To Learn and Inspiring

Pengunjung

Bara Tanpa Dara


KESATU - Tidak ada yang terjadi tanpa kesengajaan. Seperti pertemuan Bara dengan perempuannya. Perempuan yang pernah bersamanya di menara tinggi sebuah kota. Perempuan yang membuat Bara tidak bisa melihat kerlip-kerlip lampu di kota itu yang oleh banyak orang disebut-sebut demikian indah. Baginya, lampu yang memancar dari ulas-ulas senyum perempuannya jauh lebih terang dari lampu kota.

Masuk akal, satu cahaya akan tenggelam saat cahaya yang lebih terang datang.

"Seperti film Titanic saja saat berdiri begini bersamamu," celetuk Bara sampai bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Dara.

"Ingat tidak, seperti apa saat Jack Dowson berdiri di belakang Rose De Witt di kepala kapal itu? Mirip bukan?" berbarengan dengan semakin eratnya tangan Bara melingkar di pinggang perempuannya itu. Tubuh mereka menyatu.

Dara, perempuan pemalu itu hanya bisa menyunggingkan senyum. Sedikit salah tingkah.

Bara, lelaki yang benar-benar phobia dengan ketinggian itu menarik tangan kekasihnya itu ke dalam."Aku bukan lelaki yang terlalu berani untuk berada di tempat tinggi seperti ini."

Tak lama sudah sama-sama berada di dua kursi yang berhadapan. Dengan tangan saling menggenggam. Berkali-kali bibir Bara berlabuh di tangan perempuan itu. Tangan yang diakui Bara memiliki kekuatan listrik. Terbukti, tangan itu menciptakan getaran-getaran yang sulit diterjemahkan olehnya.

Mata mereka. Iya, dua pasang mata yang terus saja saling tatap sedemikian lekat. Dengan tangan yang sama-sama kian saling mengerat.

Dara bukan perempuan yang cukup mahir mengeluarkan kata-kata lewat bibir tipisnya itu. Berkali-kali Bara harus memaksakan diri untuk membuka obrolan. Ia menyukai suara perempuannya.

Bara berharap perempuan yang sudah menyetrum hatinya itu bisa bicara lebih banyak. Entah untuk bicarakan apa yang tersimpan di hatinya. Atau mungkin seperti apa kecamuk rindu di hatinya. Tetapi sebaliknya, Dara hanya bisa bicara dengan terbata-bata.

"Aku ... benar-benar tidak bisa katakan apa yang ada di dalam hatiku," sahut Dara bergetar. Ia selalu kesulitan setiap harus mengangkat topik obrolan yang berhubungan dengan perasaannya itu. Padahal, lewat SMS yang memang hanya dikirim beberapa pekan sekali pada kekasihnya itu, terkadang ia mengakui jika ia mengalami rindu yang sedemikian dalam. Berbeda halnya ketika sudah berhadapan seperti saat ini. Tulangnya meluruh. Tatapannya juga berkali-kali harus dialihkan ke sisi lain. Atau, beberapa kali wajahnya harus disembunyikan di dada Bara. Selain untuk luapkan rindu, juga untuk menghindari keharusan menatap mata lelaki yang nyaris enggan mengerjap dan terus menatapnya.

Bara membiarkan wajah perempuannya rebah di dadanya dengan tangan membelai kepala Dara, dan tak lama kemudian sudah menyusup di balik rambut perempuan itu. Bara menikmati hening.

"Aku mendengar suara detak jantungmu lebih keras," ujar Dara tiba-tiba, sambil mengangkat dagu ke arah mata lelakinya itu.

"Lha, suara jantung itulah yang lebih menjelaskan seperti apa kecamuk rasa di dadaku..."

"Terlalu kencang..."

Bara menunduk. Melabuhkan satu kecupan di kening perempuannya itu.

"Siapakah yang pernah dilanda cinta tanpa merasakan detak kencang di dadanya?"

Tidak ada jawaban. Kecuali seulas senyum yang demikian manis menyungging dari wajah Dara. Senyuman yang menciptakan magnet. Tidak berselang lama, mereka bicara tanpa spasi antara masing-masing bibir keduanya.

"Sampai kapan cinta ini akan tetap ada?" Tiba-tiba Dara beri sekalimat tanya dengan bibir tetap bersentuhan.

"Uhm..." Bara menghela nafas panjang. Menekur."Aku berpikir bahwa cinta itu seperti sungai. Jika pun seperti berujung ke lautan. Tetapi lautan itu bukan akhir."

***

Sepanjang malam mereka bersama. Hanya penyatuan bibir dan pelukan-pelukan yang saling mereka beri. Tanpa persetubuhan layaknya sepasang manusia dewasa mengungkapkan cinta. Saat didera rindu yang seperti api di kayu-kayu yang selalu terpanggang panas. Iya, persetubuhan tidak selalu menjadi keharusan untuk utarakan cinta. Apalagi, Dara bukanlah perempuan yang tidak memiliki pendamping hidup. Sedangkan Bara nyaris bisa disebut sebagai perjaka yang kerap terlalu kejam terhadap keinginannya sendiri sebagai lelaki dewasa. Betapa tidak, lebih tiga puluh tahun usianya tidak pernah membiarkan diri untuk sesaat merasa tega untuk menyusupkan kelelakiannya ke tempat yang ia pandang belum berhak untuknya.

Bara, lelaki yang demikian bersikukuh dengan pendiriannya dalam melihat sakralnya sebuah persenggamaan. Baginya penyatuan dua tubuh manusia berlainan jenis adalah proses penciptaan yang diwakilkan Tuhan pada manusia. Selain, ia juga mengingat bahwa kekasihnya adalah perempuan yang memiliki putra yang pasti akan demikian bersedih jika kelak, entah oleh sebuah keadaan, harus tahu yang dilakukan ibunya.

Dara kerap menyebut kekasihnya sebagai lelaki yang terlalu keras pada diri sendiri. Meski kebeningan hatinya sebagai perempuan merasakan kekaguman pada keteguhan Bara atas prinsip yang ia bangun.

"Bagiku, kamu itu seperti Bunda Maria. Aku menghormati perempuan yang telah melahirkan Yesus dari rahimnya itu. Seperti itu juga aku menghormatimu..." setelah ciuman ke sekian terlabuhkan di bibir Dara.

Sampai kemudian, setelah bersurut beberapa langkah menjauh sedikit ke belakang sampai perempuannya terlihat utuh. Bara nyaris seperti filsuf yang sedang berteori,"Cinta, itu wilayah jiwa. Cinta muncul dari jiwa dan tetap berada di dalam jiwa. Penyatuan fisik tidak selalu harus menjadi syarat untuk mendefinisikan cinta. Entah untuk membuktikan seberapa dalam cinta itu. Atau, bahkan untuk meyakinkan yang dicintai bahwa ia benar-benar mencintai utuh pasangannya."

Dara hanya menatap saja. Tidak menimpali dengan sepatah kata pun. Ada binar cahaya keharuan yang nyaris bisa dipastikan keluar dari hatinya sebagai perempuan.

Sejurus kemudian, tubuh Bara telah mendekat kembali. Sedikit berlutut di hadapan Dara. Sedikit mirip pelakon drama-drama cinta atau telenovela."Esok dirimu harus kembali ke kotamu. Di sana, kau harus ingat aku yang akan selalu menunggu kelak kau akan kembali ke sini," lirih Bara. Sedikit menahan perih yang menggumpal di dadanya. Apalagi membayangkan Dara akan menghabiskan malam-malamnya bersama lelaki yang sudah memberinya seorang putra.

"Ah, jika aku mencintainya, aku harus ingat siapa yang kucintai. Bagaimana pun lelaki yang sudah memperistrinya di depan altar berhadapan dengan Yesus sudah memilikinya," Bara mengsugesti diri untuk tetap berlapang dada dengan kelebat-kelebat bayangan Dara saat ia pulang kembali pada pasangan hidupnya. Bahkan, sampai membayangkan seperti apa lenguh cinta saat malam-malam mereka.

"Kita lupakan kantuk untuk malam ini, setuju?" tanya Bara yang dijawab anggukan pelan Dara.

"Iya, tidak mungkin lagi juga bila harus tidur jam segini...karena besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali," menyadarkan Bara jika mereka sudah menyatu dengan waktu yang telah melewati tengah malam.

Jika demikian banyak pujangga menyebut orang-orang yang dilanda cinta adalah pemabuk. Sebutan itu tepat untuk menggambarkan kedua anak manusia itu. Saat mata yang sudah demikian berat untuk dibuka. Ketika tubuh sudah demikian lelah. Tetapi keduanya sama-sama memaksakan diri untuk tetap bisa bertatapan.

***

Azan subuh mengalun.
"Siapa mandi lebih dulu? Aku saja ya? Matamu sudah begitu berat. Tidur saja dulu beberapa menit sampai aku selesai mandi. Nanti kubangunkan,"

Sepuluh menit Bara bisa pejamkan mata menikmati tidur ketika mata sudah teramat sangat berat. Satu sentuhan di punggungnya membuat ia terbangun. Dara terlihat demikian cantik sehabis mandi pagi itu. Batin Bara.

***

Memanggil taksi lewat security menara itu. Bara mengantar Dara ke bandara.
Hanya berkisar seratus dua puluh menit jelang pesawat berangkat mereka nikmati kebersamaan di bandara itu. Bercerita tentang sejarah hidup. Tentang harapan dengan sekian mimpi.


Cinta aneh yang telah dimulai sekian tahun silam. Tanpa bersua sepanjang cinta itu berjalan sebelumnya. Seperti apakah kelanjutannya?

NEXT
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?