dunia lain untuk bicara

22 September 2011

Perempuan di Sela Ilalang

Aroma ilalang merasuk tiba-tiba. Bukan ke hidung. Ia merasuk ke dalam jiwaku. Ilalang yang pernah tumbuh di sisi jalan kampungku. Menjadi ciptaan Tuhan yang seakan tidak pernah diberikan banderol harga oleh manusia, sampai nyaris tidak yang meliriknya.

Tetapi tidak. Bukan cuma ilalang yang mengalami kondisi itu.
Seorang perempuan. Terduduk di kursi yang mengesahkannya sebagai pemilik nasib yang menyerupai ilalang itu. Tersendiri di rumahnya. Terkadang menekuri lantai. Terkadang terisak sendiri. Sesekali merutuki semua yang terjadi. Dan, acap kali merutuki semuanya. Tidak terkecuali Tuhan pun jadi sasaran. Iya, ketika manusia sedang berhadapan dengan kondisi terburuknya, Tuhan sering kali menjadi sasaran sumpah serapah walau hanya dilakukan diam-diam.

"Aku menyesal memberikan hidupku pada lelaki yang pernah kucintai itu. Aku memberikan segala yang bisa kuberi padanya. Sedang yang dibalasnya tidak lebih dari penistaan yang tidak berperikemanusiaan." Keluhnya sekali waktu. Dari keluh demikian kureka-reka, ia sedang mencoba mencari penyebab semua penderitaannya.Laiknya membuat skema di papan tulis dalam pikiran. Kejadian buruk membuat pikiran terganggu. Pikiran terganggu membuat tubuh melemah. Dan, ketika tubuh melemah maka kemudian penyakit terberat pun datang, stroke. Entah benar reka-rekaku atas keluhnya itu?

Lalu pada kali lain, dalam kunjungan yang ke sekian ia masih bercerita tentang suaminya yang menurut kabar ia dengar sudah kawin dengan sekian perempuan di luar negeri."Ia memang lelaki hebat. Sampai usia sekarang yang sudah melewati usia 50 tahun saja ia masih terlihat gagah bukan?" pujinya, sembari menunjukkan selembar photo seorang lelaki yang berdiri di sela beberapa lelaki lain. Terlihat kancing baju lelaki itu terbuka beberapa di sisi atas.

Puji dan maki ia keluarkan sejalan dengan keadaan pikirannya. Saat ia berhasil lewati pikiran buruk, ia akan memuji suaminya yang sudah memiliki anak 5 dengan perempuan lain itu. Pujian sebagai lelaki gagah, lelaki yang sebenarnya baik, dan lelaki satu-satunya yang berhasil membuatnya jatuh cinta sependek sejarahnya jatuh cinta yang cuma sekali. Iya, pada suaminya itu.

Beda halnya saat pikirannya sedang kacau. Ia sedang merasakan kejenuhan karena kedua kakinya tidak bisa digerakkan karena kelumpuhan yang dideritanya. Yang sudah demikian zalim membuat ia tidak leluasa berjalan. Suaminya itu kerap menjadi sasaran kutukan, sumpah serapah dan berbagai kalimat yang benar-benar tidak bisa dipaksakan untuk dikatakan lezat laiknya makanan yang menarik untuk ditelan dan dicecap indera.

Sejatinya ia bukan perempuan yang tidak berwawasan. Bukan tidak cerdas. Sama sekali bukan pula perempuan yang tidak mengerti siklus baik buruk yang merupakan hukum hidup yang dipergilirkan. Tapi banyak yang ia tahu tidak membuatnya bisa berlapang dada dengan semua yang terjadi. Aku, selalu harus menjadi pendengar sekian kalimat baik dan sekian kalimat yang teramat buruk untuk didengarkan.

"Kau tahu, ketika gadisku dulu, banyak sekali kawan lelakiku yang demikian menginginkanku untuk bisa mereka nikahi. Karena aku dikenal sebagai bintang kelas. Aku dikenal sebagai gadis yang tidak pernah macam-macam..." Kenangnya.

"Tidak tahu kenapa pemujaan yang pernah kuterima ketika muda harus terjadi jauh terbalik seperti ini?" Mirisnya.

"Andai aku masih muda atau paling tidak aku berkesempatan untuk bisa muda lagi. Mungkin aku bisa menyulap semua yang terjadi sekarang untuk tidak terjadi. Sampai usia tua begini aku mungkin masih bisa bersandar di dada lelaki yang kucintai..." Diam. Hening. Lantas terdengar isak. Iya, itu dari perempuan yang kusebut sebagai ibu angkat saja itu.

Aku teringat saja padanya. Seperti ilalang. Dalam ketidakberdayaan itu, tidak ada yang melirik. Sampai ia akui,"Dulu aku terlalu menikmati duniaku saja, dan tidak pernah peduli tentang dunia selain yang berhubungan dengan kepentinganku!" Yang kusimpulkan sebagai penyebab selangit derita yang lumpuhkan kakinya. Juga, lumpuhkan seribu obsesinya.
Posting Komentar
Adbox