dunia lain untuk bicara

29 Januari 2012

Asap Ganja di Langit Aceh

Ketika itu, saya sendiri belum baligh karena baru usia sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Bergaul dengan remaja-remaja di gampong yang berusia jauh di atas saya. Ikut juga bersama mereka di sebuah sekolah tua yang berada persis di pojokan gampong. Apa yang dilakukan di sana? Mengepulkan asap ganja!
 
Saya kira, kalau menyebut bahwa 7 dari 10 anak Aceh sudah mengenal ganja dari sejak mereka kecil, itu tidak bisa ditampik.

Meski beberapa orang mungkin akan mencari dalih bahwa itu terlalu mengada-ada. Entah karena alasan agar tidak membuat image Aceh memburuk, atau berbagai alasan lainnya. Tapi demikianlah, beredarnya ganja dengan  beredarnya rokok, saya kira masih lebih aktif ganja meski berjalan diam-diam.

Dalam beberapa kejadian yang sempat saya amati sendiri, beberapa anggota kepolisian yang awalnya ditugaskan untuk memburu pengedar ganja harus dipecat karena malah ia sendiri menjadi pengedar, atau paling tidak karena menjadi pemakai. Itu tentu bisa menjadi satu gambaran seperti apa ganja dan bagaimana tingkat akrabnya benda itu dengan masyarakat di sana.

Apakah itu mengada-ada? Media-media di Aceh dan Medan seperti Serambi Indonesia, Waspada, dan Analisa adalah beberapa media besar yang lumayan memiliki catatan tentang perihal itu. Betapa, per bulan nyaris selalu saja ada berita penangkapan pengedar ganja. Dimulai dari modus yang sederhana semisal membawa lewat kardus, sampai pernah ditemukan pula perempuan yang berpura-pura hamil, yang ternyata di perutnya adalah bungkusan berisi ganja.

Biasanya, karena kebetulan saya sendiri harus mengakui pernah berkenalan dengan beberapa pengedar ganja, mereka bercerita, soal mengedar keluar, jika berhasil adalah kesempatan untuk kaya. Menurut Agam (kenalan tersebut, bukan nama sebenarnya) jika berhasil saja bisa tembus ke Medan, maka untuk bisa loloskan lagi ke pasar-pasar lebih luas seperti Batam, Malaysia, dan Singapore akan lebih leluasa.

Apakah sejauh ini ada barang tersebut yang sudah lolos ke tempat-tempat dimaksud? Menurut sosok pemuda yang pernah berulang kali mendekam di penjara itu, pasti ada. Ditanya apa yang menjadi kunci untuk bisa loloskan itu? “Untuk jumlah pasokan yang besar, ya pintar-pintarlah meuget-getlah ngeun awak nyan nyeung poe urosan (terj: berbaik-baik dengan mereka yang menangani pemberantasan narkotik).

Dengan bahasa menyindir, ia menyebut,“Soal aparat hukum itu, tergantung kita pintar tidaknya kenyangkan mereka. Kalau sudah kenyang, ular yang lincah pun bisa tertidur.”

Terlepas benar dan tidak pengakuan narasumber yang belakangan saya dengar sudah meninggal tersebut. Namun itu menjadi satu penjelas lebih lanjut juga seperti apa potret di sana.

Tak ayal, ironi-ironi semisal remaja-remaja usia SD bahkan sudah mengenal ganja, memang masih menjadi sebuah catatan yang belum bisa dihilang bahkan sampai hari ini.

Menceritakan sedikit dengan pengalaman pribadi. Saya sendiri pernah bersentuhan dengan ganja–meski tidak lama– karena pergaulan dengan teman-teman akrab di kampung, meski hanya sempat menghisaphembuskan sekali dua saja (mencoba semasa SMA). Dalam arti tidak sampai menjadi pecandu. Itu pun, maksudnya berhasil untuk tidak sampai menjadi pecandu, cuma karena saya mengalihkan pergaulan saja.

Saya sendiri belum menemukan gagasan bagaimana ganja dan berbagai narkotik bisa berhenti beredar di Aceh, bila sepakat menyebut itu sebagai barang haram. Apalagi setelah mendapati kabar, beberapa yang saya kenal pernah menjadi pecandu ganja, justru baru-baru ini saya dapati kabar menjadi anggota kepolisian. Saya tidak paham seperti apa proses perekrutan di institusi itu. Wallahu a’lam.

Ganja, di Sudut Lain.
Ia sebelumnya hanya dikenal sebagai bumbu masak. Tanaman tersebut, di Aceh sebenarnya tanpa perlu ditanam pun bisa tumbuh dengan leluasa. Karena disebut-sebut oleh beberapa orang yang paham tentang itu, jenis tanah Aceh memungkinkan ganja bisa tumbuh dengan baik.

Dari sana, kemudian hari justru ganja tidak hanya dijadikan bumbu masak (biasanya untuk mie aceh, gulai ayam, dan beberapa makanan lainnya. Namun, juga dijadikan sebagai tanaman untuk ‘membumbui’ rokok. Di kepulkan di sudut-sudut gampong, atau di ruko-ruko dan bangunan tua di beberapa bagian kota di daerah itu. Tak pelak, jika langit Aceh sampai hari ini masih berawan asap ganja.

FOLLOW: ZOELFICK. Ilustrasi: republika.
Posting Komentar
Adbox