To Learn and Inspiring

Pengunjung

Bara Tanpa Dara

KEDUA - Sekitar satu jam lebih sekian belas menit, pesawat berbadan besar itu membawa Dara ke Yogyakarta. Tetapi perempuan itu merasakan sekali, sebagian hati dan jiwanya seperti sudah tidak utuh lagi. Iya, mungkin memang tertinggal di Jakarta.

Tertinggal di kamar menara yang membuatnya rela menghabiskan malam bersama Bara. Tertinggal di jalan-jalan Jakarta. Saat dalam taksi berwarna biru telah ikut birukan hatinya dengan rindu, oleh belai yang nyaris tidak pernah henti di kepala dan pipinya. Belaian tangan kekasihnya itu.

Tatapan mata tajam Bara seperti menyatu di dinding-dinding lamunannya. Berkali-kali Dara merutuki dirinya, kenapa tidak mencoba untuk tidak alihkan matanya lebih sering ketika mata Bara menusukinya lewat tatapannya itu.

Sesekali, Dara mencoba menepis bayangan mata Bara dengan mencoba mengingat bocah kecil berusia 5 tahun. Bocah yang lahir dari perpaduan keringatnya bersama suami yang telah menikahinya selama hampir 10 tahun. Harapnya, dengan menghadirkan bayangan si kecilnya itu, bisa membuatnya tersadar dari sihir yang dilesakkan oleh mata Bara.

Tetapi tidak demikian yang kian terasakan olehnya. Ketika ia sedang berjuang untuk bisa menepis lukisan mata Bara yang begitu lekat menyusupi hatinya, justru terganti dengan bayangan kecupan-kecupan bibir. Kecup yang lahir sama sekali bukan dari api panas dari gelegak nafsu. Tetapi kecup yang sangat ia rasakan sebagai kecupan cinta yang benar-benar murni datang dari rasa cinta yang demikian besar.

Sebagai perempuan dewasa, tidak sulit untuk Dara bisa bedakan antara kecupan yang muncul dari cinta dengan yang hadir dari sekadar nafsu. Juga tidak sulit untuknya mengakui, betapa kecupan yang lahir dari cinta yang murni cinta itu demikian membekas pada dirinya.

Dan memang demikian. Mereka yang pernah merasakan kehausan di tengah-tengah sahara rindu itu, akan melupakan nikmatnya tetesan air yang mengalir di tenggorokan jiwanya. Bila tetesan itu sudah demikian sepadan dengan rasa haus itu. Sebaliknya, saat tetes-tetes air yang jatuh di lidah hanya beberapa tetes saja, bagaimana bisa hilangkan bayangan air itu?

Menunggu taksi di depan Bandara Adisutjipto. Sepintas saja ia bisa menyaksikan kerumunan orang-orang di pintu keluar. Selebihnya, dari sejak menjejak pintu keluar pun, pikirannya lebih dikuasai oleh bayang-bayang Bara. Lelaki itu sudah seperti hantu yang benar-benar menghantui hatinya.

"Bara, menjauhlah dulu dari pikiranku. Please!" ucap Dara pelan seolah benar-benar lelakinya itu berada di sisinya. Seperti saat kedua bibir mereka enggan berjarak pada malam sebelumnya itu.

Tetapi hampir selalu, cinta menjalankan hukum tersendiri. Bahwa ketika bayang seseorang yang dicintai kian dicoba untuk ditepis, seperti lumpur hidup, malah akan membuat bayang itu kian kuat menariknya ke dalam. Seperti api yang membakar pohon-pohon kering, kian kuat badai menghembusnya, justru ia kian nyala.

Dara harus bertarung dengan perasaannya. Ia harus bertarung melawan bayangan itu. Bagaimana pun, sebagai seorang perempuan, ia juga tidak tega untuk membawa tubuhnya ke depan suaminya di rumahnya nanti, sedang hatinya berada jauh di Jakarta.

"Aku harus bisa netralisir perasaanku. Aku harus bisa. Aku punya suami, aku punya buah cintaku dengannya!" Dara mencoba sugesti dirinya sendiri sesaat setelah tubuhnya sudah berada di dalam taksi merah maroon.

Entah suara dari mana.

"Tidak, kau tidak perlu salahkan diri dengan perasaan itu. Kau tidak perlu mengusir bayangan itu. Perasaan yang mengamuk di jiwamu bukanlah perasaan yang kau tumbuhkan sendiri. Bayangan yang masuk ke dalam pikiranmu itu, juga bukan bayangan yang kau bawa sendiri..." ia merasa mengenal dekat suara itu. Ah, suara yang seperti itu adalah suara Bara!

"Apakah karena aku terlalu membayangkannya, maka aku seperti pengidap skizofrenia yang dibayang-bayang suara dari orang yang sama sekali berada entah di mana?" batinnya.

Tanyakan hal itu, justru menghadirkan lagi wajah teduh Bara. Wajah itu yang setiap bicara terkadang mengeluarkan kalimat seperti tukang sihir. Yang membuat darahnya seperti tersirap. Apalagi, sesekali ia dengan demikian elegan mendekat. Menyentuhkan ujung hidung mancungnya ke ujung hidung Dara. Dengan nada suara yang demikian lirih namun menyiratkan ketegasan seorang lelaki.

Perpaduan bayangan wajah dengan suaranya. Membuat tangan Dara harus terangkat ke arah kepalanya. Menjambaki pelan rambutnya sendiri. Mencoba berdoa,"Bapa, Kau yang hidup dengan cinta. Bantu aku untuk bisa damai dengan cinta ini. Kau tahu, aku manusia yang berada di dalam-Mu.  Kau pasti merasakan semua getaran jiwaku. Kau bisa merasakan gundahku. Bantu aku, Bapa."

Pelan. Sangat pelan. Bayangan-bayangan yang tadi membuatnya tersiksa. Membuatnya merasa bersalah. Tidak berubah dengan hilangnya bayangan itu. Bayangan itu tetap ada, tetapi tidak membuat Dara merasakan ketidaknyamanan. Tidak lagi membuatnya diamuk gundah. Justru bayangan itu terlihat demikian indah. Menyusupkan damai ke dalam batinnya. Ulas-ulas senyum Bara hadir demikian indah.

Obrolan mereka sepanjang malam itu hadir lagi dalam bayangnya.

"Apa yang ingin dirimu harapkan dari hubungan cinta seperti ini?" tanya Dara saat itu, sambil menggigit kecil tangan Bara yang berada di genggamannya.

"Secara jujur, aku memang menginginkanmu. Aku menginginkanmu menjadi pendamping hidupku. Bisa memberiku anak-anak, seperti yang pernah kau beri untuk suamimu itu..."

Bara ciptakan jeda...

"Tapi, aku harus melawan keinginanku. Aku harus bisa menikmati perasaan terkalahkan. Karena aku jelas tidak bisa memaksamu meninggalkan suami dan anakmu itu sayang..." sambung Bara sambil mencoba lebih lekat menatap mata kekasihnya itu.

"Jika aku menuruti keegoisan jiwaku yang demikian besar berharap dirimu bisa menjadi pendampingku. Mungkin aku bisa saja memaksakan itu terjadi dengan berbagai cara. Tapi, kukira, cinta dan pengorbanan itu selalu menjadi satu bagian utuh. Di sini, aku harus korbankan perasaanku. Harus korbankan keinginanku ... kuakui ini berat. Teramat sangat berat..." untuk meredam kecamuk rasa yang sulit dijelaskan dalam dadanya, Bara labuhkan kembali ciuman yang begitu dalam. Persis di ubun-ubun Dara.

Menarik nafas panjang. Mengambil kedua tangan Dara untuk diletakkan ke atas kedua pundaknya sendiri. Sementara tangannya sendiri melingkar di pinggang dara. Sampai kedua perut mereka bersentuhan.

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tetapi, aku salah satu lelaki yang melihat bahwa cinta diberikan Tuhan sama sekali bukan untuk merusak. Jika kemudian cinta yang ada di hatiku justru membuat kau dan suamimu terpisah, berarti cinta yang ada di hatiku itu merusak. Jika sudah begitu, semua yang dekat dalam lingkaran itu akan ikut rusak. Juga anakmu. Setidaknya perasaannya ikut rusak. Secara psikologis perasaannya akan ikut terguncang. Dan... kau tahu, aku mencintai anak-anak meski aku sendiri belum pernah memiliki anak. Aku ingin anakmu kelak hidup dan tumbuh tanpa harus terganggu oleh semua yang terjadi di antara kita ini..." tambah Bara kembali sambil melabuhkan kembali kecupan tepat di tengah kening Dara.

Perlakuan Bara demikian, seketika membuat Dara memeluk Bara seerat-eratnya. Beberapa menit mereka biarkan dalam hening bersama pelukan itu. Membiarkan kedua hati mereka bicara tanpa perlu pergunakan kata-kata.

***

Taksi yang sudah mulai meliuk-liuk ke arah Gayamharjo itu, sekira dua puluh lima menit lagi akan membawanya tiba di rumah. Tanpa perlu bertarung seperti sebelumnya. Dara membiarkan tawa lucu si kecilnya. Diselingi lagi dengan senyuman dan tatapan Bara. Juga bayangan suaminya sendiri. Mereka seperti saling bercanda satu dengan lainnya. Saling mendahului, merebut tempat di hatinya.

Mereka benar-benar terlihat demikian akrab dalam bayangan itu. Kendati hal demikian tidak masuk akal dirasakannya. Dara membiarkan canda-canda mereka bermain di ruang pikiran dan hatinya. Tak ayal, Dara dibuat tersenyum sendiri. Dengan senyum yang sering diucapkan Bara sebagai senyum yang lebih terang dari matahari. Dengan cahaya yang bahkan kuasa merasuk ke ruang-ruang yang tak kuasa ditembusi matahari.

***
Bara tahu, kekasihnya sudah tiba kembali ke kotanya. Membayangkan, mungkin Dara sudah dijemput suaminya di Bandara. Memberikan kecupan di kening perempuannya itu seperti ia berikan malam itu. Ngilu cukup terasakan olehnya saat bayangan itu melintas di pikirannya.

Tetapi harus memaksa diri untuk waras kembali. Kendati memang juga terasakan berat olehnya. Kelebat bayang perempuannya demikian kuat terlihat di pikirannya. Jauh lebih kuat dari semua yang bisa dilihat oleh matanya.


Masuk ke kamar mandi. Memasukkan wajah ke wastafel yang sudah penuh. Merendam wajahnya ke sana. Kebiasaan yang kerap ia lakukan setiap harus netralkan perasaannya. Membiarkan wajah dan seluruh kepalanya dalam air di wastafel. Tanpa bernafas beberapa menit. Mampu ia lakukan lama karena sudah dilakoninya dari sejak masih jelang remaja.

Baginya air adalah energi. Ia selalu mencoba sinergikan pikiran dan hatinya dengan air. Bahkan dalam mendefinisikan cinta, ia memiripkan air dengan cinta.

Dalam filosofi lelaki yang belum pernah serius merencanakan berumah tangga itu. Semua yang hidup berangkat dari keberadaan air. Artinya air memiliki energi kehidupan. Seperti halnya ketika ia memutuskan dirinya untuk terus mencintai Dara. Ia berkeyakinan, bahwa air cintanya itu bisa membantu perempuannya itu. Membantu Dara untuk tetap mekar seperti bunga terindah. Kian tumbuh. Agar setiap helai daunnya tetap indah terlihat dan terus berbunga.

Berwudhu. Menetralisir perasaannya. Mendebat diri sendiri dalam shalat. Tentang rasa.

"Aku kelirukah mencintai dengan cara demikian?" selepas membaca lafal sujud yang kerap dibacanya tanpa menghitung--tidak seperti umumnya muslim shalat dengan batasan zikir dengan angka tertentu.

Membiarkan kepalanya jatuh dalam sujud. Dengan wajah yang sepenuhnya menyentuh sajadah. Menghadapkan pikiran pada Kemahaan Tuhan. Mengajak-Nya untuk jelaskan padanya tentang cinta.

"Adakah yang keliru dengan kemunculan perasaan cinta?" ulangnya dalam sujud itu.
"Cinta itu wilayah rasa. Cinta itu kawasan terdalam pada manusia. Sesuatu yang tidak bisa diutak-atik seperti mobil-mobilan bocah. Tidak bisa dibakar dengan api sebesar apa pun untuk ia musnah, karena ia bukanlah kertas kering...

"Tidak akan pernah bisa dihilangkan, karena cinta bukanlah yang terlihat secara kasat mata. Sebab sesuatu yang kasat mata bermain di wilayah "terlihat" yang selalu memungkinkan menjadi "tidak terlihat. Sedang cinta bukan "terlihat" yang bisa diubah menjadi "tidak terlihat."

"Menyembunyikan cinta itu memang bisa saja, tetapi tidak berarti cinta itu akan dengan sendirinya menghilang. Boleh jadi justru memaksa menyembunyikan demikian, hanya akan membuat kekuatan cinta itu muncul dan ia memaksamu untuk takluk pada berbagai titahnya. Yang bisa kau lakukan hanya sekadar mengelola rasa cintamu itu, bukan menghilangkannya!"


Suara itu berada di sekitar dada ke ujung-ujung rusuknya.


NEXT
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?