To Learn and Inspiring

Pengunjung

Sastra Kelas Bulu

Kadang kala, saya kerap merenung-renung, kenapa harus ada kelas dalam berbagai hal, dan kenapa sebagian antipati dengan kelas-kelas tersebut. Bahkan, konon beberapa agama dan ideologi mendobrak kelas-kelas itu. Dualisme kecenderungan manusia yang memang, untuk orang-orang yang belum berani menyebut diri cerdas, termasuk saya, kerap benar-benar dibingungkan oleh kelas-kelas itu. Apakah itu benar-benar masalah?

Mungkin sebagian mereka yang memang sudah makan asam garam sampai kehausan, maksud saya menelan asam garam yang sudah banyak, hal demikian bukan masalah lagi. Mereka melihat itu sebagai sebuah bagian yang lazim saja, dan bahkan mereka tidak merasa itu sebagai suatu hal yang berat untuk, bahkan, menjangkau kelas tertinggi dari sekian kelas dalam berbagai macam kelas dalam hidup.

Menjadi masalah, ketika hal demikian harus masuk dalam ruang renung orang-orang semacam saya. Sedikit makan asam garam hanya karena alasan khawatir asam lambung, takut perut perih dan sekian alasan lainnya. Maka kadang-kadang harus berlapang dada berdiri dan berbaris bersama-sama dengan orang-orang yang "kurang makan asam garam."

Kenapa menjadi masalah? Ya, karena yang memiliki jam terbang yang demikian minim dalam menelan asam garam tadi kerap dihinggapi keraguan. Ragu apakah cara untuk bisa berada di kelas lebih tinggi sudah benar-benar tepat? Apakah cara yang sudah ditempuh sudah benar? Apakah kawan-kawan yang diajak ikut serta ke sana sudah tepat juga? Apalagi karena katanya, siapa kawan seperjalanan pun kerap menjadi penentu apakah perjalanan yang ditempuh menjadi lancar, atau bahkan justru membuat perjalanan itu terhenti di tengah jalan. Toh, berbicara siapa yang paling berkemampuan untuk menghentikan seseorang hanya orang yang paling mengenalnya--entah benar dugaan saya ini.

Aha! Saya kerap terbawa lamunan pada olahraga tinju kalau sudah menghayal-hayal tentang masalah ini. Bahwa butuh lawan tanding yang lebih kuat untuk memacu persiapan lebih baik. Ketika persiapan sudah lebih baik, yang kemudian dengan sendiri lebih baik dari persiapan lawan, maka tentu tidak ada lagi "yang lebih kuat."

Itu sekadar perumpamaan yang sedikit saya ada-adakan. Dan Anda berhak ragukan kalimat saya itu.

Tapi begini. Saya berbicara demikian karena kemarin (10/12), di acara Kompasianival---sebagai acara ulang tahun sosial media Kompasiana---entah kenapa, kebetulan saja saya lagi dan lagi bertemu dengan beberapa rekan yang menyodorkan obrolan tidak jauh-jauh dari dunia kepenulisan, utamanya seputar sastra--meski saya sama sekali bukan expert dalam dunia tersebut, kecuali sekadar baru bisa mendirikan sebuah forum Komunikasi Sastra saja, tidak lebih.

Dalam obrol-obrol itu, saya menyimak kegundahan dari beberapa rekan. Kegundahan yang berhubungan dengan, apakah tulisan-tulisan fiksi yang mereka tuliskan sudah masuk kategori sastra atau bukan? Atau kalau itu bukan sastra, lantas masuk ke mana? Kembali saya teringat kalimat Jodhi Yudhono yang menjadi redaktur Oase di Kompas.com,"ada karya yang memuaskan penulisnya saja, itu menjadi sastra versi penulisnya saja. Juga ada karya yang memang yang tidak memuaskan penulisnya, tetapi memuaskan pembacanya ... dan soal sesuatu layak disebut sastra atau tidak, acap kali harus disandingkan dulu dengan khalayak, apakah mereka mengakui itu bagian sastra atau tidak?" 

Kira-kira demikian yang pernah saya simak dari obrolan beberapa jenak dengan rekan Jodhi dimaksud. Sebuah klasifikasi yang boleh jadi tidak sepenuhnya manut pada pakem:

Hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isi. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati pembacanya. Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya. (Intisari Sastra Indonesia oleh Drs. Supratman Abdul Rani dan Dra. Yani Maryani). 

Dari sebuah sumber: Kesastraan (T. Hasanuddin, Dkk-2009) disebutkan ciri-ciri sastra sebagai karya seni menurut Wellek dan Warren (1989):

1. Sebuah ciptaan, kreasi, bukan imitasi
2. Luapan emosi yang spontan
3. Bersifat otonom
4. Otonomi sastra bersifat koheren (ada keselarasan bentuk dan isi)
5. Menghadirkan sintesis terhadap hal-hal yang bertentangan
6. Mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa
sehari-hari.  



Atau, lagi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) sastra sebagai “karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”.


Selesai? Belum sama sekali. Saya terpaksa menjejal-jejalkan beberapa referensi itu, sejatinya sama sekali bukan untuk memberitahukan "yang ini gini, lho," atau "yang itu gitu, lho." Justru ini tidak lebih sebagai pilihan untuk mengobati kelemahan otak saya menghafal berbagai teori-teori tentang itu laiknya mantra.

Ini justru masih berkaitan dengan bulu. Jika sudah ada bulu maka sayap bisa lebih leluasa untuk terbang. Jika sudah bisa terbang, takkan bikin ular-ular mencaplok saya! Kira-kira demikian.

Bukan. Maksud saya adalah, berbicara kelas, entah Kelas Bulu dan berbagai kelas lainnya, maka sepertinya dunia tinju lebih melihat dari berat badan. Sedang kalau kemudian saya memaksa-maksa diri mengaitkan dengan sastra, ya tentu bukan berat badan yang dibutuhkan, melainkan bagaimana membuat kepala menjadi berat. Maksudnya, ya mengisi kepala dengan lebih banyak isi yang berhubungan dengan sastra.

Apalagi, jika sebelumnya saya menyebut istilah "kepala menjadi berat" tidak lebih sebagai kelakar saja. Sejatinya, kepala itu justru berat jika kekurangan isi, menjadi ringan jika memiliki banyak isi. Demikian saya kira---meski saya sendiri tidak terlalu bisa menerka seberapa sudah isi kepala saya. Tetapi, jujur, yang saya sendiri rasakan, kepala saya sepertinya masih berat.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?