To Learn and Inspiring

Pengunjung

Kuntum Bunga yang Jatuh dan Luruh



KEEMPAT - Perdebatan batin kerap menjadi satu hal yang tidak bisa dielak kemunculannya, ketika berhadapan dengan kegamangan antara benar dan salah. Tetapi soal perasaan yang muncul bukanlah sesuatu yang bisa gampang dilihat dari kacamata hitam putih, benar dan salah.

Seperti halnya dialami Bara, harus menikmati perdebatan batin yang tidak sederhana. Tidak ringan.

Apalagi perdebatan yang dirasakannya bukan sekadar perdebatan soal hubungannya dengan Dara yang kian hari kian menombak jauh ke dalam hatinya itu. Tetapi terdapat demikian banyak pengalaman yang harus ia saksikan, dan lantas ingatan demikian tanpa kompromi menyimpan itu semua di pikirannya.

”Tuhan mungkin memang ajarkanku untuk jalani hidup seperti itu pula!”

”Tidak! Tidak bisa elu menyalahkan Tuhan dalam berbagai hal yang sebenarnya adalah bagian dari pilihanmu!”

”Tetapi kan, apa yang terlihat sebagai pilihanku itu adalah pilihan yang sebenarnya sesuatu yang harus kupilih karena terpaksa. Iya, aku memilihnya karena tidak ada pilihan lain!”

”Tidak! Bukan karena tidak ada pilihan lain! Tapi karena elu sendiri yang enggan untuk melihat pilihan-pilihan lain bukan?!?”

Please! Jangan kau posisikan aku sebagai tersangka seperti itu!”

”Begini, kamu sedang menciptakan beban batin pada diri sendiri. Aku, sesuatu yang memang takkan bisa elu lihat karena aku berada jauh di dalam dirimu, turut prihatin. Kau sering merasa lebih bisa menikmati hidup ketika hidup itu tidak jauh-jauh dari api. Kau bermain api!”

”Iya aku bermain api! Tetapi itu lagi dan lagi kukatakan karena aku tidak punya pilihan lain! Dan elu pun juga tahu itu!”

Suara itu seperti perdengarkan suara yang demikian keras. Membahana. Ruang-ruang dengan dinding yang entah terbuat dari apa dalam dirinya seperti kian gemakan suara tawa itu. Ah, sebenarnya Bara sedang menertawakan dirinya sendiri. Tetapi, hal itu tidak ia sadari sama sekali.

”Kenapa kau ketawakan aku?”

”Bukan, bukan aku yang sedang tertawakan kau, bukan! Tapi kau sendiri yang sedang tertawakan diri sendiri! Ingat, apa pun yang kau pilih, apa pun yang kau lakukan. Itu kau lakukan karena kesadaran sendiri dan dengan pilihan sendiri! Kukira sangat tolol kalau kau berdalih karena pengalaman di sekitarmu yang memang tidak jauh-jauh dari sana! Dan jika pun semua yang menghinggapi hidupmu hari ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipilih, maka Tuhan, sosok yang nama-Nya masih kau sebut sesekali itu, salah! Dengan begitu, sama saja kau menyamakan kemampuan-Nya dan kekuasaan-Nya dengan kemampuan dirimu!”

Menarik  nafas sejenak. Menghempasnya kuat-kuat. Ia rebahkan wajahnya ke kedua telapak tangannya yang menangkup.

”Jadi, bagaimana aku harus melihat persoalan ini?”
”Kau sudah melihatnya.”
”......”
”Iya, kau sudah melihatnya. Coba, coba lihat lagi semua yang kau alami, semua keputusan-keputusanmu. Bukankah itu semua adalah segala yang kau pilih karena kesadaran? Bukankah itu memang kau inginkan? Kau melihat keindahan, kau melihat sebuah pesona yang demikian indah, dan lantas kau biarkan itu semua merasuki hatimu, bukan? Akui itu!”

Lagi, Bara hanya bisa menghela nafasnya.
”Aku melihatmu sebagai lelaki yang kalah dengan diri sendiri. Lelaki  yang tidak bisa mengendalikan perasaannya. Aku kerap perhatikan kau juga lelaki yang lebih sering dipermainkan perasaan!
”Kenapa kau sebut demikian?”
”Ah, jangan kau tanyakan aku. Elu, Cuma harus harus jujur melihat rentetan pengalaman yang sudah kaulukis sendiri!”
”Aku merasa justru makin bingung dengan semua kalimatmu itu!”

Hening. Kembali hening. Suara yang sudah mendebatnya itu seperti seseorang yang datang, mengajak berdebat, tetapi kemudian malah tidak memberi solusi apa-apa, selain tidak lebih dari sekadar mendebat. Iya, tidak lebih.

***

Iya, di sudut Jakarta, di tepi kali kecil, dari rumah yang sederhana saja untuk ukuran Jakarta. Ia lahir, tumbuh dan besar sampai kemudian usianya melewati kepala tiga.

Pengalaman demi pengalaman yang demikian dekat dengan dirinya. Tepatnya dari yang ia saksikan di sekelilingnya, membuatnya kerap harus menjadikan semua yang terlihat dan terasakan menjadi bagian perenungan-perenungan dari hari ke hari.

Bermula dari perselingkuhan demi perselingkuhan yang terjadi di sekelilingnya. Dari sejak ia kecil harus ia saksikan. Dari Pamannya yang berselingkuh dengan remaja yang baru beranjak dewasa. Kakeknya yang berselingkuh dengan perempuan yang juga jauh lebih muda dengannya. Neneknya dari sebelah Ibunya pun kemudian malah menikah dengan lelaki yang menjadi tetangga samping rumahnya.

Tak ketinggalan. Sampai dengan Bapaknya yang pernah ia dapati sendiri menghabiskan malam-malam dengan perempuan lain. Saat itu, Ibunya hanya bisa menangis dengan ulah Bapaknya. Tetapi kemudian, malah Ibunya sendiri, perempuan yang berasal dari salah satu daerah di Sumatra itu pun memilih untuk menjalani perjalanan hidupnya dilengkapi dengan perselingkuhan.

Dari sana, Bapaknya menyalahkan Ibunya,  pula Ibunya menyalahkan Bapaknya. Yang membuatnya merasa tidak waras adalah keduanya menceritakan semua keluhan hanya kepadanya.

Setiap membuka obrolan dengan Ibunya saat Bapaknya berangkat kerja---pilihan agar Ibunya leluasa tumpahkan keluhannya.
”Bapakmu tidak pernah peduli apa-apa lagi. Kalian ingat, untuk bisa menyekolahkan kau dan Abangmu saja, ibu harus berhutang dari sejak kau masih kecil bukan?
Bara hanya termangu.
”Ibu berhutang, berhutang, bahkan sekadar untuk bisa mendapatkan beras agar bisa kau makan. Tetapi saat harus membayarnya, Bapakmu malah melempar tanggung jawab membayar itu pada Ibu. Karena alasan Bapakmu bahwa itu adalah pilihan yang kulakukan! Selalu saja seperti itu!”

Entah kenapa, lelaki yang sebenarnya memiliki sikap kasar yang luar bisa, sama besarnya dengan kelembutan yang selalu ia tunjukkan pada Ibunya. Biasanya, ia membiarkan Ibunya bercerita apa saja, sedang ia sendiri paling hanya bisa diam dan diam. Menyimak. Meski selepas mendengar keluhan ibunya itu, Bara merasa kepalanya menjadi panas. Jantungnya berdebat kencang. Dan, diam-diam memaki Tuhan, ”Kenapa Kau beri hidup yang seperti ini?”

Iya, itu karena ketidaksanggupannya melihat pilu yang dirasakan Ibunya itu. Walaupun ia juga tahu pasti apa saja yang menjadi kesalahan ibunya tersebut.

Sedang kalau sedang bersama Bapaknya. Biasanya saat Ibunya sedang sibuk sendiri di rumah tetangga.

”Ibumu itu perempuan yang tidak benar! Sudah dari nenekmu, ia menjadi perempuan tukang selingkuh! Jujur, aku menyesal menikahi Ibumu itu! Kalau bukan karena teringat kau dan Abangmu!”

Kalimat yang ribuan kali harus ia dengar. Dari sejak ia masih menjadi seorang murid sekolah SD di satu lorong kecil di Cempaka Putih yang polos, masih kecil. Sampai ia tumbuh dewasa.

Dan, saat ke sekian ribu Bapaknya keluhkan Ibunya yang dipandang terlalu keras kepala. Bara tanyakan Bapaknya, lengkap dengan sorot mata tajam.
”Bapak merasa lebih lega dan tenang hidup bersama Ibu atau tanpa Ibu?”

Terlihat sekali. Cukup kental terlihat. Wajah Bapaknya seperti tercekat. Saat itu Bara sudah beranjak usia seperempat abad.

”Iya, Bapak merasa lebih tenang dan lega hidup kalau misal hidup tanpa Ibumu itu!” Kalimat yang sepintas terlihat cukup tegas, tetapi itu lebih sebagai ketegasan yang terlihat seperti dipaksakan.

Padahal Bara masih memiliki satu-satunya kakak lelaki sekaligus satu-satunya saudaranya. Harusnya Bapak dan Ibunya itu menceritakan semua keluhnya itu pada lelaki yang ia panggil dengan Abang itu. Tapi tetap ia sendiri yang harus menerima keluh kesah tentang satu sama lain, antara Bapak dan Ibunya itu.

Pada keluh yang ke sekian ribu itu pula maka Bapaknya mengambil pilihan bulat,”Baik kuceraikan ibumu!”


Lanjutan Bara Tanpa Dara. NEXT.
ALSO PUBLISHED IN: KOMPASIANA
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?