To Learn and Inspiring

Pengunjung

Tenggelam dan Hilang di Tebing Sastra


Media massa cetak bukan lagi penghasil kritik sastra seperti dulu! Demikian tegas Sihar Ramses Simatupang. Kalimat muncul saat saya mencoba mengganggu kesibukannya tangani rubrik Sabtu di korannya.

Sihar Ramses Simatupang. Salah satu pegiat sastra yang memang tidak terlalu memunculkan diri. Namun masih kerap ‘unjuk gigi’ kepedulian terhadap perkembangan sastra nusantara. Sekira sepekan lalu, saya berkesempatan berbincang dengannya soal perkembangan dunia sastra di Indonesia via jejaring sosial.

“Kritik–sastra– sekarang belum ada yang mengguncang, bung.” Sebutnya lagi terkait dengan seperti apa fenomena kritik sastra yang ia tangkap.

“…sebatas persoalan politik, kegiatan, tema tapi tidak ada analisis struktural yang mendalam terhadap karya” keluhnya isyaratkan miris yang terasa sangat dalam.

Saya mencoba memancingnya untuk memberikan komparansi terkait perkembangan kritik sastra, antara jamannya “Paus Sastra” Hans Bague Jassin dengan kondisi kekinian. Tidak menunggu lama, muncul kalimatnya,

”… dulu dan sekarang sama saja, memang ada perkubuan. Dulu kubu politik. Sekarang kubu ekonomi. Dulu menelanjangi dengan landasan teks plus politik juga filosofis. Sekarang nyaris tanpa landasan teks, hanya berlandas politik - dan terkadang kegenitan filosofis!”

Jeda sejenak. “…kesadaran pentingnya teks semakin berkurang dan menyempit hanya di media besar atau komunitas daerah saja - itu pun hanya sebagian kecil,” lanjutnya lagi.

Menurutnya lagi. Beberapa media besar yang dulunya dijaga oleh esais kritis belakangan semakin tua dan semakin mapan, semakin tidak obyektif (ini semakin menjadi penambah kondisi yang getir, yaitu kualitas karya sastranya yang semakin merosot).

“Horison kan sejak tak ada Sutardji, Mochtar Lubis, Hamsad Rangkuti - belakangan hanya senior Taufik Ismail - tak lagi dapat menjadi sandaran media lain. Selain Horison ada Koran Tempo dan Kompas. Namun tak ada lagi pembaiat di balik Tempo dan Kompas yang kuat (dulu puisi Kompas dijaga Sutardji).” Imbuhnya lagi.


Dari bincang-bincang dengannya. Saya juga melihat skema yang dipergunakan oleh Sihar. Bahwa, bicara perkembangan kritik sastra, cenderung bermain di wilayah koran cetak dengan kalangan akademisi.

“Nirwan Dewanto yang identik dengan Pantau dan Tempo malahan sudah berkarya sastra. Nirwan Arsuka tak terdengar lagi karya esainya yang ampuh belakangan ini.”

“Ada Saut Situmorang dan Binhad Nurrohmat yang sudah semayup suara kritiknya - Saut lebih pada kritik sastra ideologis dan politis dan Binhad malah asyik sendiri untuk berkarya. Ada Arief B Prasetyo di Bali yang kini asyik juga berkarya. Ada Ribut Wijoto di Surabaya yang lebih sering membaca peta di Jawa Timur ketimbang peta di Jakarta.” Sambungnya.

Lebih lanjut, “Sekarang media hanyalah jadi gelanggang lanjutan dari polemik bincang dan polemik pikiran di tingkat komunitas dan tingkat akademis. Ada hikmahnya yaitu para kritikus tak harus difilter oleh redaktur media. Redaktur media tak hanya ingin kritikus terkenal tapi juga mereka hanya mau karya terkenal saja yang dibahas.”

***’

Apa yang terpikirkan oleh saya, setelah menyimak premis-premis yang dilempar Sihar adalah: keberadaan kritikus adalah sesuatu yang hanya bisa diharap muncul sendiri. Dan, cenderung mustahil untuk ‘menodong’ sekian figur untuk berkutat dengan titik yang bersentuhan dengan kritik.

Mungkin, soal demikian—mungkin sekadar dugaan saya saja—berada di lini pemain yang menjalankan peran mengkritik, terkadang harus berhadapan dengan tantangan yang dilempar oleh pemain itu sendiri; bahwa tunjukkan dulu karyamu, baru kritik karyaku. Tetapi, kesimpulan saya ini tentu lebih terlihat mengada-ada saja.

Terkait itu, saya jadi tertarik juga untuk mengutip Sudjiwo Tedjo di Twitter. Menyentuh soal antara “yang melakukan” dengan “yang mengkritik”:  Jangan mengkritik saja, kerjakan sendiri kalau bisa! yang dijawab Presiden Jancuk itu sebagai kalimat orang-orang yang tidak tahu bahwa di dunia ini ada banyak peran dan sama-sama penting.”

Semoga saja, tidak ada lagi kritikus yang meng-aborsi diri sendiri.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?