dunia lain untuk bicara

10 Juni 2011

Palmerah: Pasar ala Masyarakat Pinggiran

Menuju mesjid yang menyatu dengan pasar Palmerah saat datang subuh. Selalu saja menjadi rutinitas pagi yang menyenangkan. Selain karena ini terasakan oleh saya sebagai penghargaan Tuhan yang telah berikan kesempatan buat saya menghadap-Nya setiap mengawali hari. Juga, karena saya bisa mencium satu aroma lain: aroma semangat mereka yang kerap disebut sebagai masyarakat kecil.


Iya, mereka sering disebut-sebut sebagai masyarakat kecil. Mungkin karena memang mereka tidak memiliki harapan terlalu besar dalam hidup. Bisa memberi makan keluarganya; anak dan istri bisa jadi sudah dirasakan sebagai sesuatu yang terbesar.

Untuk bisa mendapat beberapa lembar rupiah. Pagi-pagi sekali, bahkan jauh sebelum subuh, mereka sudah melangkahkan kaki ke pasar itu. Menggelar tikar plastik. Hamparkan barang dagangannya. Dari raut wajah mereka, meski dalam keremangan, bisa terlihat betapa mereka harus melawan kantuk yang memang cukup menggoda saat pagi seperti ini.
Beriringan dengan lantunan azan subuh di mesjid, mereka bertransaksi dengan pembelinya. Pembeli yang sepertinya memang orang-orang sibuk yang perlu berbelanja pagi-pagi sekali juga.

Menariknya lagi, sebagian dari mereka itu, bisa menyiasati kesibukan pasar pagi itu dengan kewajiban menghadap Tuhan dengan cara cukup menyentuh. Bergiliran dengan suami/istri menuju mesjid untuk sama-sama berkesempatan untuk shalat.

Pemandangan itu cukup menyentuh.

Melihat itu, saya hanya membayangkan, seperti inilah cinta orang tua untuk anak-anaknya. Anak-anak yang pada jam seperti ini mungkin masih meringkuk di tempat tidur. Menikmati angin pagi yang memang cukup membantu mata untuk kian lekat terpejam. Syukurlah, andai anak-anak pedagang kecil ini bisa meniru keuletan bapak ibunya yang bersedia bangun pagi untuk hadapi hidup. Laiknya prajurit saat harus bertempur, berani memunculkan diri pertama sekali di hadapan tantangannya.

Sambil mengayunkan kaki ke mesjid. Mata saya memang saya beri keleluasaan untuk bisa merekam wajah-wajah pedagang itu. Mencari-cari ’sesuatu’ yang bisa saya baca dari wajah mereka. Berharap juga memberi saya pelajaran meski mereka tidak menceramahi saya dengan kata-kata. Toh, rutinitas mereka saban pagi itu sepertinya lebih mampu memberi bekas untuk pikiran dan hati saya daripada sekadar ceramah.

“Ini cabe masih baru.”
“Sandal, Mas. Baju. Celana…”
“Terong, bayem, jengkol…”
“Ini berapa sekilo, bu?”
“Untuk bapak tak kasih murah dah,”

Obrolan khas dalam transaksi. Sepertinya obrolan-obrolan itu cukup membantu mereka juga untuk bisa melawan kantuk yang sedikitnya masih ‘binal’ menggoda mereka.

“Ayuk, pak. Pilih saja sayur yang paling bagus.”
Kalimat-kalimat yang lebih menarik untuk direkam di memori daripada puisi penuh basa-basi. Suara itu, berisi energi. Energi untuk hidup. Kata-kata yang menyiratkan kekuatan. Kekuatan untuk bertahan dan taklukkan ketidakramahan hidup.

Beberapa jenak saat saya sudah larut dalam barisan jamaah shalat. Saya hilangkan bayangan riuhnya pasar itu.

Selesai shalat, pulang. Kembali menatapi pedagang-pedagang pinggiran ini dengan kesibukan mereka. Meneriaki dagangannya. Berharap bisa menarik perhatian pembeli. Mungkin bisa memberi anak-anaknya nasi… dan nasib untuk tidak lagi pucat pasi!

Gambar: Wisnu Widiantoro | Kompas
Posting Komentar
Adbox