To Learn and Inspiring

Pengunjung

Penggranatan Jelang Pilkada di Aceh: Antara Empati dan Tudingan (Respon untuk Mariska Lubis)

Segala sesuatu terkadang memang tidak bisa lepas dari soal takaran. Kalimat itu yang tiba-tiba mencuat di pikiran saya saat membaca berulang-ulang tulisan Mariska Lubis di atjehpost.com, 2 Desember 2011.

Sebuah tulisan yang mengulas fenomena pengeboman di Aceh. Sambil mencoba tafsirkan makna di balik penggunaan tanda seru yang tidak kurang dari 25 kali tercantum di beberapa bagian tulisannya.

Dari tulisan tersebut, saya juga memperhatikan berbagai komentar pembaca yang kemudian muncul di bawahnya. Beberapa secara elegan dan dewasa melihat bahwa kritik yang dilempar oleh Mariska, tetaplah sebagai tulisan yang memiliki arah yang positif. Tetapi, tentu, tidak bisa melihat sisi mereka yang "dewasa" dimaksud.

Terdapat kutub pembaca lain yang tidak bisa dinafikan. Iya, mereka yang memberi pandangan bahwa kritik Mariska lebih terlihat sebagai sebuah penghinaan, dan bahkan rasis. Pun, demikian, komentar yang berdiri di posisi ini tidak bisa serta merta diposisikan sebagai komentar ureung Aceh yang memiliki kemampuan lemah dalam mencerna maksud tulisan Mariska.

Namun lagi-lagi, saya kira, bicara kritik kembali pada takaran. Baik bagaimana seorang penulis menakar emosinya, pemahamannya terhadap sebuah kondisi yang diangkat, sampai dengan menakar-nakar kondisi psikologis pembaca.

Nah, terkadang, dalam menulis, lepas seorang penulis berlatar belakang apa pun. Tidak semua penulis bisa dengan leluasa menetralisir berbagai kondisi yang menghinggapinya, ketika ia menulis. Toh, penulis juga manusia yang terkadang harus berhadapan dengan berbagai persoalan pribadi dan lain sebagainya.

Idealnya, saat menulis, apalagi ketika harus membicarakan satu hal serius, harus bisa pastikan bahwa ia tidak akan dikendalikan oleh suasana yang menghinggapinya. Apalagi, bagaimana pun, seperti apa kondisi mental penulis saat menulis, pastinya akan tercium dari penggunaan kata sampai simbol tulisan dalam tulisannya.

Persoalan demikian bukan persoalan yang begitu saja bisa 'clear' dari seorang penulis. Entah ia berpendidikan demikian tinggi. Berpengalaman luas. Ataupun kelebihan-kelebihan lainnya. Di sini, saya juga tahu, Mariska berpendidikan tinggi, bahkan ia beroleh sarjananya dari Australia.

Namun begitu, jelas ini bukan dari mana seseorang belajar. Bukan soal tingginya pendidikan seseorang. Lebih sederhana, justru bagaimana pendidikan yang ia dapat bisa membantunya untuk bisa lebih jeli dan jernih melihat. Secara analogi, tidak semua prajurit yang memiliki senjata yang baik, bisa menembak dengan baik. Ini yang saya lihat sebagai masalah Mariska. Spesifik berkait dengan komunikasi empatis (emphatetic communication). Sejatinya, berbicara soal yang berdekatan dengan wilayah-wilayah sensitif komunal, ini merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditampik.

Terkait itu, saya teringat seorang rekan dari University of Michigan,Daniel Andrew Birchok Jr. Ia seorang Barat yang pernah melakukan penelitian mendalam di Aceh. Ada banyak hal dari masyarakat Aceh yang ia sorot.

Utamanya, sisi keislaman ureueng Aceh dipelajari sedemikian rupa. Laku ureueng Aceh juga diamati sedemikian detil. Tak kurang, untuk keperluan demikian ia pun sampai belajar bahasa Aceh, dan bahkan berkemampuan berbahasa Aceh tidak kurang dari pribumi Aceh sendiri.

Baru-baru ini, Daniel mengirimkan saya hasil penelitian yang belakangan ia presentasikan di Leiden University (Entangled Genealogies, Stance, and Islamic History in Nagan Raya: Placing Islamic Reform in Context). Membaca hasil penelitiannya. Tidak sekadar saya dapati semua yang sudah ia rangkum dari penelitiannya di Aceh. Namun lebih dari itu, juga isyarat bahwa, butuh kedekatan dan pendekatan untuk bisa mengenal ureueng Aceh. Menariknya lagi, Daniel sama sekali tidak memuat secuil pun kalimat yang sifatnya menuding dan menyimpulkan ureung Aceh begini atau begitu.

Sebab--mengembalikan ke tulisan Mariska--jika sekadar kenal, entah dari beberapa artikel di koran, beberapa buku yang bisa ditemukan yang mengulas Aceh. Itu jelas sangat tidak memadai untuk melihat Aceh secara objektif. Ini yang saya kira sangat dimengerti Mariska, tetapi luput ia perhatikan saat berbicara tentang Aceh.

Apalagi bicara opini di ruang publik. Ini berkait erat dengan kemampuan penguasaan komunikasi massa. Mengutip Kappler (1960) komunikasi massa memiliki efek:
1. Conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan   yang tidak diinginkan.
2. memperlancar atau malah mencegah perubahan
3. memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada.

Fenomena penggranatan, yang disorot Mariska memang memiliki muatan positif untuk tujuan demikian. Namun begitu, saya kira tidak bisa dijadikan acuan bahwa ureung Aceh seperti ini atau seperti itu. Ada rangkaian panjang yang harus ditelusuri. Ada berbagai persoalan dan kemungkinan yang harus diperhatikan. Maka, saat membaca tulisan Mariska, lebih terlihat sebagai kedongkolannya terhadap Aceh, digenapi dengan kejengkelan. Dan itu sangat terasakan dari kata yang ia pergunakan sampaikan. Pun, bicara logika intelektualitas, saya sulit untuk menunjukkan bagian mana dari tulisannya yang bisa dijadikan simbol intelektualitas.

Mungkin bisa saja melempar kilah. Tidak perlu melihat cara, tetapi lihat tujuan. Itu cerdas, memang. Tetapi itu sama sekali tidak arif. Karena jamak diketahui, ureung Aceh itu adalah masyarakat yang baru beranjak dari pukulan panjang pengalaman. Dari konflik berkepanjangan, sampai dengan berbagai musibah yang mengikuti di belakangnya.

Meneriaki kuping seseorang yang baru mengalami musibah, saya kira--meski dengan dalih bermaksud baik--tidak tepat. Sebab, bicara kata-kata, terdapat kata-kata yang menguatkan, dan kata-kata yang menjatuhkan. Ini, tentu tidak berarti harus menyuguhkan puisi-puisi indah untuk ureung Aceh. Namun bagaimana memperhatikan muatan kalimat yang digunakan. Memperhatikan dengan jernih kondisi yang diangkat. Dan tentunya solusi ideal.

Dari tulisan Mariska, jujur, saya tidak mendapati solusi atau premis-premis yang kuat untuk kesimpulan apa pun. Justru yang lebih muncul adalah omelan seorang ibu untuk seorang anak yang tidak tahu apa-apa. Pertanyaannya, apakah ureung Aceh tidak tahu apa-apa?

Dari sini, saya melihat, cara buruk meski bertujuan baik kecil kemungkinan bisa berhasil baik. Sering kali, untuk tujuan baik, butuh cara yang juga baik.




*) Penulis adalah salah satu penulis buku Hasan Tiro: Unfinished Story of Aceh, asal Nagan Raya. Berdomisili di Palmerah-Jakarta.

Also Published in: The Atjeh Post
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?