dunia lain untuk bicara

20 September 2011

Di Jakarta, Suatu Pagi

Kekosongan. Itu yang lebih terasa ketika itu. Terdapat sekian kebuntuan hinggap di ranting-ranting nalar.Logika menjadi seperti lelaki tua dan lumpuh, mengerang sekarat, tak ada yang mendengar. Seperti itukah sebuah kota seperti Jakarta ini? Tidak bisa pula pagii-pagi kusimpulkan begitu.

Kutoleh beberapa jenak pada bungkus rokok yang nyaris kusentuh lagi. Urung. Teringat kalau di dalamnya sudah tidak ada isi. Beberapa rupiah yang masih tersisa di kantong seperti menyuruhku untuk beranjak keluar, untuk bisa kepulkan asap pagi-pagi. Setidaknya untuk tidak kalah dengan asap kendaraan yang terkutuk. Tetapi itu juga tidak kulakukan. Bukan karena malas atau takut uang beberapa rupiah yang tersisa ini habis. Hanya saja, tadi malam sama sekali tidak tidur. Sesekali aku kasihani juga badanku untuk bisa sedikit lebih kupedulikan. Tidak tidur semalam penuh, dan kemudian kubikin lagi ia lemas dengan asap rokok, tentunya aku layak memaki diri sendiri pagi-pagi.

Sebentar. Bicara Jakarta dengan makian sepertinya bukan memaksakan penyatuan dua unsur yang berbeda. Justru, satu sama lainnya itu saling akrab. Entah sejak jaman ana pula mereka sedemikian akrab? Tidak bisa kali ini untuk aku mengada-ada. Boleh jadi, Jakarta dan maki-memaki itu ada cuma sejak Jakarta sudah disebut orang sebagai kota.

Sebaiknya tidak kau pusingkan kepalaku pagi ini dengan tanya, jadi kota, entah apa pun namanya selalu harus identik dengan maki? Bukan, itu tuduhanku saja. Barangkali, iya, karena aku sendiri kerap menerima itu. Atau, paling tidak, aku juga kerap melakukannya.

Beberapa kali aku memaki malaikat pembagi rezeki yang seperti kebingungan terlihat olehku. Betapa tidak, saat sebagian dari isi kota ini berlimpah rezeki, aku dan beberapa pengemis, pengangguran dan gelandangan, membeli sebatang rokok pun kewalahan. Lantas kureka-reka kenapa bisa demikian. Kukira cuma karena demikian banyak nama di kota ini, maka malaikat bisa jadi kelelahan mengingat-ingat nama isi kota ini. Atau, kalau nama itu tidak perlu diingat karena mungkin memang ia memiliki semisal buku absensi penduduk di kota ini, kecapaian juga dia kalau harus membuka halaman buku yang jelas lebih tebal dari Yellowpages itu.

Aha, seperti itulah kadang-kadang ketololanku. Mengira, malaikat sama dungu denganku.
Posting Komentar
Adbox