dunia lain untuk bicara

08 Juni 2011

Siapa Kenal Indonesia?

Terbayang saat di sekolah dasar, mengangkat tangan ke atas setiap guru memberikan pertanyaan. Padahal angkat tangan yang saya lakukan ketika itu belum tentu karena saya sudah benar-benar tahu. Tidak jarang, perasaan “sepertinya saya tahu” pun membuat saya berani tunjukkan tangan. Meski kemudian salah, guru tetap memuji. Tujuan dari mengacungkan tangan tadi, jelas bukan penegasan bahwa saya benar-benar tahu. Tapi, untuk dipuji. Mungkin hanya saya saja yang seperti ini.

Nah, hari ini saya melihat juga banyak kemiripan seperti demikian. Baik saat bertemu dengan orang-orang yang sudah diakui cerdas–entah oleh tingkat pendidikan dan reputasi, dlsb–atau ketika bertemu dengan orang-orang yang belum cerdas.

Mereka yang diakui cerdas, saya lihat lebih gandrung berkelit dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Selanjutnya, malah diberikan pe-er lain untuk saya pikirkan. Apalagi, karena mereka merasa bisa mengukur saya. Tak ayal, karena memang memiliki otak yang memang lebih jarang saya pakai dibanding mereka. Tentu, saya terkadang hanya melongo saja. Bahkan, sampai lupa dengan pertanyaan sendiri.

Lha iya, orang-orang seperti saya suka kikuk kalau harus bicara dengan orang-orang yang diakui cerdas. Merasa cukup percaya diri cuma ketika berhadapan dengan orang-orang yang saya yakini sama dengan saya, memiliki otak yang sama-sama “baru dibeli”.

Itu baru berhadapan dengan orang yang baru diakui cerdas saja, lho. Belum dengan orang-orang yang benar-benar cerdas. Sebab, saya sendiri sampai hari ini masih harus mencari obat sakit kepala dulu kalau harus berpikir tentang orang yang benar-benar cerdas itu seperti apa.
Kenapa bisa begitu? Saya juga tidak tahu.
Tapi tunggu dulu. Kok jadi melantur begini padahal saya ingin bertanya, siapa yang kenal Indonesia?

Kembali.
Rakyat Indonesia bukan rakyat yang kenal negaranya. Ini masih bisa dimaklumi. Apalagi konon kita masih menjadi negara yang berada di dunia ketiga (istilah paling saya benci namun sering saya pergunakan). Kondisi yang dipandang jamak bahwa sah negara di dunia ketiga itu memiliki rakyat yang tidak terlalu berpendidikan. Maka tidak bisa berpikir terlalu jauh. Dipaksa juga berpikir terlalu jauh, yang terjadi hanya membuat pengusaha pabrik sakit kepala kian kaya saja.

Yang parah, menurut saya yang belum cerdas ini, pemimpinnya tidak kenal rakyatnya. Tidak perlu terlalu serius sampai harus melipat kening. Yuk, melamun saat berkunjung ke puskesmas saja (karena rumah sakit terlalu mahal buat saya). Dokter yang tahu penyakit akan dengan mudah memberi obatnya. Dalam jangka waktu tertentu, penyakit si pasien bisa sembuh.

Maka, jadi terpikir secara lugu saja oleh saya, apakah mungkin karena belum ada dokter yang berhasil jadi pemimpin di negeri ini maka kemudian tak ada ‘penyakit’ di tengah rakyatnya bisa didiagnosis dengan tepat?
Di sini membuat saya kerap cuma dibayang-bayangi pertanyaan sederhana yang saya jadikan judul tulisan ini (siapa kenal Indonesia?).

Sedikit melangkah lagi.
Rakyat butuh pemimpin. Karena mereka berharap saat mereka tidak punya jawaban, ada yang bersedia memberi jawaban. Ketika sedang kebingungan ada yang menuntun. Minimal, eh jangan ke sono, ntar nyasar. Ke sini saja.

Tapi, dari sejak mulai memilih pemimpin, mereka harus memilih orang yang benar-benar cuma dikenal nama saja. Dari koran, televisi dan obrolan di warung kopi. Apakah mungkin ya berharap tuntunan dari orang yang hanya dikenal namanya saja? Atau, yang menjadi pemimpin tidak akan sampai hati berucap,”Lha, sampeyan siapa? Nama Anda saja, saya tidak tahu!”

Lha, kalau kalau belum saling kenal, bagaimana bisa saling memberi ‘jawaban’ ya?
Makanya, saya kira, pemimpin tidak perlu yang terlalu cerdas. Kalau untuk Indonesia, ya, cukup yang benar-benar mengenal Indonesia saja.

Rakyat, agar kepentingannya sebagai rakyat bisa terpenuhi, ya, lagi-lagi juga tidak perlu susah-payah kuliah dengan terengah-engah. Namun, juga cukup dengan mengenal Indonesia saja. (ZA)
Posting Komentar
Adbox