dunia lain untuk bicara

06 Oktober 2011

Pemberhentian Terakhir

Tiba di kotamu di satu ketika. Bersama bekas luka. Beserta sekian gurat cerita. Berharap terbuang tema-tema lama. Aku melangkah ke sana tertatih-tatih. Terkenang jua itu semua.

"Sudah kurenang lautan itu sayang. Meski asinnya sedikit kian perihkan luka." Dan kau tersenyum simpul.

"Lihat, jika sekian ribu lelaki hanya berujar saja akan renangi lautan untuk datangi yang ia cinta. Aku tidak perlu katakan itu, tapi aku sudah di hadapanmu."

Lantas bermula cerita itu. Dalam beberapa bab, berisikan cerita tentang tawa. Juga luka.

Tawa itu hadir ketika aku bisa melihat dirimu sebagai gadis manja. Rebah di pundakku dengan tatapan lucu. Berat lupakan itu. Ketika aku harus meringkuk tidur di kaki lima mesjid di kotamu, bersama pengemis dan gelandangan. Karena saat itu serupiahpun tidak kumiliki sekadar untuk bisa menyewa losmen-losmen terburuk sekalipun untuk luruskan tulang-tulang punggungku yang kelelahan. Aku tidak merasakan itu sebagai sebuah siksa. Kuanggap tidak lebih sebagai pengorbanan kecil untuk sebuah cerita tentang cinta itu. Sudahlah.

Aku tidak akan bicara banyak tentang apa yang sudah kuberi. Apalagi memang belum banyak yang bisa kuberi.

Aku mencoba ingat-ingat saja semua yang sudah kau beri. Sebagai pemberian darimu. Sebagai pemberian seorang perempuan, bagiku pemberian itu terasa sedemikian mahal. Teramat sangat mahal. Entah senyum, atau entah sekian bungkus nasi yang kumakan lahap setelah kau beri. Sampai sekian potong pakaian untuk tubuhku tidak terbunuh oleh dinginnya kotamu.

Dan memang. Terkadang menjadi lelaki yang hanya bisa menerima, dan sedikit kuasa untuk bisa memberi kembali. Itu jelas sekali sebagai sebuah ketidakseimbangan. Itu juga yang kemudian kurasakan sebagai penyebab, mungkin, pelan-pelan suara teduhmu hilang menjadi jalinan suara ketus. Sikap lembutmu pelan-pelan menjadi demikian kasar. Tak jarang aku tercekat dengan perubahan itu. Namun, iya, aku menyimpan saja itu. Aku hanya mengira, itu sebagai hal lumrah saja. Mungkin ini sebagai ekspresi dirimu sudah bisa nyaman dan apa adanya denganku. Maka, saat luka aku tersenyum. Saat terpukul aku tunjukkan ekspresi,,"ini lelaki masih baik-baik saja. Tidak ada yang harus dipermasalahkan."

Sekian kekalahan yang kemudian menderaku. Membuatku terpukul lebih dari yang pernah kurasakan. Entah bagaimana ceritanya, saat kekalahan itu menyayat harga diriku sebagai lelaki, pernah kau tambahkan sayatan itu menjadi sekian goresan lainnya. Cukup perih. Aku meringis.

"Sepertinya tidak bisa kuharapkan kau menjadi pendampingku, jika yang kau dapati dalam hidupmu hanya begitu-begitu saja." Demikian menusuk kata-kata itu kurasakan. Kudiamkan. Sampai kemudian kau berucap bahwa kau harus surut dari kebersamaan kita itu. Aku terima sampai beberapa detik kemudian kau minta kembali.

Beberapa purnama kemudian. Lagi dan lagi aku harus mendengarkan keinginanmu untuk surutkan langkah dari kebersamaan itu. Demikian pun aku tidak bisa menolaknya. Karena dengan sekian kekalahan yang pernah kurasakan dan alami, cukup masuk akal jika dirimu bersurut langkah seperti itu. Harapku dengan begitu lukaku tidak perlu menjadi lukamu. Air mataku tidak perlu menjadi air matamu. Cukup lukaku menjadi lukaku saja. Kembali, entah siapa yang bisikkan padamu dan bisa goyahkan keinginanmu untuk surut. Lantas lagi kau minta kembali dan pernah tegaskan tidak akan pernah keluarkan lagi kata-kata surut itu. Aku percaya saja.

Berbalik kemudian saat satu siang. Keadaan memaksaku harus bersabung nyawa. Bukan sekadar nyawaku, tetapi juga nyawa sekian lelaki yang sama-sama sedang bertarung bersamaku melawan sebuah kepongahan. Sedemikian banyak pertanyaanmu yang kurasakan tidak lebih dari sekadar cibiran. Sekali itu, aku terpaksa bungkam mulutmu dengan kalimatku. Bersama suara yang sepenuhnya suara lelaki. Kalau aku tidak salah ingat, hanya sekali itu aku mengeluarkan kalimat yang mungkin diluar dugaanmu. Sebab kau tahu, selama ini aku cukup hormat dalam setiap bertutur padamu.

Kembali kau minta mundur. Bersurut. Saat itu pula aku merenung sedemikian dalam,"Jika permintaan itu kau pinta hanya satu dua kali, mungkin itu masih bisa kuabaikan dan kuyakin-yakinkan diri bahwa kau masih tetap mencintaiku. Tetapi saat kalimat itu sudah terdengar berkali-kali, sudah terlalu sulit untukku bisa meyakin-yakinkan diri sedemikian."

Maka, saat kau katakan,'Selamat tinggal dan terima kasih untuk pundakmu yang pernah menjadi tempatku bersandar." Tidak tahu kenapa, sudah begitu kelu dan sulitnya untukku bisa, setidaknya, sedikit menghiba untuk kau bisa menarik kembali ucapan selamat tinggal itu. Selain hanya bisa berucap,"sama-sama, selamat tinggal."

Sudah hilang kemampuanku berpuisi dan menabur kalimat-kalimat indah untuk bisa meraih kembali hatimu itu. Apalagi kuingat sekali,"Kau hanya lelaki yang cuma bisa berkata-kata, sedang kau tidak pernah bisa tunjukkan yang lebih baik dari itu!" Sederet kalimat yang menancap di kupingku itu, saat sekian kali aku didera kekalahan dan jatuh terpukul oleh hidup. Kuingat kembali dan menjadi perangsang untukku bersikukuh, bahwa dirimu memang lebih baik mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku.

Sampai kuakhiri kalimatku hanya isyarat sederet pasrah,"Jika yang kau cari tidak pernah kau temui dariku, mungkin itu kelak akan ada pada seseorang yang lain yang pasti kau temui pada suatu hari."
Posting Komentar
Adbox