Meski setiap saat bangun dari tidur aku berlatih pernafasan, tetap saja pantatku tak berkurang bahenolnya.

Tapi, aku dari kecil memang dikenal cerdik dan cerdas. Meski guruku tak pada tahu, terbukti memberi warna merah pada semua angka di raporku, aku sebenarnya hanyalah sedang berusaha konsisten untuk menyamar sebagai anak yang tampaknya bodoh. Targetku cuma satu, pada rapor terakhir, tak ada alasan bagi guru2ku untuk tidak menaikkan kelas aku.: karena semua angka seketika jadi biru! Meskipun semua cuma angka 6, tak apa lah. Huaa,ha,ha....kutipu semua orang. Sama seperti sekarang, kalian pikir aku tak punya cukup akal untuk bisa melihat pantatku sangking gemuknya tubuhku, kan? Tidak. Aku bisa.

Segera aku berlari ke kamar Jati, anakku. Dia terbengong dan kaget melihat aku masuk kamarnya dengan tiba2, dan tanpa mengetuk pintu, seperti biasanya adatku.Lebih kaget lagi, aku masuk hanya dengan cawat saja, kaos rombeng pakaian kerja bergambar foto calon anggota DPR, yang khusus datang padaku dan memberikannya untukku, karena baginya aku bisa mempengaruhi orang (baca;
menipu) tanpa terasa. Dan nyatanya, di kampungku si dia menang mutlak. Dia kira, tentu karena aku memakai kaos bergambar fotonya yang tersenyum (ssst, dia sebenarnya ompong dan mulutnya bau) setiap hari, di masa kampanye. Padahal, sebenarnya hanya kaos itulah yang kupunya.

Tanpa ba,bi,bu, kuambil cermin yang dipasang Jati di depan meja belajarnya, Jati setengah berteriak menghindar dari tekanan tubuh gemukku. Lalu setengah berlari, aku membawanya ke kamar istriku. Kurasakan Jati mengikutiku, pasti penasaran pada kelakuanku. Aku tak peduli. Aku jalan terus. Masuk kamar, istriku yang lagi bercermin dan merias diri untuk persiapan kebaktian malam nanti, juga kaget. Kaget juga melihat keadaanku, setengah telanjang, tergesa2 dan membawa cermin. Tahu aku mengarah ke cermin di depannya, dia menyingkir. Ada kulihat mukanya sedikit pias dan pucat. Aku mengira dia takut cermin Jati itu akan dipukulkan di kepalanya. Atau, disodorkan ke mukanya, seperti biasanya kalau aku marah atau tak suka dikatai sebagai gajah montok, Supaya dia juga berkaca, bahwa dia juga makin hari juga tambah gemuk saja.

Setiba di depan cermin besar, aku membalikkan badan. Lalu kulorotkan sedikit bagian belakang cedalku. Kulihat, jati yang juga ada di kamar mentupi mulut dan matanya dengan tangannya. Aku lanjut. Memasang cermin jati di depan badan dan mulai mencari sesuatu yang aneh di pantatku itu. Apa sih? Apa sih?

Oh, ..... ada gambar di pantatku. Oh,,,,wajah si anggota DPR itu. Potret yang kucetak dari Facebook kemarin malam, ternyata nempel disitu. Seingatku, pagi tadi aku sempat mengamatinya. DI foto itu terlihat dia lagi tidur mendengkur di atas kursi baru berharga 24 juta perak. Perutku seketika jadi mual. Mau muntah, taoi kutahan karena aku sayang pada sarapanku pagi ini yang hanya tahu sepotong. Tambah setengah telor dadar, paroan sama Jati. Sarapan yang mewah, untuk kondisiku yang pas2an sebagai buruh tani. Lalu, seingatku lagikumasukkan saja ke saku belakang celana dalamku. Siapa tahu, kalu aku nanti boker, akan bisa aku pakai jadi pengganti kertas tissue, seperti kebiasaan si Anggota DPR itu, di tolilet gedung kantor mereka yang kudengar berharga 2 milyar. Bangsat, duit 24 juta. Juga duit 2 milyar! Berapa banyak cangkulan dan berapa abad aku mesti menabung untuk bisa mendapatkan duit sebegitu banyaknya?

Eh, sangking asyiknya bercanda dengan Jati tadi pagi, sambil menghantar dia di pagar halaman rumah sebelum kita berpisah diri, aku ternyata salah memasukkan foto itu. Tak di saku, tapi di pantatku. Pantas saja. Karena basah oleh keringat, maka foto itu hancur. Gambarnya ngecap di pantatku.

Demi melihat wajah dia, Si Anggota DPR ompong dan mulut bau itu di cermin anakku, seketika perutku kembali mual. Kali ini aku benar tak tahan. Akupun muntah lah.

Anehnya, karena pada sayang padaku, biasanya Istriku dan Jati langsung membelaiku, atau segera mengambilkan air hangat dan mengusap2 keningku saat menghadapi kejadian luar biasa seperti kali ini. Tapi, tidak. Mereka malah segera datang dan merubungi muntahanku. Aku juga terheran. Ternyata aku muntah huruf2. Eh malah tersusun kalimat. Secera serempak, seperti kebiasaan kami koor di gereja, kami mengejanya :
"BU-BAR-KAN -PAR-LE-MEN". Huahuahahahaha....kami pun tertawa.


*Seniman lukis. Alumni ITB Bandung.
Posting Komentar
Adbox