dunia lain untuk bicara

09 Desember 2011

Saat Klimis Terasa Mistis

Klimis, tanpa perlu melongok-longok ke kamus bahasa, saya kira kita jamak tahu itu lebih menunjukkan muka lelaki tanpa kumis dan jenggot. Dan itu pula yang membetot otak saya untuk merenung, eh bukan, melamunkannya—rasanya saya sedang menuduh diri sendiri sebagai orang cerdas kalau menyebut “merenung”.

Nah, bermula di sebuah forum, membuka obrolan dengan beberapa rekan yang juga ‘penghuni gaib’ di media sosial ini. Topik yang diangkat, lagi dan lagi, sama sekali bukan topik serius. Justru, awalnya, rekan Herman Hasyim menyebut;”Lha, malam-malam begini harus melihat pantat!”

Tapi jangan menuding rekan itu kasar. Kesalahan ada di pundak saya, karena mengirimkan link You  Tube yang berisi lagu Hindi yang memang saya suka. Sedikit fatal, karena memang klip di video dimaksud sedikit kurang sopan,  memperlihatkan tiga perempuan berdiri sambil membelakangi, sembari menggoyang-goyangkan pelan pinggulnya.

Untung saya lekas mendapatkan dalih atas cibiran rekan Herman,”Lha, saya minta untuk dengar lagunya, toh? Bukan gambar videonya.” Dan sejenak saya ’selamat’, membuat saya yakin lewat tengah malam itu selain Tuhan kerap memberi ilham pada manusia, juga mudah untuk manusia menemukan alasan—seperti alasan yang saya berikan ke Herman.

Odi Shalahuddin, rekan yang juga ada di forum dimaksud menimpali,”Meskipun untuk didengar, tapi kuakui, aku sesekali juga melirik video itu,” yang cuma saya balas,”bersyukurlah  kita menjadi lelaki-lelaki jujur.”
Ada beberapa rekan lain yang menyimak obrolan itu, Granito Ibrahim, Ani Ramadhani dan beberapa rekan lainnya.

Karena memang obrolan yang tidak bertopik seperti halnya seminar-seminar yang membuat kening mengerut. Dari soal pantat yang ditayangkan video itu, kemudian beralih ke dangdut, jenis musik yang demikian populer di Indonesia. Kata mereka, dan juga saya akui, dangdut itu sudah demikian dangkal, dan tidak saya bantah sama sekali. Apalagi, seyogianya dangdut itu bisa menghibur telinga, belakangan, kok, malah lebih ditujukan untuk manjakan mata? Demikian renung, eh lamun saya.

Lantas apa hubungan dengan klimis? Iya, karena seperti saya sebut tadi, obrolan tidak bertopik itu mudah saja digiring ke mana-mana, dari obrolan sastra yang sempat juga terselip malah kemudian hengkang ke soal klimis dengan non-klimis.

Untuk hal demikian, rekan Ani Ramadhani, yang kebetulan ada juga di tengah-tengah obrolan itu memberi jawaban khas seorang perempuan jujur,”Lelaki berkumis dan berjenggot itu memang menarik untuk dilihat, tapi dari jauh. Tapi kalau dari dekat, tetap lebih nyaman yang tidak berkumis.” Saya mencoba tidak menafsir-nafsir apakah ada kemungkinan yang tersirat dari kalimat rekan perempuan tersebut. Melainkan mengucapkan selamat dengan tidak ikhlas kepada rekan Herman.

Namun begitu, saya masih berbusung dada. Setidaknya dari kami berempat lelaki: saya, Odi Shalahuddin, Herman Hasyim, Granito Ibrahim, cuma Herman saja yang klimis dan terlihat dari sejak saya kenal dia sangat konsisten dengan keklimisannya itu—-di sini boleh sedikit dipaksakan “tangan Tuhan berada bersama suara terbanyak,” yang bisa dilihat sebagai “Tuhan sedang memberkati lelaki yang berkumis dan berjenggot.
Lagi, kenapa klimis dan kenapa tidak klimis? Bukan topik yang cukup penting untuk Anda simak. Tetapi, mencoba sok bijak, berpura-pura bijak; saya menemukan keutuhan diri saya sebagai lelaki, saat kumis dan jenggot ‘terpasang’, meski sedikit saja. Artinya, lelaki yang sudah tidak berkumis dan berjenggot,  tidak utuh sebagai lelaki.

Rekan Herman, saking antipati dengan jenggot dan kumis, bahkan menyengaja menulis soal itu di tulisannya si Cantik, Malaikat Pencabut Kumis. Sedang saya, malam ini malah berkali-kali di depan cermin cuma untuk melihat: apakah kumis dan jenggotku kutebang, atau jangan?

Sebentar, soal kumis dan jenggot ternyata justru terbawa sampai ke ranah agama. Itu yang masih membuat saya kerap merasakan kebingungan, memang ada apa saja di balik kumis dan jenggot? Sampai syahdan, Tuhan pun terpesona dengan jenggot? Ah, saya mendebatnya padahal jenggot saya juga justru diam-diam saya kagumi sendiri.

ALSO PUBLISHED IN: KOMPASIANA
Posting Komentar
Adbox