dunia lain untuk bicara

08 Desember 2011

Andai Abraham sebagai Petinju

Berawal dari dialog kecil di sebuah warung kopi di sudut Banda Aceh. Bukan dialog terlalu serius. Justru lebih mirip ngalor-ngidul. Artinya, memang yang dibincangkan begitu lepas saja. Meski, tetap mencari satu topik agar 'kengaloran' dan 'kengidulan' tidak terlalu lari jauh. "Kekerasan" menjadi bahan obrolan bersama rekan yang sekitar 10 tahun lebih tua dari saya, Lukman Emha namanya--memiliki kekhasan jenggot dan kumis saling sambung.

Berangkat mulanya dari bola. Iya, karena kebetulan saja, rekan-rekan saya di Banda Aceh lebih banyak penyuka bola. Untuk bola, mereka rela untuk lupakan betapa nikmatnya tidur malam. Sesuatu yang benar-benar nyaris tidak pernah saya lakukan.

Bang Lukman, demikian saya kerap menyapanya, memberikan saya serentetan alasan kenapa bola jauh lebih bermanfaat untuk ditonton daripada olahraga lainnya. Bahwa, bola lebih mengandalkan kerja sama. Di sana, dituntut komunikasi satu dengan lainnya. Kemudian, di sana otot kaki dan otak benar-benar harus dikombinasikan dengan baik. Begitulah kira-kira ujaran beliau.

Tentu saja, saya menyimak betul semua yang disebutkan oleh beliau. Merenung-renung. Menyimak-nyimak. Mengulik-ngulik (?). Dan, kemudian saya memang harus mengakui sekian kelebihan dari permainan bola itu.
"Tapi, aku tetap lebih suka dengan olahraga lain, selain bola." Demikian potong saya, setelah merasa yakin bahwa Bang Lukman selesai paparkan kelebihan-kelebihan dari olahraga yang kerap disebut sebagai rajanya olahraga.

"Nah, terus olahraga apa juga yang kausuka?"

"Tinju!"

Dari wajahnya, saat itu, saya bisa melihat sedikit keheranan. Dan benar saja, saat ia berkomentar.
"Melihat mukamu, benar-benar tidak mewakili seseorang yang menyukai sesuatu yang bersifat kekerasan." Celetukan yang kemudian seperti dijadikannya stimulan untuk saya jelaskan kelebihan tinju.

"Pertama, soal wajah saya yang tidak 'mewakili' seseorang yang menyukai sesuatu yang terkesan dekat dengan kekerasan. Di situ, saya bisa katakan begini, sesuai dengan beberapa pelajaran kecil yang pernah kudapat; bahwa seseorang yang memperlihatkan kelembutannya, terkadang itu caranya untuk menyembunyikan sisi kerasnya. Seperti halnya seseorang yang menunjukkan sisi kerasnya, sebenarnya ia justru sedang berusaha menyembunyikan sisi lemahnya."

Bang Lukman nyaris tidak mengeluarkan kata-kata apa pun saat saya keluarkan kalimat-kalimat yang sedikit mirip orang berkhutbah itu.

"Kemudian," sambil saya pasang muka seserius-seriusnya,"bola terkadang tidak realistis kalau kita mengaitkan filosofi dalam bola ke dalam realitas hidup."

"Alasannya?"

"Iya, karena, coba perhatikan saja, ada banyak hal dalam hidup itu yang memang harus diselesaikan sendiri. Artinya ketika terdapat persoalan, terkadang memang kita harus andalkan diri sendiri. Paling, kalau pun bisa mengajak kompromi dan bertukar pikiran---saat berada di luar ring. Sedang ketika kita sudah berada di dalam ring, hasil tergantung pada ayunan tangan sendiri. Entah di sana kita babak belur dalam hantaman tinju-tinju lawan. Entah nanti kita di sana beroleh kemenangan..."

"Terus..."

"Itu, katakanlah teman-teman, saudara sekandung, bahkan, paling hanya bisa menemani di luar ring. Di dalam ring, kita bermandi darah pun, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kecuali kemujuran saat darah mulai mengucur, lonceng juri menghentikan. Sedikitnya mungkin itu bisa memadai untuk kita merasakan sejenak sentuhan tangan kasih sayang dari orang-orang yang berada di luar ring itu...

"Selanjutnya, adu tinju itu harus dimulai lagi sampai kita benar-benar terkapar, atau nanti kita yang berhasil membuat lawan terkapar."

Saat menyimak-nyimak ulang obrolan yang terjadi sekitar nyaris setahun lalu itu, coba saya kait-kaitkan lagi dengan berbagai hal yang terjadi sekarang. Baik yang terjadi di daerah saya di sana, Aceh yang masih berpolemik soal Pilkada yang masih belum menemukan titik jelas. Atau pun, berbagai isu nasional, seperti halnya fenomena terpilihnya Abraham sebagai Ketua KPK, yang di atas pundaknya masyarakat menaruh harapan yang demikian jauh lebih 'gemuk' dari berat badannya yang saya taksir tidak lebih dari 70 Kilogram.

Akhirnya, saya harus akui, nilai-nilai dalam olahraga bola, sepertinya memang jauh lebih mirip dalam berbagai realitas hidup. Artinya, kendati dalam proses penggiringan bola ke arah gawang lawan dilakukan sama-sama, namun yang menjadi eksekutor, penentu, tetap satu lawan satu. Berbeda halnya tinju yang lebih memperlihatkan satu orang saja yang muncul di hadapan ring--tidak terlalu perlihatkan peran promotor sampai dengan pelatih tinju, atau bahkan tukang urut. Nah?
Posting Komentar
Adbox