dunia lain untuk bicara

16 Desember 2011

Dara dan Bara yang Masih Nyala

KELIMA-Meredam gemuruh perasaan adalah kemustahilan, demikian kata Dara, ketika seorang perempuan yang lama menjadi kawan terdekatnya bertanya tentang kebangsatan rasa.

"Bagiku perasaan itu terkadang memang seperti sebuah kebangsatan di dalam ruang yang sulit sekadar digambarkan dengan seluruh huruf sekalipun!" kalimat yang keluar persis ketika Clarissa, perempuan blasteran Jawa- Belanda--tapi lebih terpengaruh pikirannya oleh filosofi Jawa itu mengkritik soal perasaan Dara pada lelaki bernama Bara.

Mereka sama menatap delman dan hentak kaki kuda yang berjalan perlahan, di salah satu lesehan tidak jauh dari Beringharjo. Entah karena demikian berirama suara sepatu kuda yang menyentuh jalanan, sampai mereka pun seperti sama terpaku. Sampai Clarissa mengalihkan pandangan, dan menatap lagi kawannya yang masih larut dalam sorot mata ke arah kuda yang sedang berjalan itu.

"Apa yang kau perhatikan dari kaki kuda itu?
"Iramanya ..."
"Kenapa dengan iramanya?"
"Coba lihat, kuyakin kuda itu tidak pernah arahkan pikirannya, andai ia punya pikiran, pada ayunan langkahnya sendiri. Ia lebih peduli dan hanya bisa tanggap pada pemegang tali di tangan sais itu, bukan?
"Iya, kenapa dengan itu?"
"Terkadang, orang-orang demikian mudah menulis puisi yang isyaratkan, harusnya kita tidak pernah dikendalikan perasaan, tetapi baiknya kita yang kendalikan perasaan..."
"Nah, terus...?"
"Lagi-lagi ini soal perasaan kita sebagai perempuan ... aku dan kukira juga kamu, Cla. Iya ... maksudku itu ... kita sama-sama pernah mengenyam pendidikan, menelan sekian banyak teori yang berhubungan logika ... logika, dan logika..."
"Uhm..."

"Berapa banyak teori yang bincangkan soal perasaan? Berapa banyak orang-orang secerdas apa pun ia bisa dengan tepat bincangkan soal perasaan ... dan, kemudian ia bisa benar-benar mampu kendalikan perasaaannya?"
"Okey, nah menurutmu sendiri?"
"Aku tidak mencoba mencari pembenaran ... soal kenapa aku ... aku kemudian memilih membiarkan diriku menikmati perasaanku pada Bara," hening saja beberapa jenak. Dara menyeruput teh tawar kegemarannya, sedang Clarissa membenarkan rambutnya yang sempat nyaris menutup wajahnya.

"Terus, menurutmu, mencintai seorang lelaki yang ... kukatakan saja seperti Bara itu , bukan sebagai kekeliruan? Artinya, itu tidak lebih soal ... bahwa dirimu seorang perempuan, seorang makhluk Tuhan yang katanya memang memiliki ... kecenderungan lebih kuat ke perasaan daripada ke logika. Terus, kemudian kamu merasa bukan masalah mencintai lelaki itu???"

Dengan sedikit menunduk sambil membiarkan beberapa anak rambut jatuh ke keningnya, Dara menyeruput tehnya sekali lagi. Dengan tangan kirinya masih berada di badan gelas berisi teh itu.
"Well, kamu pernah jatuh cinta," tanya Dara sambil menatap dengan tatapan yang sedikit tajam ke mata kawannya itu.

"Iya ... iya aku pernah jatuh cinta. Kukira semua yang masih waras pasti pernah merasakan jatuh cinta..."
"Itu ... itu masalahnya, Cla. Kamu hanya mengira bahwa cinta itu tidak pernah bisa keluar dari soal waras dan tidaknya ... dan itu, lagi-lagi kembali kau kaitkan dengan logika bukan? Kamu yakin cinta itu bisa demikian saja mudah dikendalikan logika?" Dara memberikan tekanan yang cukup pada semua kalimatnya, meski tetap dengan suara yang cenderung pelan.

"Menurutku ... kamu sudah dibawa oleh perasaanmu demikian kuat, maka kekuatan logika pun kau kesampingkan!"
Dara terdiam, seperti memberi kesempatan pada Clarissa untuk terus bicara.
"Aku salah satu yang tidak percaya bahwa perempuan lebih kuat perasaannya daripada akalnya ... logikanya. Sebab, kulihat Tuhan pun tidak akan merepotkan dirinya menciptakan dua otak dari jenis yang berbeda, sekadar untuk lebih memperjelas otak lelaki dengan otak kita sebagai perempuan!"
"Baik ... lalu bagaimana kamu melihat yang kurasakan? Kamu bisa membayangkan dengan jernih dan jujur andai dirimu menjadi aku??? Menurutmu aku seorang perempuan penjahat karena terlihat olehmu mencintai lebih dari satu lelaki?"

Clarissa mengambil bungkus rokok yang dari tadi nyaris tidak terlalu dipedulikannya. Menyalakannya, sampai kepulan asap keluar dari mulut dan hidung. Mengarah ke Dara.

"Maaf kalau aku tetap menyebut itu sebagai ketololan..." kalimat yang tak ayal membuat wajah Dara memerah,"Aku memang kawanmu ... aku temanmu ... sahabatmu yang sudah memiliki liku hidup yang tidak sederhana. Kau tahu semua tentangku. Kau pasti tahu pasti, sejak kita masih sama-sama baru selesai kuliah, aku dilamar Rudy, tetapi begitu hari pernikahan harusnya berlangsung, aku dan keluargaku dipermalukan, ia tidak datang dan membatalkan pernikahan tanpa alasan yang jelas!

Dara hanya mendengar sambil mencoba terus menatap wajah Clarissa yang bicara sambil memainkan asap rokoknya sesekali membentuk bulatan-bulatan.

"Tapi kau pasti ingat, demikian kuat pukulan memalukan itu, tapi aku pernah bilang pada malamnya ... bagiku Rudy tidak salah, ia tidak keliru dan ia sudah melakukan sesuatu yang tepat! Kebetulan mungkin ia mendapatkan kepastian bahwa aku bukan yang tepat untuknya ... justru pada hari ketika kami harusnya sama-sama sudah di gereja untuk mengikat aku dengannya. Ia masih bisa berlogika dengan perasaannya. Demikian juga aku, mencoba untuk netralisir perasaanku ... dan aku berhasil, aku tidak kecewa. Andai aku tidak berhasil netralisir perasaan itu, tentunya aku akan kecewa. Kau paham ke mana maksudku?"

"Pasti, maksudmu, meski berbeda kasus perasaan yang kualami dengan kejadianmu, tetapi dalam kondisi apa pun idealnya aku harus tetap waras dalam hal perasaan itu? Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa ketika itu sebenarnya kamu pun tidak terlalu mengharapkan dia sebagai pendamping hidupmu?"

"Kenapa  kamu bilang begitu?"
"Lepas apakah kau melihatku dengan semua pilihanku sebagai ketololan ... tapi aku bisa pastikan, sesuatu yang kau lempar itu yang kau dapat. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Hukum tabur tuai itu bukan soal perdebatan dalam dongeng-dongeng filsafat, tapi kau bisa melihat sendiri dari semua perjalanan hidupmu sendiri.  Kalau pun kau mengajak melihat cinta dari sudut pandang waras dengan tidaknya, maka apakah disebut waras mengatakan seseorang yang dicintai dan benar-benar diharapkan tidak datang tapi tidak memberikan secuil pun perasaan sedih, cemburu, marah dan semisalnya itu? Aku tidak akan mengatakan pilihanmu untuk tenang seperti ketenangan yang kau pandang sebagai benar-benar ketenangan itu, sebagai sebuah kemurnian, sesuatu yang hebat ... sesuatu yang lebih, karena memang kau saat itu tidak perlu melawan sama sekali perasaan terhadap Rudy. Apa yang harus kau lawan jika sebenarnya kau tidak pernah memiliki perasaan padanya. Coba akui itu!"

Clarissa hembuskan dengan kuat asap rokok dari batang yang kesekian. Ditingkahi batuk-batuk kecil. Lagi, keduanya terdiam.
"Sorry, kalau aku ... seperti membela perasaanku, Cla."
"Well, aku bisa mengerti, Ra..."
"Anyway, kamu tidak merasa bersalah dengan perasaan itu?"
"Uhm, bagiku ini bukan soal ada dan tidaknya perasaan bersalah itu, Cla ... tapi aku lebih terpikir untuk bertanggung jawab pada perasaan itu."
"Apakah itu mudah?"
"Jika kau menyebut diri sebagai perempuan logis, aku akan katakan, soal mudah tidaknya bertanggung jawab itu ... kembali ke sini," jawab Dara sambil menyentuh pelan keningnya dengan ujung telunjuk.
Clarissa kembali sibuk dengan asap rokoknya. Mencoba-coba tenangkan diri, bahwa semua kalimat Dara bukan untuk menyudutkannya, tetapi ia memang sedang mencari pembenaran atas ceritanya bersama Bara.
Seakan mencium gelagat sesuatu yang dipikirkan oleh Clarissa.

"Cla..."
"Kau  ingat tidak puisi yang pernah dulu sama-sama kita gemari?
"Yang mana, Ra?"
"Yang ini: ... siapa yang mengantarkan kita? Hati kita sendiri lebih unggul dari derita, lebih unggul dari putus asa, lebih unggul dari sepi*
"Yah, hubungannya apa?"
"Entah kau jatuh cinta atau entah memilih menghindarinya, pastikan jujur pada yang ini?!" sambil Dara sentuhkan tangannya ke dada.
"Aku bisa terima ... ha ha ha, jujur, memang aku mengakui, sampai detik ini aku tidak pernah izinkan diriku benar-benar mencintai siapa juga, jika itu dalam ukuran individu ke individu, seperti aku ke Mas Harry, suamiku. Meski memang ia sudah berjasa, setidaknya sudah menutup malu keluargaku dulu karena tingkah Rudy..."

"Artinya?"
"Begitu, aku menikah dengan Harry kemudiannya, tetapi pikiranku masih kerap ke Rudy, Ra ... meski aku pun tidak bisa definisikan apakah yang kurasakan ke Rudy sudah pasti sebagai cinta yang sebenarnya, ataukah benar seperti tadi kaubilang, mungkin juga bukan cinta?!?"

"Tapi, Cla, menurutku, mudah saja untuk mengetahui mana yang benar-benar kau cinta dengan yang tidak; seberapa banyak waktu yang telah kau beri, meski sekadar untuk bermain dalam pikiranmu. Yang terbanyak menyita waktu, itu ... itulah yang sebenarnya kau cintai. Dan, saat itu, kau tidak pernah merasa rugi meski orang-orang menerjemahkan waktu dengan sesuatu yang termahal sekali pun. Itu menurutku, Cla."

"Terus bagaimana dengan 'waktumu' dengan Bara?" tanya Clarissa dengan ekor mata menyelidik, dilengkapi seulas senyum yang sulit diartikan.
"Uhm, sebenarnya aku mencoba tidak larut, tetapi ... ya begitu, cinta itu seperti lumpur hidup, kian kuat melawannya justru membuatnya menarikku kian dalam."
Kalimat yang keluar persis ketika kedua perempuan Yogya tersebut, dengan isyarat mata putuskan untuk akhiri obrolan jelang tengah malam itu.

Pulang dengan kedua taksi yang berbeda. Clarissa pulang ke taksi menuju rumahnya, tetapi pikirannya menuju Rudy. Sedang Dara memilih taksi ke arah rumahnya, tetapi hatinya merambah malam menuju Bara. (Ilustrasi: Dweedy)

*Sajak Sapardi Djoko Damono; Pada Suatu Hari Nanti (1967).

Posting Komentar
Adbox