To Learn and Inspiring

Pengunjung

Surat Penjudi untuk Mak

Mak
Jelang pagi begini, kutahu kau sudah bangun. Aku hafal sekali itu. Apalagi memang, omelan Mak untukku dari dulu agar juga bisa bangun pagi terus membekas di ingatan. Omelan yang justru membuatku rindu padamu. Rindu yang kian dalam, Mak.

Cuma, omelan itu hanya ada karena saat itu aku masih bisa tidur malam hari. Masih bisa menikmati seribu satu mimpi. Dari mimpi aku bisa membawamu naik haji. Juga, mimpi yang membuatku harus bangun dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian mandi juga sembunyi-sembunyi. Ya, itu mimpi saat aku masih remaja sekali, Mak. Dan, aku masih merasa tidak sopan kalau harus bercerita tentang mimpi itu di depan Mak.


Sekarang Mak. Setelah kemarin kuberitahu aku menang judi. Aku justru lebih dulu bisa menyambut pagi daripada Mak. Kali ini Mak kalah dariku. Iya, ternyata menjadi pemenang dalam perjudian. Meskipun bukan kemenangan yang terlalu besar. Namun, tetap saja harus membuatku tidak leluasa menutup mata. Aku harus membuka mata untuk terus melihat semua yang tertulis. Iya, sampai jelang begini Mak.

Saat tadi sore Mak meneleponku. Aku tidak ceritakan, bahwa aku harus lupakan nikmatnya tidur malam hari. Melupakan tidur karena pengabdian dalam "dunia judi"--sebutanku untuk duniaku--yang memang butuh pengorbanan lebih.

Tahu tidak Mak. Aku benar-benar tidak merasa terbeban dengan semua ini. Aku menikmati semua ini. Karena, dari semua kemenangan yang pernah kuperoleh, ya hanya kemenangan ini yang kukira sebagai kemenangan terbesar. Walau untuk ini aku harus lupakan untuk memanjakan mata, nikmatnya mata yang terpejam.

Aku sedang jalankan sesuatu dalam perjudian ini Mak. Memberi lebih dari yang diminta!











Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?