To Learn and Inspiring

Pengunjung

Seorang Lelaki, Sebuah Penjara

"Banyak yang tubuhnya tidak terhalang geraknya meski hanya oleh satu lidi, tetapi mereka terkurung." Kau ucapkan itu, kawan, tanpa gerakkan bibir untuk mendikte tentang satu substansi yang hanya bisa didengar hati. Maka dengan hati pula aku menyambung kalimatmu,"Banyak orang yang tubuhnya terpenjara, tetapi mereka merdeka, jiwanya tetap lepas."

Aku percaya, bahkan sangat percaya. Bahwa soal merdeka bukan soal sorak sorai atau luapan teriakan,"Merdeka." Karena, memang teriakan-teriakan demikian terhenti setelah bergemuruh. Bukan terhenti karena mereka dapatkan kemerdekaanya. Tapi, karena mereka malu sendiri, lelah teriak-teriak tapi kenyataan menampar, bahwa teriakan-teriakan mereka menjadikan mereka sebagai budak. Mimpi mereka tentang merdeka malah menjadi pasung, saat tubuh mereka benar-benar tidak terkekang. Oleh jeruji besi seperti halnya yang kau alami. Mereka justru dipenjarakan oleh diri sendiri.

Aku harus mengangguk, banyak orang-orang yang merasa merdeka tetapi mereka menjadi budak. Selanjutnya malah mereka sama sekali tidak ingat lagi bahwa mereka sudah tidak merdeka. Sepertinya, teriakan yang pernah mereka luapkan demikian membekas di ingatan meski mulut sudah berhenti teriak. Sehingga, bekas di jengkal tanah ingatan mereka hanya perasaan semu. Sangat semu.

Lalu kita tertawa di penjara itu. Di penjara berdinding kokoh. Berpagar besi.

Kita sama tertawa saat demikian banyak orang bahkan sudah lupa cara tertawa yang benar. Tawa yang benar-benar lepas. Mereka lupa karena terlanjur teriak. Anggapan mereka mungkin sekaligus menjadi ikrar bahwa mereka berhenti tertawa. Benar saja, tidak ada dari mereka yang bisa benar-benar jujur tertawa seperti yang berderai dari kita. Sampai, ketika itu, demikian banyak penghuni penjara lainnya menoleh ke arah kita.

Ha ha ha ha ha!
Kita bisa tertawa jujur, ketika pada saat bersamaan orang-orang tertawa untuk menutupi suara kemunafikan mereka. Kita tertawa tanpa sembunyikan apa-apa.

"Kalian sekarang berada di kerumunan penjahat. Bersikaplah seperti penjahat," sebait satir kau ucapkan di hadapanku dan di hadapan seorang kawan yang sama kurus denganku. Saat menyambangimu di kala sudah jelang senja.

Kita bicara dalam tawa. Kita merdeka tanpa perlu berbusung dada. Benar-benar merdeka. Seperti merdekanya kawan yang menyertaiku, yang kusebut sama kurus denganku itu, membawa kamera ke ruangan pertemuan kita. Sipir penjara ia kecoh untuk bisa memasukkan kamera itu."Kau sudah jalankan sebuah pilihan yang hanya bisa dilakukan penjahat!" derai tawa kita kembali pecah.

Sebentar, aku berkali-kali menatapmu lekat saat itu. Aku melihat matamu. Sebab, aku selama ini berpandangan, siapa saja boleh diam. Mulut boleh diam. Namun, mata akan selalu bicara. Bicara tentang kebeningan. Dalam kebeningan itu kutemukan kejujuranmu. Dan, keberanian.

Aku ingat, kau, dengan bahasamu katakan padaku dan kawan sama kurus denganku,"Kita tidak perlu letakkan siapa-siapa di bawah telapak kaki kita. Tapi, kita juga jangan selalu berada di bawah telapak kaki orang lain."

"Banyak kaki yang membusuk, dan mereka memilih tetap berjalan. Celakanya, di belakang mereka demikian banyak yang mengayun langkah di bekas jejak kaki busuk itu." Lagi, entah untuk kelucuan-kelucuan yang memang terhidang setiap hari di depan kita, atau benar-benar karena kata-katamu. Jelasnya, tawa kembali berderai. Sedangkan, di seberang kita duduk berleha, sekian mantan kaki penguasa tertunduk lesu. Syukurlah, kita tidak terlalu tega untuk tertawakan mereka.
-------------------------------
Catatan sepulang dari Penjara Cipinang, menjenguk seorang sahabat mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?