To Learn and Inspiring

Pengunjung

Nurbaya Belum Mati


Perempuan itu selalu saja menatapku begitu mendalam. Bukan sekali dua kali saja, tetapi setiap kali aku berpapasan dengannya. Dari sejak pertama sekali aku menetap di kontrakan yang kubayar dengan cara mencicil, di kampung pinggir kota yang pernah dilumat gelombang lapar lautan belakang sana.
Matanya kerap bertumbuk dengan matanya. Kelelakianku bisikkan pengakuan jujur, mata itu memang sangat indah. Mata itu adalah listrik yang menjalari kabel tak terlihat. Sialnya kabel itu pula yang sepertinya membawa arusnya sampai ke kamar tidurku, setiap malam.

Terbayang ia bergumul dengan lelaki yang sebenarnya sudah beristri tiga sebelum menikahi Dara, perempuan yang bermata penuh aliran listrik itu. Merenungi dan mereka-reka, apa yang mungkin melintas di pikirannya sebagai perempuan setiap tubuh lelaki pemiliknya itu menyelimutinya. Ah, pikiranku terlalu liar. Persetan! Toh, meski aku tertarik dengan kecantikan alami perempuan kampung itu. Tetap saja, secarik surat nikah dari penghulu adalah parang jagal yang memutuskan tali hasrat kelelakianku. Meski aku bisa busungkan dada, teriak-teriak bahwa cintaku lebih tulus daripada yang bisa diberi lelaki yang sudah disebut suami oleh Dara. Tidak aka nada yang berubah.

Mencari berbagai cara sampai meringis-ringis dalam shalat malam, agar Tuhan mencabut nyawa lelaki itu. Ini tentu ketololan yang teramat sangat kusadari. Apalagi meminta Pawang Saleh, lelaki tua yang mengerti ilmu hitam yang akrab denganku untuk turun tangan tangan. Oh, tidak! Aku lelaki yang masih waras. Soal rasa tidak akan kubiarkan menyulap cinta menjadi lumpur yang kotori aliran sungai bening nuraniku!
Iya, setelah tiga bulan aku di sana, Dara memilih berani bicara padaku dan terus terang dengan perasaannya dari sejak melihatku.
“Aku yakin, kau tahu perasaanku dari tatapanku padamu? Aku memang merasakan itu. Aku memang merasakan cinta yang teramat kuat padamu. Jauh melebihi perasaanku pada lelaki yang sudah membuatku lahirkan si kecil ini.”

Pengakuan yang nekad ia ucapkan di depan bayi berusia tujuh puluh hari, buah cintanya dengan lelaki yang sering diam-diam kusebut Datuk Maringgih. Ia perempuan berani. Ia bahkan memang berani ucapkan itu di sebuah tempat yang sama sekali tidak tersembunyi. Tempat yang juga menjadi jalan satu-satunya untuk orang kampungnya, dipilihnya untuk tidak mengundang kecurigaan.

Aku tidak menyahuti dengan kalimat penegas bahwa aku juga memiliki perasaan cinta teramat kuat padanya. Tidak, aku memilih untuk tidak tegaskan itu padanya. Aku tahu, perempuan yang memiliki rasa cenderung langsung tidak peduli apa-apa lagi jika yang menjadi tambatan hatinya memberi lampu hijau.
Aku menjadi lelaki autis seketika. Tidak bisa katakan apa-apa. Iya, aku memiliki perasaan yang tidak sedikitpun beda dengan yang ia rasa. Justru, aku tiba-tiba jadi tukang khutbah;

“Aku tahu, kau perempuan. Seperti halnya perempuan, kau tidak bermain-main dengan perasaan itu.Tapi kau harus tahu, ada pernikahan yang mengikatmu dengan ayah anak ini. Ikatan itu melibatkan nama Tuhan, Dara. Kau kesampingkan saja perasaan itu. Singkirkan rasa itu…”
“Tapi…”
“Ingat, Dara. Kau harus bawa dalam pikiran dan hatimu, bayi ini sebagai anak yang lahir dari keringatmu dan keringat lelaki itu. Juga ingat lagi aroma keringat cinta suamimu itu saat menyatu dengan keringatmu setiap kalian bercinta. Aku tahu, perempuan sering kali lebih terkesan pada lelaki pertama yang menyentuhnya!”

Beberapa jenak, hening saja.

“Kau tidak punya perasaan. Aku juga tahu kau punya perasaan sepertiku. Kau juga mencintaiku, bukan? Kenapa kau tidak mau mengakuinya???”
“Uhm, maksudku…”
“Tidak! Kau tidak perlu jelaskan ini dan itu. Kau harusnya tahu dan bisa merasakan, kalau aku membayangkan kau akan berani untuk membawa aku lari. Lari sejauh-jauhnya, ke tempat yang tidak pernah dikenal sesiapa juga. Aku yakin kau bisa karena kau lelaki. Kenapa kau tidak lakukan itu!”
Aku merasa sedang berada di pengadilan mendengar kata-katanya yang sudah mulai mengalir bersamaan dengan air mata. Beberapa menetes di wajah bayi di dekapannya. Melihat mata bayi itu, aku malah merenung andai saja bayi ini tahu apa yang sedang terjadi antara aku dengan ibunya itu.

Syukurlah, azan magrib dari meunasah (mushalla) membantu air matanya untuk buru-buru ia seka. Dan, tentu saja menghentikan juga kalimat-kalimat dari bibirnya yang kerap kulamunkan menyatu dengan bibirku itu.  Meski senja itu, ia tidak dapatkan jawaban apa-apa dariku, kecuali pendapatku yang lebih mirip khutbah. Alasan-alasanku pasti tidak diterimanya. Bagaimana tidak, meski mulutku isyaratkan penolakan dengan kata-kata berpetuah, tapi hatiku inginkan dia. Aku yakin, ketidak-selarasan mulut dan hatiku itu mustahil bisa mengendap di hatinya untuk kelak bisa hentikan niatnya kuperistri.

***

Dara berumur enam belas tahun saat ia harus menikah. Di kampung itu, ia satu-satunya perempuan yang paling cantik. Aku tahu cerita itu dari Paijal, remaja tanggung anak tetangga yang kerap membantuku habiskan batang-batang rokokku.

“Ayahnya memiliki hutang pada suaminya itu. Jadi, ayahnya tawarkan Dara untuk diperistri dengan maskawin berupa hutang yang sudah tidak sanggup terbayar itu.” Cerita Paijal sama sekali tidak dibumbui untuk sedikit terdengar dramatis olehku. Telanjang saja cara Paijal menceritakannya.

Aku mencoba berhitung. Bukan hanya menghitung berapa batang sudah rokokku dituntaskan Paijal, namun juga jarak usiaku dengan Dara. Dengan bayi kecilnya yang baru beberapa bulan, aku nyaris bisa pastikan sekarang Dara belum sampai dua puluh tahun. Sangat muda. Ingin rasanya mendebat Tuhan sejujur-jujurnya, kenapa yang sudah pernah mendapatkan keperawanan dari istri sebelumnya, lelaki itu masih bisa dapatkan yang lain lagi. Sedang aku?

Ah, aku penakut. Aku memang takut Tuhan memberi  jawaban dengan cara-Nya. Cara yang tidak pernah bisa kuterka. Bahkan memang lebih sering Dia memberi  jawaban dengan memberi masalah yang benar-benar sangat tidak pernah kuharap. Sampai, aku pernah menyimpulkan, Tuhan itu menyenangi teka-teka sepertinya. Sayangnya, aku baru menguasai tertatih-tatih, hanya teka-teki silang yang ada di Koran-koran. Dua teka-teki yang beda, namun keduanya menuntut jawaban.

Memang iya, yang kerap berkelebat di pikiranku tidak hanya ingin membawa lari Dara sejauh-jauhnya. Akan tetapi aku merasa ingin juga untuk malah membunuh suaminya, saat cintaku untuk Dara kian hari semakin bertumbuh. Alasanku, setiap kelak aku bersama dengan Dara, lelaki itu benar-benar tidak akan pernah terlihat lagi. Sebab kalaupun aku sering menyebut ke dalam pikiranku untuk membawanya lari sejauh-jauhnya, tetap saja tidak jauh-jauh sekali dari kampung ini. Apalagi, aku bukanlah lelaki yang terlalu berani juga untuk berada di kampung-kampung yang jauh dari kota ini. 

***

Pulang ke kontrakan yang pintunya tidak pernah kukunci itu. Aku duduk beberapa menit di kursi depan. Kepulkan asap rokok. Sesekali kuciptakan bulatan-bulatan asap yang kemudian pecah di udara. Menatap tanah kosong yang begitu luas di depan. Tanah itu membuatku terasa tersindir.

Iya, tanah kosong yang demikian luas yang dimiliki penduduk kampung ini tidak ada yang menggarapnya. Katanya, dulu itu memang pesawahan yang setelah tsunami datang beberapa tahun lalu tidak ada lagi yang memanfaatkan. Padahal terlalu banyak yang bisa ditanami di sana, kukira. Ada kemiripan tanah itu denganku. Sebuah kemiripan yang bertolak belakang. Namun tetap kusebut mirip.

Tanah itu setidaknya sudah pernah dipakai. Tanah itu sudah pernah merasakan seperti apa rasanya cumbuan cangkul di tubuhnya. Sedang aku, lajang yang belum pernah pergunakan cangkulku! Walaupun sering berdalih bahwa aku masih kuat ke kawan-kawanku yang kerap usil tanyakanku kapan menikah. Lengkap dengan tambahan jawaban,”Pernikahan itu perlu segera dilakukan oleh mereka yang memiliki kesabaran tipis. Aku masih kuat menahan gempuran birahi!” Entah mereka teryakinkan dengan kilahku itu. Hanya saja, aku sendiri tidak bisa meyakini kata-kata sendiri. Sebab, kalimat itu kerap kuluncurkan hanya untuk menutup pertanyaan, kapan kau nikah.

Setelah api rokok kedua kupadamkan dengan menempelkan ke kaki kursi kayu itu. Bersegera masuk ke dalam. 

Tercekat.

Dara terduduk di kamarku dan bersandar di dindingnya. Entah berapa lama sudah dia berada di sana dan bagaimana ia bisa masuk ke sini. Walaupun memang pintu kontrakan ini tidak pernah kukunci, namun penduduk kampung ini biasanya selalu awas untuk hal-hal seperti ini. Jangan pernah berharap akan ada pecinta yang berani ke rumah siapa pun yang dicintainya di kampung ini. Mereka sudah ciptakan garis yang tidak boleh dilewati. Berdekatan saja dengan lawan jenis di tempat-tempat yang tidak umum, maka palu tudingan maksiat akan langsung jatuh. Disusul arak-arakan massa dengan wajah-wajah garang pemuda kampung. Selanjutnya, air comberan pun bisa menjadi pengganti aroma parfum di tubuh sebagai jawaban jatuhnya palu tuduhan.

Aku berdiri saja di pintu. Aku berkali-kali harus akui, aku pengecut. Cinta tidak bisa membuatku seketika menjadi pemberani, seperti halnya disebut-sebut banyak filsuf; cinta mengubah penakut menjadi pemberani. Aku malah bermain-main dengan bayangan kejadian yang kubaca di Koran-koran. Tentang orang-orang yang dihakimi massa. Disidang di tengah-tengah penduduk yang tidak pernah memusingkan hukum yang seharusnya. 

Hukum adat adalah hukum yang termudah untuk mereka jadikan pilihan. Hukum adat  yang mudah mereka pelintir. Untuk kemudian dijadikan obat penenang, bahwa di dapur mereka sudah tidak ada lagi beras untuk dimakan anak istrinya. Juga berbagai masalah hidup yang mendera lainnya diakibatkan kemiskinan mereka. Dan, malangnya, orang-orang yang berhasil mereka hakimi sudah dipandang sebagai obat penenang itu! Itu yang selama ini kulihat sebagai latar keberingasan yang kubaca di koran-koran. Paijal, pernah menyebut, kampung ini bisa membuat orang tidak berani bermacam-macam, karena dulu juga melakukan hal itu. Entahlah.

Sekarang Dara sudah tersadar dari keterpakuannya , tidak lagi bersandar di dinding kamarku. Tetapi, ia sudah memeluk kakiku. 

Sejurus kemudian, aku merasakan dadanya terguncang-guncang. Dara terisak. Sedangkan aku, paling tidak tahan mendengar isakan tangis perempuan. Terenyuh.
Aku juga memilih untuk berlutut.

“Bawa aku…” sangat lirih suaranya,”bawa aku… atau kau bunuh saja aku kalau kau masih memilih bertahan dengan perasaanmu!”
Matanya yang sudah dihiasi air mata benar-benar membuatnya makin terlihat indah. Sekarang aku tahu, air mata perempuan memang diberi Tuhan untuk kian memperindah mata mereka.
Terbawa perasaan. Sampai tidak ada lagi jarak antara bibirku dengan bibirnya. Tenggelam. Entah apa nama yang tepat untuk samudera ini. 

“Tuntaskan!” Dara meminta sesuatu yang paling menentukan. Aku bukan pemberani, aku masih tetap seorang lelaki penakut. Matanya sudah menyiratkan desakan. Ia mendesak aku untuk tuntaskan. Ini birahi, bukan sekadar cinta. 

Aku tidak bisa memahami. Tetapi aku akan mengiyakan andai aku disebut sebagai lelaki tidak waras, karena alasan tidak memberinya satu hal, kelaminku. Padahal, semua yang ada di tubuh Dara akan diakui oleh semua lelaki di seluruh penjuru mata angin: tubuhnya sempurna.

Tidak! Cinta tidak melulu soal penyatuan dua kelamin. Kedewasaan juga tidak hanya diukur dari keberanian memberikan sesuatu yang termahal pada lelaki: kelaminnya sebagai simbol kehormatannya. Aku lelaki kampung. Aku lelaki kampung yang masih percaya dengan hal-hal yang oleh banyak orang disebut sebagai sesuatu yang remeh. Bahkan kawan-kawan dekatku sebagian besar memilih untuk menggauli kekasihnya terlebih dahulu agar mahar untuk ia bisa menikahinya bisa jauh lebih rendah. Penegas, bahwa kehormatan pun sudah menjadi hal remeh. Aku memilih untuk tidak meremehkannya.
Saat aku sudah bergeser menjauh dari tubuhnya yang setengah terbuka.

“Dani, selesaikan ini!” suaranya sudah tidak lagi berupa bisikan seperti sebelumnya tadi yang sempat membuat birahiku meninggi. Ia malah mengulangi permintaannya itu. Sebuah permintaan yang menurutku gila. Pikiran kolotku menyebut itu gila. Tidak! Cinta tidak diberikan untuk yang gila. Orang-orang gila tidak akan pernah bisa merasakan cinta. Aku yakini itu walaupun penyair menyebut pecinta yang sebenarnya adalah mereka yang memilih untuk gila demi cintanya.

Suara Dara sudah menjadi teriakan. Ia histeris.
Ini tidak boleh terjadi. Kalau sampai diketahui orang-orang sekampung, aku pasti harus menerima aib berupa tudingan yang bisa dipastikan berlebihan dari yang seharusnya.

Tangan kekarku sudah membekap mulutnya. Maksudku hanya untuk membuat ia tidak berteriak.
Kubekap kuat. Dara meronta. Membuat tanganku harus kian kuat menutupi mulutnya dari sisi belakang kepala perempuan ini.

Beberapa menit Dara masih mencoba meronta. Aku masih tidak melepaskan karena ketakutan ia akan berteriak lagi. Kukira cintanya padaku sudah membuat ia benar-benar gila.
Tunggu! Dara sudah tidak lagi meronta. Ia diam. Dara benar-benar terdiam! Aku alihkan inderaku yang dari tadi yang hanya lebih memperhatikan kemungkinan penduduk kampung mendatangi kontrakan ini. Akibat tercekam ketakutan kuat pada bayangan palu sidang mereka.
Aku mulai perhatikan wajah Dara.

“Tidak! Dara belum mati! Jangan … jangan mati.”
Mata Dara yang melotot cukup menjadi penjelas: Dara benar-benar mati!
“Tidak! Dara belum mati. Ayo, jangan mati. Hidup lagi… Dara!!!”
“Aku nanti pasti nikahi kau, Dara. Hidup lagi Dara!” Sudah tidak kupedulikan seberapa keras sudah teriakanku. Teriakan untuk membantah keyakinan bahwa  Dara memang sudah benar-benar mati. Sekaligus teriakan yang kukira bisa membuat Tuhan berlunak hati untuk hidupkan lagi.
“Dara, kau bukan istri dia. Kau akan kujadikan istriku! Bernafaslah sayang!” Histerisku melebih histerisnya tadi.
“Dara! Kau belum mati!!!”

Plakkk!
Buk!
Ah, pemuda-pemuda kampung itu sudah benar-benar hadir ke kontrakanku, ke kamarku ini. Benar-benar tanpa kusadari sama sekali.

Tendangan di kepala. Punggung. Nyawaku terasa hilang saat salah satu dari mereka mengayunkan kaki sekeras-kerasnya ke arah kelaminku. Sekali. Dua kali. Mereka terus menerus arahkan kaki ke kelamin yang tadi kutolak berikan untuk Dara.

Beberapa lama, aku masih bisa merasakan seperti apa sakitnya pukulan mereka. Setelah pukulan yang sudah tidak bisa kuhitung lagi. Semuanya gelap sudah. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku merasa terbang. Jauh. Sangat jauh. Sepertinya ini benar-benar perjalanan yang sejauh-jauhnya yang bakal kutempuh.
-------------------------
Tentang Penulis:
Zulfikar Akbar: Pegiat media di Kompas Cyber  Media. Salah seorang penulis buku Hasan Tiro: Unfinished Story of Aceh, dan 2 antologi puisi Kemayaan dan Kenyataan dan Antologi Tsunami Kopi. FB: facebook.com/zoelf.achbar | Twitter: @zoelfick | YM: fick_cyber | Blog http://fick-cyber.blogspot.com

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?