To Learn and Inspiring

Pengunjung

Tangan Perempuan di Kelamin Realitas dalam Cerita Limbuk

Sama sekali tidak ada isyarat lenguh birahi. Tidak ada eksplorasi berlebih dalam kaitan dengan seks. Meski di sana terdapat persentuhan cerita dengan persenggamaan dan permasalahan kelamin, lebih tegas, pelacuran. Kehalusan tangan seorang perempuan demikian terasa. Itu pula yang saya rasakan dari sentuhan tangan Tantri Pranash dalam salah satu cerpennya yang diterbitkan dalam salah satu edisi Kompas Minggu yang bertitel: Di Persimpangan Pantura.

Patokbeusi nama tempat yang diangkat. Sebuah kawasan pelacuran yang memang berada di jalur Pantura. Memiliki nama yang cenderung kurang nyaman untuk segelintir orang yang bepergian dan melintasinya. Di tempat ini pula cerita itu mengalir dan menghentak-hentak nurani dalam setiap jalinan kata dalam cerita itu.

Itu cerita tentang bocah perempuan kampung, yang entah oleh kemalangan, entah oleh kelengahan lingkungan, Limbuk---nama tokoh cerita---harus menerima pukulan yang tak hanya mengenai kelaminnya, tetapi juga martabatnya sebagai perempuan.

Usianya baru 11 tahun ketika lelaki bernama Lik Sol merenggut keperawanannya. Sebuah fakta hidup yang harus diterima dalam ketidakmengertian seorang bocah. Tidak mengerti alasan apa seorang lelaki beristri menindihnya. Alasan apa ia harus menjalani takdir demikian.

Itu memang kejadian dalam fiksi, dalam sebuah cerita pendek. Namun, aliran kejadian ke kejadian lain, sesungguhnya sedang membicarakan fakta. Fakta yang benar-benar fakta, bukan fakta yang sekadar polesan dalam cerita fiksi. Penulisnya terlihat berupaya mengeluarkan segenap rasanya dalam cerita agar mewakili kondisi perempuan di negeri pertiwi. Betapa,  pelacur-pelacur pun tetaplah perempuan. Makhluk Tuhan yang menjalankan peran yang tidak bisa dilihat sekadar dari sudut biner benar-salah. Melainkan, apa yang melatarinya.

Di sini, Limbuk bersama pikirannya sebagai bocah, ia tidak bisa melihat terang berbagai kejadian beruntun yang menghinggapinya. Ia kebingungan, setelah Lik Sol puas, justru ia yang harus menerima dampratan istri lelaki yang memperkosanya. Tak berhenti di sana, gadis kecil itu harus melihat berbagai keganjilan lain, perempuan-perempuan kampung kerap menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan bahwa Limbuk "tidak suci" lagi.

Di sini menarik, penulisnya sama sekali tidak memaksa pembaca untuk larut dalam deskripsi-deskripsi yang bertele-tele. Hukuman yang didapat oleh Limbuk tercermin hanya dari penceritaan;

"Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku."

Penggambaran yang seperti ayunan, yang mengayun hanya menarik ayunan sekali saja, tetapi ayunan itu bisa terayun-ayun hingga berkali-kali. Artinya, dengan penjelasan sedemikian saja sudah memberikan gambaran atas sanksi sosial yang didapat Limbuk, lepas dari soal bahwa idealnya Limbuk korban dan tidak semestinya ia yang dihukum.

Namun, demikian itu juga memberi penjelasan, seperti itulah lingkungan masyarakat, tempat si tokoh cerita hidup dan mengalami pukulan batin cukup menyesakkannya sebagai perempuan kecil. Kecuali menerima kejadian itu, serta mencoba menghadapi gejolak perasaan sebisanya. Penulisnya memberikan penggambaran, gadis yang baru diperkosa itu sempat harus mengalami goncangan batin kuat yang membuatnya bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Di sisi itu juga terketemukan sebuah satir cerdas dijalin Tantri---penulisnya---betapa Limbuk berada di tengah keluarga yang sangat miskin, yang bahkan untuk membeli racun guna direguknya untuk bunuh diri pun tak terbeli.

Memang, di beberapa bagian cerita Tantri juga menyelipkan sindiran kondisi yang memang ada di kalangan masyarakat pedesaan; kecenderungan tidak percaya diri dengan identitas mereka sebagai orang desa. Bahkan nama mereka pun diganti menjadi lebih "wah", tentu versi mereka.

Simak saja saat penulis cerpen ini memasukkan Yu Salim ke dalam jalan cerita, ketika terjadi dialog antara Limbuk dengan tokoh dimaksud,
”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”
”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”
Beranjak dari sana, terdapat penyisipan pesan moral yang tidak kalah apik juga, saya kira. Itu tercermin saat tokoh Limbuk awalnya di-set oleh germo yang dipanggil dengan sebutan Mami, untuk ia hanya bekerja sebagai babu cuci piring pelacur di rumah bordir---dalam realita dunia pelacuran, ini sebagai metode untuk calon pelacur beradaptasi dengan lingkungannya.

Beberapa lama, Limbuk menjalankan peran hanya sebagai tukang cuci piring. Tetapi, perlahan Mami memberinya peran lebih, untuk Limbuk menemani tamu-tamu minum. Sebagai proses awal untuk memperkenalkan 'calon mangsa' kepada kepada tamu yang digambarkan penulisnya sebagai lelaki "paling buaya di dunia buaya."

Perjalanan adaptasi itu terhitung panjang. Setidaknya bisa dilihat dari beberapa 'drama' yang dimainkan Mami, menarik-ulur agar Limbuk tidak begitu saja digumuli tokoh yang disebut sebagai buaya oleh penulisnya. Sampai tiba pada konflik. Baik konflik Limbuk dengan batinnya sendiri atas kondisi hidup yang sedang ia perankan, yang akan ia perankan, sampai ketakutan atas risiko peran seperti dialami Yu Silam yang pernah meniatkan Limbuk menjadi dongdot (pelacur).

Di sini, Limbuk bersikeras untuk tidak mengalah ke dalam perasaan kotornya. Tidak takluk pada tudingan-tudingan yang sudah dijatuhkan masyarakat di kampungnya, yang sebenarnya berpeluang membuat perempuan yang mengalami perkosaan akan kian jatuh dalam keterpurukan, ditingkahi dengan berbagai tindakan yang jauh lebih buruk. Justru, dari sana, Limbuk bisa keluar dari desakan keadaan dan pertarungan batin, meski Yu Silam pun jatuh sakit yang membuatnya harus sering berobat. Limbuk memilih keputusan, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”

Logika
Lik Sol, lelaki yang menjadi pemerkosa dalam cerita ini, demikian saja lepas dari sanksi sosial. Tidak ada hukuman apa-apa padanya. Selain, dari 'bisik-bisik' dengan orangtua Limbuk, kemudian berdamai. Lik Sol bebas dari hukuman, baik dari masyarakat maupun dari penegak hukum. Kemudian, malah pemerkosa selanjutnya digambarkan penulis cerita tersebut bisa melenggang ke kota untuk bekerja.

Memang, kemungkinan bahwa orangtua Limbuk mendapat kompensasi tertentu dari Lik Sol, jika memang ada, mungkin saja bisa terjadi. Artinya mungkin saja hal itu bisa didapati dan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Akan tetapi jika melihat bahwa setting lokasi cerita mengangkat salah satu kawasan dusun di pulau Jawa---tidak konkret disebut belahan Jawa mana, kecuali lokasi prostitusi Patokbeusi di Jawa Barat---, bernama Dukuh Menjangan. Di sini, jika orangtua mengetahui anaknya menjadi korban perkosaan, sulit bisa dipahami, ia bisa demikian saja memaafkan pelaku.

Taruhlah misal orangtuanya memang memiliki keterbatasan kemampuan pikir, ada pihak desa yang pastinya menjalankan tanggung jawab untuk menangani hal itu. Entah memberi sanksi kepada pelaku, dan kemungkinan lainnya. Apalagi---dalam cerita ini---korban adalah bocah perempuan berusia 11 tahun. Berat bisa menerima bahwa penduduk desa bisa sedemikian permisif---merujuk lagi pada acuan socio-culture masyarakat pedesaan di Indonesia. Ini sedikit yang menjadi benturan logika dalam cerita Limbuk.

Sedang selebihnya, merujuk landasan disiplin ilmu yang juga dipergunakan, disiplin Psikologi sudah demikian tepat dipergunakan penulis. Paling tidak saat penulis menceritakan keadaan guncangan batin yang dialami korban perkosaan, semisal; ketakutan, yang diwakilkan dalam; Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi.

Terlepas dari itu, Limbuk mewakili potret-potret sistem masyarakat dan bahkan negara, yang sejauh ini belum maksimal dalam mencapai satu terminal, ketika seyogianya perempuan bisa aman. Sambil kita menaruh harap, ke depan penulis perempuan Indonesia bisa lebih getol bincangkan kaumnya apa adanya tanpa melulu mengajak melamun dengan cerita seputar pesta, diskotik dan 'pemaksaan' bahwa 'cerita' hanya ada dan menarik di kalangan menengah ke atas saja---sampai terdapat penerbit yang hanya menerima novel yang mengemas cerita masyarakat menengah ke atas saja.

Akhirnya, saya harus akui, ini bukanlah sebuah ulasan komprehensif dalam melihat buah karya Tantri Pranash yang juga seorang Kompasianer tersebut---masih banyak hal yang luput, atau belum saya telusuri lagi. Toh, mengutip Acep Iwan Saidi dalam Matinya Dunia Sastra : Biografi Pemikiran dan Tatapan Terberai Karya Sastra Indonesia, disebutkan bahwa mempelajari pemikiran seorang penulis tidak cukup dengan apa yang ditulisnya, tapi akan lebih baik jika mempelajari juga latar belakang mengapa penulis bersangkutan menulis hal itu. Dengan kata lain, biografi penulis, sejauh mendukung gagasan yang ditulisnya, menjadi penting sebagai aspek referensial. (Ilustrasi:  kosmik.web.id).

ALSO PUBLISHED IN: KOMPASIANA
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?