To Learn and Inspiring

Pengunjung

Politisi Perempuan: Perempuan Boleh Menjadi Budak Seks


Perbudakan seks dilegalkan agar kaum lelaki Kuwait tidak berzina. Dengan memiliki budak seks, mereka terhindar dari godaan perempuan yang bukan istrinya. Itu merupakan kalimat harapan yang dikeluarkan oleh seorang politisi di negeri kaya minyak bernama Salwa al Mutairi (kompas.com).

Tercenung lama, melihat berita itu di depan mata saya. Betapa tidak, ide tersebut keluar dari mulut seorang politisi yang notabene juga seorang perempuan. Menawarkan perempuan lain untuk 'diperlonte' cuma dengan alasan yang teramat sangat sederhana: agar lelaki di negerinya terhindar dari godaan perempuan yang bukan istrinya.

Mengutip Kompas.com, politisi tersebut mengeluarkan alasan bahwa Islam membenarkan perihal itu (perempuan menjadi budak seks). Sebuah potret yang cukup mengundang miris. Agama pun dijadikan sandaran untuk alasan yang tidak waras.

"Itu bukan hal memalukan dan bahkan tidak haram," sebutnya seperti juga ditayangkan di You Tube. Ia mencontohkan salah satu penguasa di Baghdad, Harun ar Rasyid yang menurutnya memelihara sampai ribuan selir.

Menariknya, yang direkomendasikan oleh perempuan Kuwait ini adalah perempuan korban perang di Chechnya dan sekitarnya,"agar mereka juga bisa keluar dari kelaparan (hidup lebih terjamin)."

Membaca berita itu, yang terbetik di pikiran saya, apa yang dipikirkan oleh perempuan korban perang Chechnya andai mereka ketahui itu. Betapa, ini sebenarnya layak disebut penistaan terhadap perempuan (korban perang).

Kalau menyimak lagi dari motif agar lelaki di sana tidak tergoda dengan perempuan lain, kenapa musti yang seperti ini dijadikan statement dan lalu dibaca oleh masyarakat internasional.

Lepas apakah tawaran dari politisi perempuan Kuwait ini bisa disebut sebagai ketololan atau apa pun. Saya melihat ini sebagai sebuah cermin yang boleh jadi 'menuduh' perempuan cuma potensial cuma untuk berada di bawah selangkangan lelaki.

Saya pribadi--sebagai uneg-uneg saja--, melihat ini juga sebagai bentuk sikap perempuan yang cerdas, namun tidak melibatkan hatinya dalam melihat.
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?