dunia lain untuk bicara

28 November 2011

Perempuanku, Ini Rasa Tak Pernah Kutakar

Pernah kau bawa bayang itu, entah bagaimana caramu. Bayangmu sendiri. Tidak bisa juga kutahu, seperti apa kau bisa membuat warna hitam malam, yang sedemikian kelam, hilang kuasa mengganggu utuhnya bayangan itu.

Sepertinya, saat menciptakan cinta, Tuhan sengaja membuatnya sulit dimengerti. Meski sekadar untuk bisa mengerti bagaimana ia bisa melabrak tulang-tulang keras di dadaku.

Beberapa kali, kucoba menerka-nerka, mungkin saat kepalamu bersandar di kepalaku, anak rambutmu lepas dari pori-pori kepalamu. Tidak jatuh dan melekat di kulitku, tapi sudah menembus ke dalamnya.

Atau, terkadang aku menduga, saat mata kita bertatapan, Tuhan sudah mengganti bola mataku dengan bola matamu tanpa terasa. Maka kemudian, entah saat ia terbuka atau ketika ia menutup, mataku tidak bisa menepis  bayangmu.

Berlebihan? Terserah, jika saat kau membaca kegilaan rasaku itu, kau akan menyebutnya demikian. Apalagi, memang, saat aku memilih mencintaimu, sama sekali aku tidak tertarik menakar-nakar seberapa pantas cinta itu kuberikan untukmu. Jadi, jika kemudian memang terlihat berlebihan, maka itu pula alasan yang tidak terlalu cerdas yang bisa kukatakan padaku.

Kau ingat, saat bersamamu, beberapa kali aku bersurut ke belakang. Seperti menjauh. Tetapi, sebenarnya aku sedang membiarkan mataku untuk bisa melihatmu utuh. Sedang ketika berada demikian dekat denganmu, aku luruh. Iya, aku berubah menjadi embun yang jatuh ke tanah. Begitu saja ia meresap.

Kau tahu, embun yang jatuh ke tanah itu tidak pernah bisa memaksa diri keluar dari dekap tanah itu. Kukira, seperti itu pula dengan embun rasaku yang terjatuh ke tanah hatimu.
Posting Komentar
Adbox