To Learn and Inspiring

Pengunjung

Bara Tanpa Dara



KETIGA - Hati wanita terkadang seperti tanah yang begitu subur. Ketika biji yang tepat dengan sifat tanah tersebut jatuh ke atasnya, maka begitu saja biji itu tumbuh. 

Dara merasakan sekali hal demikian dialami oleh dirinya langsung.

Siang itu, sebuah SMS menyinggahi layar selulernya. Singkat saja. Tapi tak urung membuat senyumnya mengembang.

“Kau itu listrik. Aku kesetrum!”

Segera saja ia balas:”Kamu gombal! Tapi aku suka!”

SENT
Berselang detik. Kembali ia melihat balasan di selulernya.

“Meski kau katakan kata-kataku gombal, tapi aku yakin kamu tahu bahwa aku jujur dengan pengakuan itu!"

Dara hanya bisa menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Betapa beberapa patah kata itu memberi desir-desir halus yang sulit untuk ia jelaskan.

Iya, itu isi SMS-SMSnya dengan Bara siang itu. 
Persis ketika ia sedang larut dengan pekerjaannya.

Kantor yang sebelumnya hanya  berisi dirinya dengan rekan-rekan kerja yang sudah sedemikian dihafalnya. Sekarang bertambah: bayang-bayang Bara.

Sedang satu SMS yang baru saja menyinggahi selulernya tersebut, membuatnya harus membagi pekerjaan menyelesaikan laporan bulanan dengan meladeni SMS lelakinya itu.

“Kamu selalu saja bisa berikan-kata indah. Swear, aku mengagumi kemampuanmu itu!” balas Dara ke nomor handphone yang sudah membuat siang harinya terasa lebih terang.

“Tidak. Jika kau pun merasa bahwa itu tidak lebih dari sekadar kata-kata indah ... tetapi aku akan katakan itu adalah gambaran perasaanku padamu!” SMS balasan Bara kembali tiba ke handphone Dara.  Lagi-lagi membuatnya harus izinkan wajahnya menciptakan seulas senyum.

Sambil mencoba untuk tetap bisa arahkan pikiran dan konsentrasi ke pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Tetap saja, pikirannya sedikit terusik untuk bisa memberikan respon yang tepat, untuk ia jadikan balasan.
Akhirnya, cuma bisa ia balas dengan satu kalimat kecil saja:

“Aku percaya padamu!”

SENT.
Beberapa menit aktifitas berkirim SMS itu terhenti. Dara kembali bisa lebih arahkan pikirannya ke pekerjaan yang memang menuntut dituntaskan segera.

***

Sore itu, jelang Dara pulang. Selulernya lagi-lagi dibanjiri SMS.

Dara dan Bara mendiskusikan hujan lewat SMS yang tidak mereka hitung jumlahnya.
"Kamu tahu, di Jakarta turun hujan. Tetapi ia tidak hanya membasahi tanah yang kupijak. Ia sudah kian basahi hatiku dengan bayanganmu."

Dara tidak bisa menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Oh, di sana hujan, ya?" Dara berpura-pura tidak terkesan dengan kalimat yang baru saja masuk ke selulernya.

"Yogya juga sekarang sedang hujan." Balasnya sekali lagi.

"Kuyakin itu hujan yang sama. Mungkin Tuhan memang sedang inginkan tanah di kedua hati kita kian lembab. Agar bunga-bunga kita semakin merekah. Iya, bunga di hatiku, dan hatimu."

"Aku juga sangat mencintai hujan. Tetapi aku juga kerap merasa sedih dengan kedatangan hujan itu, sayang..." Balas Dara.

"Kenapa..."

"Kau tahu, aku tidak bisa menikmati derasnya hujan itu seperti dulu-dulu ... dulu-dulu sekali."

Tidak sulit untuk Bara memahami maksud di balik kalimat Dara.

"Hujan itu ... iya seperti cinta yang kuberi untukmu, Dara. Kelak, terkadang aku akan membuatnya demikian Deras, agar hijau daunmu tetap merekah. Terkadang mungkin aku akan diam, agar matahari pun leluasa membasuh daun dan tubuhmu. Karena kutahu, setiap harinya, ada matahari yang selalu mendatangimu, membayangimu...

"Aku mungkin hanya datang sesekali. Dan itu kukira cukup. Setidaknya, demikian, kau bisa selalu merasakan seperti apa indahnya saat kerinduan membasuh hatimu."

Dara hanya membalas,"Mendengar itu, membuat aku ingin memelukmu, Bar!"

Tetapi, meski sekelebat. Di pintu depan kantornya, Hardi sudah menunggu untuk menjemput.

"Maaf, sayang. Suamiku sudah menjemput."

Tidak ada lagi suara dering sebagai tanda SMS masuk. Setidaknya untuk sore itu.


Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?